Suku Tidung Lestarikan Ritual Bejiu Sapor Tolak Bala
- 12 Agt 2026 08:40 WIB
- Nunukan
Poin Utama
- Ritual Bejiu Sapor menjadi tradisi sakral masyarakat Tidung untuk menolak bala pada Rabu terakhir bulan Safar.
- Tradisi ini diyakini masyarakat Tidung sebagai ikhtiar menjaga kampung dari marabahaya selama satu tahun.
- Ketupat, kopi, dan latup memiliki makna simbolis dalam pelaksanaan ritual Bejiu Sapor.
RRI.CO.ID, Nunukan - Suku Tidung melestarikan ritual Bejiu Sapor sebagai tradisi sakral untuk menolak bala. Ritual tersebut dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Safar setiap tahunnya.
Bejiu Sapor dilaksanakan masyarakat Tidung di Kalimantan Utara, Malaysia, Filipina dan Brunei Darussalam. Masyarakat Tidung meyakini ritual tersebut dapat menghindarkan kampung dari berbagai marabahaya. Hal ini disampaikan Koordinator Lembaga Adat Tidung Kabupaten Nunukan, H. Sura’i, Rabu (12/08/2026).
“Bejiu Sapor adalah sebuah ritual suku kaum Tidung yang sangat disakralkan, baik yang berada di lima kabupaten, kota di Kalimantan Utara maupun yang di Malaysia, Filipina dan di Brunei Darussalam. Bejiu Sapor ini dilaksanakan pada bulan Safar, hari Rabu terakhir. Jadi karena konon menurut orang Tidung saat itulah bala akan banyak turun,” ujarnya.
Ritual tersebut menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat Tidung menjaga keselamatan pribadi dan lingkungan tempat tinggal. Pelaksanaan Bejiu Sapor juga dipercaya membawa hasil yang baik bagi tanaman dan perkebunan masyarakat.
Selain ritual, masyarakat Tidung melaksanakan makan bersama dengan hidangan ketupat, latup dan kopi. Ketiga hidangan tersebut memiliki makna simbolis dalam tradisi Bejiu Sapor.
“Maka dilaksanakan ritual Bejiu Sapor untuk menolak bala, menghilangkan sengkala dan bencana, baik kepada pribadi kita maupun yang akan turun, yang akan melanda kampung maupun daerah kita. Sehingga dengan dilaksanakan Bejiu Sapor maka orang Tidung sudah berkeyakinan satu tahun ke depan perkampungannya atau daerahnya itu akan selamat dari marabahaya dan membawa hasil-hasil yang baik kepada tanaman mereka maupun perkebunan-perkebunan mereka,” katanya.
Makna setiap hidangan dalam Bejiu Sapor berkaitan dengan harapan masyarakat terhadap kehidupan dan hasil panen.
“Pada saat Bejiu Sapor juga dilaksanakan makan bersama yaitu berupa ketupat, kemudian ada latup. Latup itu dari beras yang disangrai dan selalu ada kopi. Apa maknanya ketupat dari beras itu menandakan bahwa hasil panen kita insya Allah selalu berlimpah, kemudian kalau dia kopi itu adalah lambang daripada sebuah penyejukan atau hati yang tenang, yang bagus dan latup tadi, latup atau beras yang disangraikan itu ringan,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....