Tindak Lanjut Arahan Mentan Amran, Berdikari Siapkan 30.000 Ton SBM untuk Peternak R

  • 28 Agt 2026 07:41 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • PT Berdikari menyiapkan 30.000 ton Soybean Meal (SBM) untuk memperluas akses bahan baku pakan bagi peternak rakyat
  • Sebanyak 5.000 ton SBM telah mulai diakses melalui Koperasi Produsen Usaha LPER
  • Sejumlah koperasi peternak lain telah mengajukan kebutuhan SBM dan saat ini masih dalam proses
  • Penyediaan SBM merupakan tindak lanjut arahan Mentan Amran untuk menekan biaya produksi peternak rakyat
  • Konsolidasi kebutuhan melalui koperasi dinilai dapat membuat pengadaan bahan baku pakan lebih efisien dan memperkuat posisi peternak

RRI.CO.ID, Jakarta - PT Berdikari menyiapkan 30.000 ton Soybean Meal (SBM) atau bungkil kedelai untuk peternak rakyat. Langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman.

Direktur Operasional PT Berdikari Agung Aulia mengatakan, sebanyak 5.000 ton SBM telah mulai diakses. Akses tersebut dilakukan melalui Koperasi Produsen Usaha Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER).

SBM tersebut digunakan memenuhi kebutuhan peternak rakyat anggota dan binaan LPER. Sementara itu, sejumlah koperasi peternak lain telah mengajukan kebutuhan SBM kepada Berdikari.

Pengajuan dari koperasi tersebut saat ini masih dalam proses. Kondisi itu membuka peluang akses bahan baku pakan bagi lebih banyak peternak rakyat.

Langkah tersebut merupakan tindak lanjut Rapat Koordinasi Perunggasan Nasional. Rapat tersebut dipimpin Mentan Amran di Pusat Veteriner Farma (Pusvetma), Surabaya, 11 Agustus 2026.

Salah satu pembahasan dalam rapat tersebut adalah pengendalian biaya pakan. Pengendalian biaya pakan dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat.

Akses awal 5.000 ton SBM melalui LPER dituangkan dalam nota kesepahaman. Memorandum of Understanding (MoU) tersebut ditandatangani PT Berdikari dan Koperasi LPER di Jakarta.

Penandatanganan MoU berlangsung pada 18 Agustus 2026. MoU ditandatangani Direktur Utama PT Berdikari Maryadi dan Ketua Umum Koperasi LPER H. Mulyadi Atma.

Penandatanganan tersebut disaksikan Direktur Operasional PT Berdikari Agung Aulia. Jajaran kedua pihak turut menyaksikan penandatanganan kerja sama tersebut.

Agung mengatakan kerja sama dengan LPER menjadi bagian awal membangun tata kelola peternakan. Kerja sama tersebut sekaligus memperluas akses bahan baku pakan bagi peternak.

“Kami berkomitmen mengawali dari 5.000 ton ini. Target kami adalah membangun ekosistem peternakan ayam ras yang terintegrasi dan berkeadilan,” ujar Agung.

Ketua Umum Koperasi LPER H. Mulyadi Atma menyambut baik kerja sama tersebut. Menurutnya, kepastian bahan baku pakan penting menghadapi tekanan biaya produksi.

“Ini bukti nyata negara tidak meninggalkan peternak rakyat. Dengan SBM 5.000 ton di awal ini, kami optimis harga pokok produksi telur dan ayam bisa ditekan,” ujar Mulyadi.

Mulyadi berharap langkah tersebut membantu peternak bangkit kembali. Menurutnya, kepastian pasokan menjadi salah satu kebutuhan penting dalam menjalankan usaha.

Pengendalian biaya pakan menjadi fokus pemerintah dalam menjaga daya tahan peternak rakyat. Kementerian Pertanian mendorong pola pengadaan yang lebih terencana dan terkonsolidasi.

Pola tersebut diharapkan membuat bahan baku diperoleh secara lebih efisien. Konsolidasi kebutuhan juga dapat memperkuat pengadaan bahan baku pakan.

Direktur Pakan Kementan Tri Melasari mengatakan konsolidasi melalui koperasi dapat memperkuat posisi peternak. Mekanisme tersebut juga membantu memenuhi kebutuhan bahan baku secara lebih terencana.

“Kami mendorong agar akses peternak terhadap bahan baku pakan semakin mudah dan efisien,” ujar Tri Melasari. Menurutnya, konsolidasi melalui koperasi dapat memperkuat posisi peternak.

Dengan konsolidasi, kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi secara lebih terencana. Rantai pasok juga diharapkan menjadi semakin efisien.

Menurut Tri, kolaborasi tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan bahan baku jangka pendek. Kolaborasi juga diarahkan membangun tata kelola pakan yang memberikan kepastian.

“Yang kita bangun bukan hanya soal penyaluran bahan baku, tetapi ekosistem pakan,” katanya. Ekosistem tersebut diharapkan memberikan kepastian bagi peternak.

Ketika biaya pakan dapat dikendalikan, peternak memiliki ruang lebih kuat mempertahankan produktivitas. Kondisi tersebut juga mendukung keberlanjutan usaha peternak rakyat.

Dalam skema tersebut, pemerintah berperan melalui kebijakan dan fasilitasi. Berdikari memperkuat kesiapan pasokan, sedangkan koperasi mengonsolidasikan kebutuhan anggotanya.

Konsolidasi tersebut dilakukan agar akses bahan baku lebih terencana. Skema itu juga diharapkan menjangkau lebih banyak peternak rakyat.

Kesiapan 30.000 ton SBM menunjukkan perluasan tindak lanjut pemerintah. Sebanyak 5.000 ton saat ini diakses melalui LPER.

Sejumlah koperasi lain juga telah mengajukan kebutuhan SBM. Pengajuan tersebut masih dalam proses untuk memenuhi kebutuhan peternak.

Langkah tersebut sejalan dengan arahan Mentan Amran mengenai biaya produksi peternak rakyat. Akses bahan baku yang lebih efisien diharapkan mengurangi beban produksi.

Dengan biaya pakan yang lebih terkendali, peternak diharapkan dapat menjaga produktivitas. Keberlanjutan usaha peternak rakyat juga diharapkan semakin kuat.

Penguatan akses pakan tersebut pada akhirnya ditujukan menekan beban produksi peternak. Langkah ini juga diharapkan menjaga keberlanjutan produksi telur dan ayam.

Telur dan ayam menjadi sumber protein hewani bagi masyarakat. Karena itu, keberlanjutan produksi peternak juga berkaitan dengan ketersediaan pangan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....