Ketahui Apa Itu Bridezilla?

  • 20 Nov 2025 11:39 WIB
  •  Kupang

KBRN,Rote: Merencanakan pernikahan seharusnya menjadi momen penuh kebahagiaan, namun tidak sedikit calon pengantin yang justru berubah menjadi sangat perfeksionis dan mudah marah. Istilah untuk menggambarkan kondisi ini adalah bridezilla. Kata ini berasal dari gabungan kata bride (pengantin wanita) dan Godzilla, menggambarkan sosok calon pengantin yang berubah menjadi “monster” karena tekanan menjelang hari pernikahan.

Bridezilla biasanya muncul ketika seorang calon pengantin memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadap segala detail pernikahan. Mulai dari dekorasi, busana, undangan, hingga peran anggota keluarga dan teman-teman, semuanya harus sesuai dengan keinginannya. Bila ada hal kecil yang tidak berjalan sesuai rencana, ia cenderung mudah tersinggung dan bereaksi berlebihan.

Fenomena bridezilla tidak muncul begitu saja. Tekanan sosial, budaya, serta keinginan untuk mewujudkan pernikahan sempurna dapat menjadi pemicu utama. Media sosial juga berperan besar, karena sering kali calon pengantin membandingkan pernikahannya dengan milik orang lain yang terlihat begitu mewah dan ideal. Akibatnya, ia menjadi lebih stres dan terobsesi mengontrol segalanya.

Perilaku bridezilla dapat menimbulkan dampak negatif terhadap hubungan pribadi. Keluarga, sahabat, bahkan pasangan bisa menjadi sasaran kekesalan. Konflik yang muncul dapat menciptakan jarak emosional, padahal masa-masa menjelang pernikahan seharusnya mempererat hubungan. Bila tidak disadari, perilaku ini dapat memengaruhi suasana hari pernikahan itu sendiri.

Namun, penting dipahami bahwa tidak semua calon pengantin yang tampak perfeksionis adalah bridezilla. Kadang mereka hanya merasa terbebani oleh banyaknya keputusan yang harus dibuat. Bedanya, bridezilla menunjukkan pola perilaku yang dominan, seperti mudah marah, sulit menerima masukan, dan ingin mengendalikan seluruh aspek pernikahan tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.

Untuk mencegah munculnya sifat bridezilla, calon pengantin perlu mengenali batas kemampuan diri. Menggunakan jasa wedding organizer, meminta bantuan keluarga, dan membuat daftar prioritas dapat membantu meringankan beban. Selain itu, penting untuk mengambil waktu istirahat dan tetap menjaga komunikasi sehat dengan pasangan agar perencanaan pernikahan tetap berjalan menyenangkan.

Pada akhirnya, pernikahan bukan hanya tentang acara satu hari yang harus sempurna, tetapi tentang perjalanan membangun kehidupan bersama. Dengan mengelola stres dan ekspektasi sejak awal, calon pengantin dapat menikmati proses dengan lebih tenang dan penuh kebahagiaan, tanpa berubah menjadi bridezilla yang menakutkan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....