Komisi VII Ingatkan 'Yeosu World Island Fair 2026' Momen Strategis untuk Indonesia
- 06 Sep 2026 10:26 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Komisi VII DPR RI menilai, acara Yeosu World Island Fair 2026 merupakan momentum strategis untuk berbagai negara.
- Anggota Komisi VII DPR, Novita Hardini mengatakan, kehadiran Indonesia dalam forum seperti ini harus dibaca dalam perspektif yang lebih panjang.
- Kalau hari ini mereka mengenal Turonggo Yakso, maka kita ingin mereka mengenal lebih potensi Trenggalek.
RRI.CO.ID, Jakarta - Komisi VII DPR RI menilai, acara 'Yeosu World Island Fair 2026' merupakan momentum strategis untuk berbagai negara. Kegiatan itu, mempertemukan berbagai negara mengangkat isu kepulauan, laut, masa depan, kebudayaan, dan pertukaran kerjasama maritim internasional.
Anggota Komisi VII DPR, Novita Hardini mengatakan, kehadiran Indonesia dalam forum seperti ini harus dibaca dalam perspektif yang lebih panjang. Mengingat, ajang internasional itu berlangsung 5 September-4 November 2026 dan mengusung tema 'Island, Connecting the Ocean and the Future'.
“Kalau hari ini mereka mengenal Turonggo Yakso, maka kita ingin mereka mengenal lebih potensi Trenggalek. Selain berharap mereka datang sebagai wisatawan, mereka akan datang sebagai mitra bisnis, sebagai kolaborator," kata politikus PDIP ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Minggu, 6 September 2026.
Ia mengatakan, sumber daya pariwisata kepulauan di Indonesia memiliki potensi luar biasa besar. Namun, di satu sisi, Indonesia masih memerlukan dukungan dan sentuhan infrastruktur teknologi yang advance untuk menjadikan daya tarik pariwisata.
"Kita tidak hanya murni indah, namun membangun pengalaman berwisata dengan bantuan teknologi. Itulah diplomasi kebudayaan yang menghasilkan nilai nyata," ucap Novita.
Kemudian, Novita mengungkapkan, acara tersebut melibatkan sekitar 30 negara. Serta, tiga organisasi internasional, dengan target hingga tiga juta pengunjung.
Lebih lanjut, Ia menilai, ada satu pekerjaan besar yang sering terlewat ketika daerah berbicara mengenai kebudayaan adalah infrastruktur fisik. Selama ini, pembangunan infrastruktur daerah kepulauan masih sering terpinggirkan.
“Mendorong bahwa budaya bukan hanya di nikmati sesaat, namun harus menjadi kekuatan ekonomi. Maka infrastrukturnya juga harus menjadi prioritas pembangunan," ucap Novita.
Infrastruktur tersebut, Novita menegaskan, tidak hanya mencakup pusat kebudayaan, ruang kreatif, sentra kerajinan, kawasan kuliner, galeri produk lokal hingga studio kreatif. Namun juga, membuka pintu kerjasama dengan jejaring internasional yang memiliki visi dan misi yang sama.
| Baca juga: KPK Dalami Aliran Uang Anggota DPRD Bengkulu |
Oleh karena itu, ia menuturkan, pengembangan kebudayaan harus terintegrasi dengan teknologi yang advance. Lalu, dapat memahami isu climate change, agar nilai potensi ekonominya dapat berjalan abadi untuk generasi mendatang.
“Jangan sampai wisatawannya datang, tetapi ekosistem pendukung tidak siap. Seperti satu data informasi, menggunakan teknologi yang memudahkan wisatawan, seperti informasi kuliner, spot destinasi wisata," ujar Novita.
"Di Korea Selatan, kita Mengenal NAVER Map. Indonesia masih jauh dikatakan layak menjadi destinasi dunia jika tidak mengupgrade ekosistem pariwisatanya berbasis digital," sambung ucapan Novita.
Momentum Yeosu World Island 2026 harus menjadi bagian dari perjalanan panjang Indonesia membangun identitas ekonominya. Kabupaten Trenggalek memiliki modal budaya, kekayaan SDA, kreativitas masyarakat, kuliner, kerajinan, serta komunitas seni yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....