BPBD Jatim Pastikan Titik Api Karhutla di Jawa Timur Telah Padam
- 03 Okt 2026 22:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BPBD Jawa Timur memastikan tidak ada titik api karhutla yang masih aktif.
- Sebanyak 136 kejadian menyebabkan sekitar 9.269,55 hektare lahan terbakar dan terdampak.
- Status tanggap darurat di 25 daerah tidak seluruhnya disebabkan kebakaran hutan dan lahan.
RRI.CO.ID, Jakarta – BPBD Jawa Timur memastikan seluruh titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sebelumnya terpantau di kawasan Jawa Timur kini telah padam. Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan karena sejumlah titik panas masih terdeteksi melalui Sipongi.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan titik api terakhir ditemukan sehari sebelumnya. Sejumlah lokasi yang sempat mengalami kebakaran juga dipastikan sudah tidak lagi menyala.
“Untuk titik api, hingga hari ini sudah tidak ada. Terakhir kemarin sempat ada, tapi sudah padam,” kata Gatot saat wawancara dengan PRO3 RRI, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Meski kondisi terkendali, kata Gatot, sejumlah titik panas masih terlihat berdasarkan pemantauan Sipongi. Namun, kemunculan titik tersebut belum tentu menunjukkan adanya kebakaran hutan dan lahan.
“Kalau melihat data SiPongi, memang ada beberapa titik. Tapi kami belum bisa memastikan apakah itu kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.
Gatot mengatakan petugas perlu memeriksa langsung setiap titik panas yang terdeteksi. Sebab, panas dapat berasal dari pembakaran sampah maupun aktivitas masyarakat membersihkan sisa panen.
Pemeriksaan tersebut diperlukan agar petugas dapat mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan. Langkah ini sekaligus mengantisipasi munculnya kebakaran baru selama musim kemarau.
BPBD mencatat 136 kejadian karhutla terjadi di Jawa Timur selama musim kemarau. Luas lahan terbakar dan terdampak mencapai sekitar 9.269,55 hektare.
“Kalau bicara luas lahan terbakar dan terdampak, kurang lebih ada 9.269,55 hektare. Itu disebabkan 136 kejadian di Jawa Timur,” ucapnya.
Menurut Gatot, luasan tersebut tidak hanya berasal dari kawasan hutan. Perhitungan juga mencakup ladang dan semak-semak yang terdampak kebakaran.
Ia juga meluruskan informasi mengenai 25 daerah yang berada dalam penanganan bencana. Tidak seluruh daerah tersebut mengalami kebakaran hutan dan lahan.
“Tidak semua wilayah di 25 daerah itu mengalami kebakaran. Tanggap darurat bisa disebabkan kekeringan atau juga kebakaran,” katanya.
BPBD terus berkoordinasi dengan berbagai unsur untuk mengantisipasi munculnya titik api baru. Penanganan dilakukan bersama BPBD kabupaten, petugas pemadam, Manggala Agni, hingga Perhutani.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....