Polri Manfaatkan Data Satelit Percepat Deteksi Karhutla
- 02 Okt 2026 16:08 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Polri memanfaatkan data satelit dan Crisis Monitoring Center untuk mempercepat deteksi titik api.
- Titik api diverifikasi melalui patroli darat dan udara sebelum dilakukan pemadaman serta pelaporan melalui aplikasi DORS.
- Penanganan karhutla diperkuat dengan personel, Almatsus, patroli, edukasi masyarakat, dan penegakan hukum.
RRI.CO.ID, Jakarta - Polri memanfaatkan data satelit dan Crisis Monitoring Center untuk mempercepat deteksi titik api selama Operasi Aman Nusa II. Sistem tersebut digunakan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla periode Juli hingga September 2026.
Kabag Pulahjianta Polri, Kombes Pol. Erwin Sinaga, mengatakan data satelit yang masuk dashboard menjadi dasar pengecekan langsung. Personel kemudian melakukan verifikasi melalui patroli darat dan udara di wilayah yang terdeteksi memiliki titik api.
"Mekanisme penanganan kami dimulai dari pengiriman data satelit ke dashboard dan Crisis Monitoring Center. Kemudian, personel diperintahkan melakukan pengecekan melalui patroli darat dan udara," kata Erwin dalam konferensi pers Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Kemenko Polkam, Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.
Erwin mengatakan personel langsung melakukan pemadaman apabila hasil pengecekan menemukan titik api. Perkembangan penanganan kemudian dilaporkan setiap hari melalui aplikasi DORS atau Daily Operating Reporting System.
Pola tersebut menjadi bagian dari upaya Polri memperkuat deteksi dini dan respons terhadap karhutla. Langkah tersebut dilakukan melalui pembentukan satuan tugas serta patroli rutin di wilayah rawan.
"Upaya kami meliputi pembentukan satgas, peningkatan deteksi dini, patroli rutin, hingga penegakan hukum (gakkum). Hal ini dilakukan secara tegas dan keras tanpa kompromi terhadap siapa pun," katanya.
Untuk mendukung operasi, Polri mengerahkan ribuan personel di sejumlah wilayah prioritas. Polda Riau mengerahkan 4.764 personel, Jambi 873 personel, dan Sumatera Selatan 1.000 personel.
Polda Kalimantan Barat melibatkan 1.611 personel dalam tiga tahap dan mendapat tambahan 300 personel BKO Brimob. Sementara Kalimantan Timur mengerahkan 1.821 personel, Kalimantan Tengah 3.343 personel, dan Kalimantan Selatan 778 personel.
Selain personel daerah, Polri mengirim 403 personel Lemdiklat Polri ke berbagai polda selama 25 hari. Personel tersebut berasal dari Sespimti, Sespimmen, dan Setukpa untuk mendukung edukasi masyarakat.
Polri juga mendistribusikan alat material khusus atau Almatsus ke seluruh polda prioritas. Dukungan tersebut ditujukan untuk memperkuat kesiapan penanganan karhutla di daerah.
Erwin menegaskan penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman. Upaya juga mencakup deteksi dini, patroli, edukasi masyarakat, serta penegakan hukum terhadap pelanggaran terkait karhutla.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....