Inflasi Beras Agustus 2026 Turun, CBP Disalurkan 1,9 Juta Ton

  • 03 Sep 2026 02:07 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Inflasi beras Agustus 2026 turun menjadi 2,77 persen secara tahunan dari 3,10 persen pada Juli
  • Inflasi beras secara bulanan juga turun menjadi 0,42 persen dari 0,49 persen pada Juli
  • Pemerintah telah menyalurkan Cadangan Beras Pemerintah hampir 1,9 juta ton sepanjang 2026
  • Realisasi SPHP beras Januari hingga Agustus mencapai 952,28 ribu ton
  • Bantuan pangan tahap pertama terealisasi 662,86 ribu ton dan tahap kedua 207,47 ribu ton

RRI.CO.ID, Jakarta - Inflasi beras secara tahunan pada Agustus 2026 tercatat melandai hingga menyentuh angka 2,77 persen. Pemerintah menyalurkan beras cadangan pemerintah hampir 1,9 juta ton demi memperkuat stabilitas pangan nasional.

Angka inflasi tahunan tersebut mengalami penurunan signifikan dari bulan Juli yang berada pada 3,10 persen. Laju inflasi bulanan komoditas utama tersebut juga susut menjadi 0,42 persen pada Agustus 2026.

Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan keterangan resmi mengenai ketersediaan beras. Penyaluran pasokan komoditas pangan masyarakat tersebut dikelola secara berkelanjutan melalui instansi Perusahaan Umum Bulog.

“Stok beras kita banyak. Harga harus baik. Mulai dari petani sampai konsumen,” kata Andi Amran Sulaiman, Rabu 2 September 2026.

Andi juga menegaskan pentingnya menjaga kelancaran seluruh pasokan komoditas dari rantai hulu sampai hilir. Realisasi program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan periode Maret hingga Agustus mencapai 731,23 ribu ton.

“Sekarang banyak beras, hulu sudah bagus, hilir juga harus bagus. Tidak boleh ada anomali harga beras,” ujarnya.

Realisasi penjualan beras SPHP periode Januari hingga Februari sebelumnya telah mencatatkan angka 221,05 ribu ton. Penyaluran bantuan pangan tahap pertama serta tahap kedua masing-masing mencatatkan 662,86 ribu ton dan 207,47 ribu ton.

Penyaluran bantuan bencana alam serta keadaan darurat tercatat menyerap alokasi sebesar 12,11 ribu ton. Pemerintah pusat juga menyalurkan sebanyak 56,14 ribu ton beras melalui skema alokasi golongan anggaran.

Pengawasan secara ketat dilakukan terhadap peredaran beras fortifikasi yang ditemukan mengalami sejumlah ketidaksesuaian mutu. Tim pengawas telah memeriksa 178 sampel beras fortifikasi di sebelas provinsi untuk memastikan kepatuhan standar.

Hasil laboratorium menunjukkan 93 persen sampel beras tidak memenuhi syarat klaim fortifikasi maupun gizi. Satuan Tugas Pengawasan Harga dan Mutu Beras mulai dibentuk pada awal September untuk memperketat pengawasan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik Ateng Hartono memaparkan laporan statistik inflasi. Proyeksi produksi beras nasional hingga Oktober mendatang diperkirakan masih berada dalam kondisi relatif aman.

“Untuk kondisi Agustus tahun 2026, beras ini mencatat inflasi bulanannya itu 0,42 persen dengan andilnya itu 0,02 persen,” ujar Ateng.

Ateng memaparkan bahwa pergerakan harga komoditas beras nasional dipengaruhi oleh masa transisi pascapanen raya. Faktor kelancaran jalur distribusi pangan juga turut memicu perbedaan stabilitas harga antarwilayah di Indonesia.

“Secara historis untuk bulan Agustus mulai memasuki fase transisi setelah melewati puncak panen raya,” katanya.

Pemantauan Bapanas per 31 Agustus 2026 mencatat rerata harga beras medium mencapai Rp13.626 per kilogram. Harga beras jenis premium juga mengalami penurunan sebesar 0,48 persen menjadi Rp16.084 per kilogram.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....