Menbud Fadli Respons Karnaval Bernuansa Satanik di Pekalongan

  • 30 Sep 2026 04:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Kebudayaan, Fadli Zon mengingatkan panitia Karnaval Kembang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 agar ekspresi seni tetap berpijak pada nilai Maulid Nabi Muhammad SAW dan tidak menimbulkan keresahan masyarakat.
  • Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menilai atraksi yang menonjolkan simbol satanik bertentangan dengan esensi peringatan Maulid Nabi Muhammad
  • Polemik SKNC mencuat setelah video pertunjukan yang menampilkan kostum menyerupai iblis, simbol mata satu, pentagram terbalik, hingga adegan penyembelihan kambing viral di media sosial.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, menanggapi polemik pertunjukan Karnaval Kembang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 yang viral belakangan. Ia menyebut penampilan tersebut sebagai ekspresi lokal panitia, tetapi mengingatkan penyelenggara agar tetap memperhatikan nilai Maulid Nabi Muhammad SAW.

Acara yang berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi tersebut viral setelah salah satu pertunjukan menampilkan kostum menyerupai iblis. Adapun kitab berlambang mata satu, obor, pentagram terbalik, hingga adegan penyembelihan kambing.

"Itu memang ekspresi lokal dari panitia untuk memeriahkan acara, tetapi harus tetap berpijak pada nilai Maulid Nabi Muhammad. Jangan sampai pertunjukan itu menimbulkan keresahan masyarakat atau memunculkan beragam penafsiran yang justru mengaburkan makna peringatan Maulid tersebut," katanya saat ditemui wartawan di Lobby Gedung Kementerian Kebudayaan, Jakarta Selatan, Selasa, 29 September 2026.

Ia menilai pertunjukan kurang sesuai apabila ditempatkan dalam festival Maulid, meskipun panitia bermaksud menghadirkan keramaian dan memeriahkan acara. Menurutnya, penyelenggara sebaiknya memilih penampilan yang lebih dekat dengan keteladanan Nabi Muhammad serta pesan positif kelahiran beliau.

"Kalau disebut festival Maulid, pertunjukan itu mungkin kurang cocok, walaupun maksud panitia hanya untuk menciptakan keramaian acara semata. Seharusnya, penampilan lebih menonjolkan keteladanan Nabi Muhammad dan nilai-nilai positif dalam memperingati hari kelahiran beliau yang penuh makna," ujarnya.

Kementerian Kebudayaan mengingatkan bahwa kreativitas dalam perayaan budaya tetap perlu mempertimbangkan konteks acara dan sensitivitas masyarakat setempat. Pesan tersebut menjadi catatan bagi penyelenggara agar kegiatan serupa tetap meriah sekaligus selaras dengan nilai yang ingin dirayakan.

Kontroversi SKNC muncul setelah video pertunjukan beredar luas di media sosial. Salah satu tim yang tampil kemudian mengaku tidak memahami konteks ritual satanik dan menyebut konsep tersebut terinspirasi dari referensi di YouTube.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyoroti gelaran Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Pekalongan, Jawa Tengah. Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menyatakan bahwa atraksi menyeramkan yang menonjolkan simbol-simbol satanik sangat bertentangan dengan esensi ajaran Islam.

Ia menjelaskan bahwa bergembira atas kelahiran Rasulullah SAW seharusnya diwujudkan melalui amalan yang mendidik. Adapun membawa kedamaian, serta merefleksikan akhlak mulia Nabi.

Kegembiraan tersebut semestinya diisi dengan kegiatan syiar yang memperkuat keimanan, bukan justru menghadirkan unsur ketakutan. Hingga simbol-simbol iblis, atau praktik yang mendekati animisme.

"Ini jelas berlawanan dengan semangat memperingati atau merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Karnaval yang sifatnya mendidik tentu boleh, tetapi ketika itu sesuatu yang menakutkan, tentu sangat bertentangan dengan haflah Maulid Nabi," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....