Tajin Sora: Tradisi Kearifan Lokal Masyarakat Madura
- 28 Jun 2025 09:35 WIB
- Sumenep
KBRN, Sumenep: Tajin Sora merupakan bubur khas yang disajikan oleh masyarakat Madura, khususnya di wilayah Kabupaten Sumenep, pada bulan Muharram atau "Bulan Suro". Makanan ini bukan hanya sekadar sajian kuliner, melainkan bagian dari tradisi dan spiritualitas masyarakat yang mengakar kuat dalam budaya Islam lokal.
Tajin Sora berasal dari dua kata: tajin berarti bubur, dan sora merujuk pada bulan Suro (Muharram). Tradisi pembuatan dan pembagian bubur ini lazim dilakukan pada malam 10 Muharram (Asyura), sebagai bentuk rasa syukur dan peringatan atas peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam, namun tidak jarang ada yang memulainya dari tanggal 1 Muharram.
Dalam masyarakat Madura, tajin sora disimbolkan sebagai bentuk “sedekah keselamatan” dengan harapan agar diberi kesehatan, umur panjang, serta dijauhkan dari bala. Makanan ini biasanya dibagikan kepada tetangga, sanak keluarga, anak yatim, atau siapa saja yang membutuhkan.
Salah seorang pembuat tajin sora di Sumenep yang juga Owner Catering Suwarni, Iyat membagikan resep pembuatan tajin sora. Dengan bahan yang sederhana namun cita rasa mewah.
“Sebenarnya membuat tajin sora ini mudah, hanya saja kadang masyarakat malas membuatnya, sehingga lebih praktis dengan memesan. Untuk komposisi tajin sora secara umum, bahan dasarnya adalah beras yang dimasak dengan air dan santan sampai lunak menjadi bubur, tambahi sedikit garam agar rasanya lebih gurih. Untuk toping sebenarnya sesuai selera, kalau saya biasanya pakai irisan telur dadar, telur rebus, irisan seledri dan cabe serta taburan kacang goreng yang membuat tatanannya terlihat cantik,” katanya menjelaskan, ketika ditemui di tempat usahanya yang beralamat di Kepanjin, Sumenep.
Yang menjadi beda, tajin sora buatan perempuan yang akrab disapa mbak Iyat ini adalah di kuahnya. Kuah lodeh khas Catering Suwarni, dengan campuran kaldu sapi, irisan dagingnya tebal dan ada ‘karopok orak’ serta sedikit udang, sehingga membuat cita rasa tajin orak semakin nikmat.
Tajin sora juga berfungsi sebagai media untuk memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat. Pembuatannya dilakukan secara gotong-royong dan pembagiannya mengedepankan nilai keikhlasan dan silaturahmi.
Tradisi Tajin Sora merupakan contoh konkret dari akulturasi Islam dan budaya lokal yang memperkuat nilai sosial, seperti tolong-menolong, solidaritas, dan penghargaan terhadap waktu-waktu istimewa dalam Islam. Menjaga tradisi kuliner seperti Tajin Sora bukan sekadar soal makanan, tapi juga menjaga jati diri dan sejarah lokal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....