Basarnas Beberkan Risiko Penyelaman KM Virgo: Gelap, Debris, hingga Kontaminasi
- 04 Okt 2026 11:27 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Tim penyelam gabungan telah mengevakuasi, 50 jasad korban kecelakaan KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa hingga hari ke-21 operasi SAR.
- Kepala Basarnas, Mohammad Syafii mengatakan, penyelaman menjadi salah satu metode penting dalam proses pencarian dan evakuasi korban.
- Penyelaman merupakan salah satu upaya penting dalam proses pencarian dan evakuasi korban.
RRI.CO.ID, Jakarta - Tim penyelam gabungan telah mengevakuasi, 50 jasad korban kecelakaan KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa hingga hari ke-21 operasi SAR. Proses pencarian bawah air tersebut, berlangsung dalam kondisi penuh keterbatasan, mulai dari cuaca, kondisi bangkai kapal, visibilitas rendah, hingga risiko keselamatan penyelam.
Kepala Basarnas, Mohammad Syafii mengatakan, penyelaman menjadi salah satu metode penting dalam proses pencarian dan evakuasi korban. Dalam pelaksanaannya, tim rata-rata melakukan empat hingga lima sortie setiap hari dengan dua sampai tiga tim yang masing-masing terdiri atas lima penyelam.
“Penyelaman merupakan salah satu upaya penting dalam proses pencarian dan evakuasi korban. Dari hasil evaluasi pelaksanaan penyelaman, dilaksanakan rata-rata empat sampai lima sortie per hari,” kata Syafii dalam konferensi pers seperti dilansir Antara, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dikutip Minggu, 4 Oktober 2026.
Penyelaman mulai dilakukan sekitar hari ketiga, setelah kecelakaan pada Minggu, 13 September 2026, dengan waktu operasi pukul 09.00-16.00 WITA. Hingga hari ke-21, metode tersebut telah menghasilkan evakuasi 50 korban dalam kondisi meninggal dunia dari dalam kapal.
“Metode penyelaman memberikan kontribusi yang signifikan terhadap proses pencarian dan evakuasi korban. Meskipun pelaksanaannya dihadapkan pada keterbatasan kondisi cuaca maupun kondisi lokasi pelaksanaan operasi SAR underwater,” ucapnya.
Basarnas, kata Syafii, mencatat risiko penyelaman semakin tinggi ketika personel harus masuk lebih jauh ke bagian dalam kapal. Para penyelam, melakukan penetrasi sekitar 10-15 meter, tetapi pergerakan lebih jauh terhambat oleh banyaknya barang, material, dan debris.
“Beberapa jendela sudah dibuka dan dapat dimasuki penyelam. Namun setelah hari ke-19 operasi SAR tidak ditemukan lagi korban dari akses tersebut,” ujarnya.
Kondisi struktur kapal, ia menuturkan, juga menjadi ancaman bagi keselamatan penyelam. Karena, posisi bangkai kapal masih dapat mengalami perubahan trim dan kemiringan.
"Perubahan posisi yang terjadi secara tiba-tiba dikhawatirkan membahayakan penyelam yang sedang berada di dalam kapal. Risiko lainnya berasal dari visibilitas yang sangat rendah akibat sedimen dan debris di dalam maupun sekitar bangkai kapal," katanya.
Selain itu, ia menegaskan, banyak benda tajam di dalam kapal berpotensi menyebabkan luka atau cedera bagi penyelam. Tim juga menghadapi potensi bahaya kimia akibat tumpahan minyak dan kontaminasi lainnya yang berada di lokasi.
"Pada kedalaman sekitar 27 meter, keterbatasan gas turut menentukan durasi penyelaman. Dengan menggunakan peralatan Scuba, waktu kerja penyelam diperkirakan tidak lebih dari 20 menit untuk setiap penyelaman," ucapnya.
Hingga Sabtu pukul 22.00 WITA, Basarnas mencatat 188 orang telah ditemukan. Tepatnya, dari total 243 orang dalam manifes KM Virgo Transport 8.
Rinciannya, 108 orang ditemukan selamat dan 80 orang meninggal dunia, sementara 55 korban lainnya masih dalam pencarian. Setelah melakukan evaluasi pada hari ke-21, Basarnas memutuskan operasi SAR tetap dilanjutkan dengan waktu yang fleksibel sesuai perkembangan kondisi di lapangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....