Wamensos Dorong Sekolah Rakyat Pekalongan Dibangun

  • 30 Sep 2026 10:42 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat permanen di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah
  • Pemerintah Kabupaten Pekalongan menyiapkan lahan seluas 8,1 hektare di Kelurahan Kedungwuni Timur, Kecamatan Kedungwuni
  • Sekolah Rakyat diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga miskin yang masuk desil 1 dan 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional
  • Pemerintah menargetkan pembangunan 200 Sekolah Rakyat permanen pada 2026, dengan 158 sekolah disebut telah tersedia
  • Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat 14.558 anak di Kabupaten Pekalongan masuk kategori anak tidak sekolah per 6 September 2026

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Sosial (Wamensos), Agus Jabo Priyono mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Pemerintah daerah menyatakan kesiapan menyediakan lahan seluas 8,1 hektare untuk mendukung pembangunan sekolah permanen tersebut.

Agus Jabo mengatakan Sekolah Rakyat menjadi jembatan bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk meraih cita-cita. Program ini juga diharapkan memutus transmisi kemiskinan antargenerasi melalui akses pendidikan yang lebih luas.

“Anak-anak (dari keluarga) miskin yang sudah gelap (harapannya), sekarang (di Sekolah Rakyat) pengen jadi dokter, tentara, ingin jadi polisi, ada jalannya. Jadi Sekolah Rakyat ini betul-betul jembatan emas mereka membangun harapan baru,” kata Agus Jabo saat menerima audiensi Pelaksana Tugas Bupati Pekalongan Sukirman di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta Pusat, Selasa 29 September 2026.

Program pendidikan berasrama ini diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga miskin yang masuk desil 1 dan 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Calon siswa diverifikasi langsung melalui kunjungan ke rumah untuk memastikan kesesuaian data dengan kondisi keluarga.

Agus Jabo menyebut kapasitas Sekolah Rakyat saat ini masih sekitar 1.000 hingga 1.500 siswa untuk jenjang sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah atas. Ke depan, kapasitas tersebut ditargetkan meningkat hingga maksimal 2.500 siswa.

Selain pembelajaran formal, Sekolah Rakyat menyediakan pendidikan karakter dan fasilitas pendukung bagi siswa. Menurut Agus Jabo, sarana sekolah harus tetap memadai meskipun program tersebut diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin.

“Kalau misalnya nanti di Pekalongan ada Sekolah Rakyat, saya pikir itu sebagai salah satu hal yang luar biasa. Walaupun ini untuk orang miskin, tapi sarana-perasarannya dibuat yang sebagus mungkin,” ucapnya.

Agus Jabo menegaskan pengentasan kemiskinan perlu dilakukan secara menyeluruh melalui pendidikan, perbaikan tempat tinggal, dan penguatan ekonomi keluarga. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu anak-anak sekaligus memperbaiki kesejahteraan keluarganya.

“Konsepnya, anaknya kita sekolahkan, rumah orang tuanya kita perbaiki, dan ekonominya kita bantu. Jadi ini pengentasan kemiskinan (dilakukan) secara komprehensif,” kata Agus Jabo.

Pemerintah menargetkan pembangunan 200 Sekolah Rakyat permanen pada 2026, dengan 158 sekolah disebut telah tersedia. Agus Jabo berharap Pekalongan dapat memenuhi persyaratan agar berpeluang masuk dalam pembangunan tahun ini.

“Kita sedang berjuang supaya pembangunan Sekolah Rakyat permanen di tahun ini 200. Sekarang baru ada 158. Kalau kemudian Pekalongan bisa mengejar itu, mudah-mudahan bisa ikut tahun ini,” ujarnya.

Pelaksana Tugas Bupati Pekalongan Sukirman menyampaikan pemerintah daerah menyiapkan lahan seluas 8,1 hektare berstatus hak pakai. Lahan tersebut berada di Kelurahan Kedungwuni Timur, Kecamatan Kedungwuni, yang dinilai strategis karena memiliki aktivitas ekonomi dan mobilitas warga yang tinggi.

Pemerintah Kabupaten Pekalongan juga menyatakan kesiapan memenuhi persyaratan administrasi pembangunan sekolah. Pemerintah daerah berharap Sekolah Rakyat di wilayahnya dapat terealisasi pada 2027.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan Kabupaten Pekalongan pada 2025 mencapai 8,05 persen, sedangkan kemiskinan ekstrem tercatat 1.030 jiwa. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) daerah tersebut sebesar 72,71, di bawah capaian Jawa Tengah sebesar 74,77 dan nasional sebesar 75,90.

Data Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat 14.558 anak di Kabupaten Pekalongan masuk kategori anak tidak sekolah per 6 September 2026. Sementara itu, rata-rata lama sekolah pada 2025 baru mencapai 7,50 tahun, sehingga perluasan akses pendidikan menjadi salah satu tantangan daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....