Semua yang Usul Legalisasi Ganja Patut Dicurigai

Diskusi Pro Kontra RRI PRO3 di Studio Pro3 RRI, Pusat Pemberitaan Lantai 7, Gedung RRI Jakarta, Medan Merdeka Barat 4-5, Minggu, 30 Agustus 2020 malam (Tangkap Layar RRI NET)

KBRN, Jakarta: Ketua Dewan Pembina Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Komjen Pol (Purn) Togar Sianipar mengungkapkan, beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mendukung legalisasi (melegalkan) ganja di Indonesia.

"Ini menggelikan bagi kami. Malah kami curiga, apa maksudnya ini? Padahal saat kami mengikuti pengesahan Undang Undang Narkotika tahun 2009, semua lancar. Apakah orang-orang ini disusupi? Apakah orang-orang ini masih punya nasionalisme atau tidak?" ujar Togar Sianipar dalam Pro Kontra RRI-PRO3, Minggu (30/8/2020) malam.

Dirinya juga mempertanyakan apakah mereka yang mengusulkan dan mendukung legalisasi ganja di Indonesia ini masih memiliki rasa cinta akan tanah air atau tidak. 

BACA JUGA: Legalisasi Ganja Rasuki Jalur Politik Indonesia?

Menjadi ke arah sana, karena sesuai undang-undang, ganja sudah masuk golongan I narkotika yang sangat berbahaya. Konvensi Tunggal PBB 1961 Tentang Narkotika dan Obat-obatan Terlarang juga sudah menempatkan ganja sebagai kelompok tanaman yang dilarang untuk dibudidayakan. Bahkan semua negara ASEAN kompak menolak legalisasi ganja dan sudah disampaikan ke WHO.

Lalu kenapa ada oknum politisi bahkan sampai seorang menteri di kabinet saat ini berani mengusulkan legalisasi ganja? Inilah yang menjadi dasar pertanyaan Togar, apakah masih ada rasa cinta tanah air. 

"Di Indonesia banyak sekali tanaman-tanaman yang dapat menjadi bahan atau sumber obat, kenapa pilih ganja? Masih punya kecintaan tanah air gak? Apakah mau generasi muda hancur? Sudah tahu ganja narkotika golongan I yang sangat berbahaya, kenapa masih setuju dibudidayakan?" tandas Togar.

Memperkuat Togar Sianipar, Ketua Dewan Pakar Granat Komjen Pol (Purn) Ahwil Lutan mengingatkan, bahwa mengacu pada Konvensi Tunggal PBB tahun 1961, kemudian Undang Undang Narkotika No.9 Tahun 1976, UU Narkotika No.22 Tahun 1997, sampai UU Narkotika No.35 Tahun 2009, sudah sangat tegas melarang tanaman ganja dari akar, daun, bunga, biji, sangat tidak boleh digunakan.

BACA JUGA: Menteri Usul Melegalkan Ganja, Rakyat Murka

"Inilah yang jadi pegangan sampai saat ini. Golongan I (ganja) tidak bisa untuk obat-obatan. Kalaupun mau digunakan, harus ada keputusan dari WHO. Ini untuk kepentingan rakyat menolak ganja," tegas Ahwil.

Sementara itu, Koordinator Advokasi dan Kampanye Aksi Keadilan Indonesia, Johan Misero, sebagai salah satu LSM yang mendukung legalisasi ganja di Indonesia mengungkapkan, melegalkan bukan dalam artian secara masif hingga nantinya akan disalahgunakan.

Akan tetapi lebih kepada bagaimana ganja ini dapat menjadi penawar atau obat bagi manusia yang mengalami penyakit tertentu dan sudah tidak dapat disembuhkan kecuali menggunakan ganja.

"Concern kami, pasien yang membutuhkan diberi akses. Ini bukan dalam konteks legalisasi ganja secara masif," ujar Johan Misero.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar