Harga Gabah Naik, Petani Kolaka Mulai Menabung Emas
- 25 Agt 2026 07:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kebijakan Harga Pembelian Pemerintah gabah mulai dirasakan petani di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara
- Petani disebut mulai mampu menabung emas sebagai salah satu tanda meningkatnya kesejahteraan
- Produksi padi Kolaka meningkat dari kisaran 47 ribu ton pada 2020-2024 menjadi sekitar 73 ribu ton pada 2025
- Pemkab Kolaka mengusulkan pembangunan Rice Milling Unit terintegrasi dengan lumbung pangan di atas lahan bersertifikat seluas 4 hektare
- Mentan Andi Amran Sulaiman meminta Pemkab Kolaka segera berkoordinasi dengan Bulog untuk menyiapkan pembangunan fasilitas tersebut pada 2027
RRI.CO.ID, Jakarta - Kebijakan pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah mulai dirasakan petani di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Bupati Kolaka Amri melaporkan kepada Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa kenaikan harga gabah berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani.
Amri mengatakan perubahan tersebut terlihat dari kemampuan petani menyimpan hasil pendapatan. Sebagian petani bahkan mulai memiliki kebiasaan menabung dalam bentuk emas.
“Dengan harga gabah hari ini di Kabupaten Kolaka, kami menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat. Dampaknya terasa ke petani,” kata Amri saat bertemu Mentan Amran dalam audiensi kepala daerah di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Senin 24 Agustus 2026.
Ia mengatakan kebiasaan petani menabung emas menjadi salah satu tanda meningkatnya kemampuan ekonomi masyarakat. “Ini salah satu tanda bahwa kesejahteraan mereka meningkat,” ujarnya.
Selain berdampak terhadap pendapatan petani, produksi padi di Kolaka juga mengalami peningkatan. Amri menyebut produksi padi yang pada periode 2020-2024 berada di kisaran 47 ribu ton meningkat menjadi sekitar 73 ribu ton pada 2025.
Kenaikan tersebut mencapai sekitar 26 ribu ton dan turut memperkuat ketersediaan pangan di daerah. Menurut Amri, sekitar 20 ribu ton beras telah terserap oleh Perum Bulog pada 2025.
“Kami punya existing sekitar 9 ribu hektare persawahan. Bahkan di beberapa wilayah bisa sampai lima sampai enam kali panen dalam dua tahun,” katanya.
Amri juga mengatakan kebijakan harga gabah membantu memperkuat posisi petani ketika menjual hasil panen. Harga yang lebih baik membuat petani memiliki pilihan yang lebih kuat dan membantu menekan pengaruh tengkulak.
“Ini fakta di lapangan, kebijakan harga gabah dari pemerintah pusat membantu menekan tengkulak,” ujarnya. Namun, peningkatan produksi tersebut masih perlu diikuti penguatan fasilitas pascapanen.
Salah satu persoalan yang dihadapi adalah rantai pasokan gabah yang masih panjang. Sebagian hasil pertanian dari Kolaka harus dibawa ke luar daerah, seperti Sidrap, Sulawesi Selatan, sebelum kembali masuk ke Kolaka.
Karena itu, Pemkab Kolaka mengusulkan pembangunan Rice Milling Unit (RMU) yang terintegrasi dengan lumbung pangan. Pemerintah daerah telah menyiapkan lahan bersertifikat seluas empat hektare untuk pembangunan fasilitas tersebut.
“Kami sudah siapkan tanah, sudah ada sertifikat. Kalau berkenan, kami minta dukungan RMU, lumbung pangan dan RMU yang terintegrasi. Lahannya kami siapkan 4 hektare,” kata Amri.
Permintaan tersebut mendapat respons dari Mentan Amran. Ia meminta Pemkab Kolaka segera berkoordinasi dengan Perum Bulog dan memastikan kesiapan lahan untuk pembangunan fasilitas tersebut.
“Segera koordinasi dengan Bulog. Yang penting tanahnya ada untuk tahun 2027,” ujar Amran. Mentan Amran mengatakan pemerintah akan terus memperkuat dukungan mulai dari produksi hingga pascapanen.
Penguatan tersebut diharapkan membuat peningkatan produksi tidak berhenti pada hasil panen, tetapi juga memberikan nilai tambah dan pendapatan lebih besar bagi petani. Sebelumnya, Kolaka juga menerima dukungan Kementan berupa combine harvester, pompa air, traktor roda empat (TR4), dan traktor roda dua (TR2).
Dukungan tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga peningkatan produksi pertanian. Bagi Pemkab Kolaka, pembangunan pertanian dan sektor pertambangan perlu berjalan bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....