Kemenkes Perkuat Bantuan Logistik untuk Hadapi Dampak Karhutla di 7 Provinsi

  • 28 Agt 2026 22:42 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemenkes memperkuat dukungan logistik kesehatan untuk merespons dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tujuh provinsi.
  • Kemenkes mencatat, dampak Karhutla saat ini telah memengaruhi sekitar 5,4 juta orang.
  • Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, hingga kini sebanyak 5,3 juta masker telah didistribusikan ke daerah-daerah terdampak karhutla.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat dukungan logistik kesehatan untuk merespons dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tujuh provinsi.

Kemenkes mencatat, dampak Karhutla saat ini telah memengaruhi sekitar 5,4 juta orang.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, hingga kini sebanyak 5,3 juta masker telah didistribusikan ke daerah-daerah terdampak karhutla. Pemerintah juga masih memiliki stok sekitar 2,7 juta masker yang tersimpan di tingkat provinsi.

"Total ada 5,3 juta masker yang sudah kita bagikan kepada daerah karhutla yang sudah berdampak. Ini stok masker di provinsi, masih cukup, stok masker di provinsi masih 2,7 juta," kata Dante di Jakarta, Jumat 28 Agustus 2026.

Dante mengatakan penggunaan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan menjadi langkah perlindungan penting bagi masyarakat. Terutama ketika kualitas udara berada pada kategori buruk.

Ia berharap penanganan dan pemadaman karhutla yang terus dilakukan dapat menekan tingkat polusi udara sehingga kebutuhan masker di masyarakat ikut berkurang. "Perlindungan terbaik hanya dengan menggunakan masker dan menjaga supaya tidak beraktivitas di luar ruangan di daerah yang kualitas udaranya buruk," ujarnya.

Kemenkes, lanjut Dante, terus mengidentifikasi kebutuhan kesehatan di setiap provinsi, kabupaten, dan kota yang terdampak karhutla. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan masker sekaligus memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai perlindungan kesehatan saat terjadi kabut asap.

Selain masker, Kemenkes juga memasok konsentrator oksigen ke sejumlah lokasi yang membutuhkan. Peralatan tersebut disiapkan agar kebutuhan oksigen dapat segera dipenuhi apabila terjadi peningkatan kasus gangguan pernapasan.

Dalam merespons dampak karhutla, Kemenkes menerapkan sejumlah strategi, mulai dari memperkuat edukasi dan promosi kesehatan hingga melakukan pemantauan terhadap berbagai penyakit yang berpotensi meningkat akibat paparan asap.

Penyakit yang dipantau antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, asma, serta iritasi mata dan kulit.

Kemenkes juga melakukan surveilans kualitas udara dan menerbitkan surat kewaspadaan. Di sisi pelayanan, pemerintah menyiagakan Public Safety Center (PSC), pos pelayanan kesehatan, rumah sakit rujukan, hingga memobilisasi bantuan logistik.

Berdasarkan data Public Health Emergency Operations Center (PHEOC) Kemenkes per 27 Agustus 2026, tercatat 4.082 kasus infeksi saluran pernapasan pada wilayah terdampak karhutla. Adapun secara kumulatif, terdapat 13.449 kasus di wilayah yang sama.

Peningkatan kejadian karhutla berlangsung sejak Juni 2026, seiring musim kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah Indonesia. Tujuh provinsi telah menetapkan status siaga darurat bencana karhutla, yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.

Sementara itu, kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak masih menjadi perhatian. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per 27 Agustus 2026, Pontianak, Kalimantan Barat, mencatat skor 328 atau masuk kategori berbahaya.

Kondisi tersebut membuat masyarakat di wilayah terdampak diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi paparan langsung terhadap asap. Khususnya, dengan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....