Pakan Mahal, Pembudidaya Ikan Krayan Mulai Beralih ke Maggot dan Lemna

  • 07 Sep 2026 16:34 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Mahalnya harga pakan pabrikan menjadi tantangan bagi Kelompok Pembudidaya Ikan Air Tawar Mas Muda di Desa Buduk Tumu, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Di tengah tingginya biaya logistik di wilayah perbatasan, kelompok ini mulai mencari cara agar kebutuhan pakan ikan tidak sepenuhnya bergantung pada produk pabrikan.

Setiap bulan, kelompok yang berdiri sejak 2023 tersebut dapat menghabiskan sekitar 20 karung pakan pabrikan. Besarnya kebutuhan itu membuat kenaikan harga pakan ikut menekan biaya produksi budidaya ikan mereka.

“Pakan pabrikan sangat berpengaruh karena harganya semakin mahal,” ujar Ketua Kelompok Mas Muda, Novri, Senin (7/9/2026).

Kelompok Mas Muda saat ini membudidayakan ikan mas, nila, dan lele jumbo. Dalam sekali panen, produksi ikan kelompok tersebut mencapai sekitar 50 kilogram yang kemudian dipasarkan dari rumah ke rumah serta melalui kios pedagang daging ayam dan ikan.

Kondisi tersebut mendorong anggota kelompok mulai melirik bahan pakan yang bisa diperoleh dari lingkungan sekitar. Peluang itu mereka dapatkan setelah mengikuti pelatihan pembuatan pakan ikan berbahan baku lokal yang digelar Balai Taman Nasional Kayan Mentarang pada 4 hingga 5 Juli 2026 lalu.

Salah satu pengetahuan baru yang diperoleh anggota kelompok adalah pemanfaatan maggot Black Soldier Fly (BSF) dan Lemna (duckweed) sebagai bahan pakan ikan. Kedua bahan tersebut dinilai berpotensi dikembangkan sendiri oleh masyarakat sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan.

“BSF dan Lemna adalah sumber protein yang sangat mungkin dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat, bahkan dengan memanfaatkan limbah organik dan lahan basah yang ada di sekitar desa,” ujar Guru Besar Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Prof. Ir. Ramadhani Eka Putra, S.Si., M.Si., Ph.D., yang menjadi narasumber pelatihan.

Menurut Ramadhani, pemanfaatan maggot dan Lemna tidak hanya berpeluang menekan biaya produksi pakan. Pengembangan kedua bahan tersebut juga dapat membantu masyarakat memanfaatkan limbah organik dan potensi lahan basah yang tersedia di sekitar desa.

Dalam pelatihan tersebut, anggota kelompok tidak hanya mendapat materi mengenai kebutuhan nutrisi ikan, tetapi juga langsung mempraktikkan pembuatan pakan. Mereka belajar menghitung komposisi bahan, menimbang dan mencampur bahan baku, mencetak pakan, hingga proses pengeringan dan penyimpanan.

Bagi Novri, materi mengenai budidaya maggot menjadi salah satu hal yang paling menarik. Setelah mengikuti pelatihan, ia bersama anggota kelompok mulai memahami cara mengembangkan maggot secara bertahap untuk mendukung kebutuhan pakan ikan.

“Kami bersyukur karena dari pelatihan ini kami dapat memahami bagaimana membudidayakan maggot secara bertahap,” katanya.

Novri melihat pemanfaatan maggot dan Lemna sebagai peluang untuk mengurangi beban biaya pakan yang selama ini menjadi salah satu kebutuhan terbesar dalam usaha budidaya ikan. Namun, ia menyebut kelompok masih membutuhkan pendampingan agar bahan tersebut bisa dikembangkan menjadi pelet secara mandiri.

“Ini yang sangat dibutuhkan sekali bagi kelompok sekarang ini untuk membuat pakan mandiri,” katanya.

Untuk itu, Novri berharap pendampingan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dilanjutkan dengan pengembangan maggot dan Lemna hingga menjadi bahan baku pelet ikan. Ia ingin kemampuan yang diperoleh kelompok dapat benar-benar diterapkan dalam kegiatan budidaya sehari-hari.

“Supaya kegiatan ini ke depan ada kelanjutannya, yaitu pembuatan pelet dari bahan maggot,” harapnya.

Sebagai dukungan awal, Balai Taman Nasional Kayan Mentarang telah memberikan bibit maggot dan Lemna serta kandang jaring untuk indukan lalat BSF kepada kelompok. Bantuan tersebut diharapkan menjadi modal awal bagi masyarakat untuk mulai memproduksi sumber pakan alternatif di tingkat desa.

Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Seno Pramudito, S.Hut., M.E., mengatakan pendampingan tersebut merupakan bagian dari upaya Balai TNKM dalam membantu masyarakat di kawasan penyangga mengembangkan usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

“Pelatihan ini merupakan salah satu bentuk komitmen kami mendampingi masyarakat di kawasan penyangga, khususnya kelompok binaan seperti KTH Mas Muda, agar dapat mengembangkan usaha budidaya ikan air tawar secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Seno.

Seno berharap kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk ITB, dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat. Menurutnya, penguatan ekonomi masyarakat di kawasan penyangga juga penting untuk mendukung pengelolaan kawasan taman nasional secara berkelanjutan.

“Kami berharap kolaborasi dengan berbagai pihak seperti ITB dapat terus berlanjut, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mengurangi tekanan terhadap sumber daya di dalam kawasan taman nasional,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....