Kalaksa BPBD Jatim: Lebih 90 Persen Karhutla Dipicu Aktivitas Manusia

  • 03 Okt 2026 22:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Lebih dari 90 persen kejadian karhutla di Jawa Timur diketahui berkaitan dengan aktivitas manusia.
  • Puntung rokok dan pembakaran sampah dapat memicu kebakaran ketika bara tidak dipadamkan sempurna.
  • BPBD meminta masyarakat memastikan api dan bara benar-benar padam selama musim kemarau.

RRI.CO.ID, Jakarta – BPBD Jawa Timur menyebut lebih dari 90 persen kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama ini dipicu aktivitas manusia. Kelalaian sederhana dapat memicu kebakaran luas ketika bara mengenai rumput dan ranting kering.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan penyebab setiap kejadian tetap memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Penelusuran diperlukan untuk mengetahui kebakaran terjadi secara sengaja atau akibat kelalaian.

“Kalau bicara penyebabnya, selama ini lebih dari 90 persen adalah ulah manusia. Namun, penyebab setiap kejadian tetap perlu diteliti lebih lanjut,” katanya kepada PRO3 RRI, Jakarta, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Menurut Gatot, sejumlah temuan juga ditemukan petugas ketika menangani kebakaran di lapangan. Namun, temuan tersebut tetap membutuhkan penelitian lebih mendalam untuk memastikan penyebab kebakaran.

Gatot menyebut, aktivitas manusia juga tidak selalu berarti kebakaran sengaja dilakukan. Kelalaian membuang puntung rokok menjadi salah satu contoh yang dapat memicu munculnya api.

“Rata-rata itu mungkin karena ketidaksengajaan, seperti membuang puntung rokok. Baranya bisa tertiup angin dan memantik api lebih besar,” ujarnya.

Selain rokok, pembakaran sampah maupun pembersihan lahan menggunakan api juga perlu diperhatikan. Bara yang ditinggalkan dapat terbawa angin menuju rumput atau ranting kering.

"Risiko tersebut semakin besar selama musim kemarau karena banyak material mudah terbakar. Api kemudian dapat menyebar dengan cepat ketika kondisi lahan kering dan angin bertiup kencang," katanya.

Kondisi serupa, kata Gatot, pernah menyebabkan kebakaran berulang di kawasan Bromo. Api yang sebelumnya berhasil dipadamkan kembali muncul akibat masih terdapat sisa bara.

“Itu terjadi di Bromo. Bromo berkali-kali padam, terus terbakar lagi, padam kemudian terbakar lagi,” ucapnya.

Gatot menjelaskan bagian permukaan material dapat terlihat basah setelah proses pemadaman. Namun, bagian bawahnya terkadang masih menyimpan bara yang kemudian kembali terkena angin.

Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati ketika menggunakan api selama musim kemarau. Pengawasan perlu dilakukan hingga api dan bara dipastikan benar-benar padam.

“Pastikan apinya diawasi dan pemadaman sudah dilakukan dengan sempurna. Pastikan pula bara sudah benar-benar padam semuanya,” katanya.

Gatot mengingatkan bara kecil tetap dapat memicu kebakaran apabila terbawa angin. Terlebih, rumput dan ranting kering banyak ditemukan selama musim kemarau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....