Selain Gizi, BGN Tegaskan MBG Mulai Dongkrak Pasar Petani Lokal

  • 21 Sep 2026 10:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BGN RI menegaskan, Program MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Tetapi juga, dinilai mulai membuka peluang pasar bagi petani dan peternak lokal.
  • Kepala BGN, Sudaryono mengatakan, dampak ekonomi tersebut perlu menjadi perhatian publik di tengah pemberitaan mengenai berbagai persoalan MBG.
  • Keberadaan dapur SPPG menciptakan kebutuhan bahan pangan yang berlangsung rutin di sejumlah daerah.

RRI.CO.ID, Jakarta - BGN RI menegaskan, Program MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Tetapi juga, dinilai mulai membuka peluang pasar bagi petani dan peternak lokal.

Kepala BGN, Sudaryono mengatakan, dampak ekonomi tersebut perlu menjadi perhatian publik di tengah pemberitaan mengenai berbagai persoalan MBG. Manfaat Program MBG yang dirasakan petani maupun peternak, dinilainya juga perlu disampaikan agar masyarakat mendapatkan gambaran.

"Keberadaan dapur SPPG menciptakan kebutuhan bahan pangan yang berlangsung rutin di sejumlah daerah. Ini harusnya dipublikasikan, impact positif ini harusnya juga disebarluaskan, jangan hanya berita negatif saja," kata Sudaryono di Kota Batu, Jawa Timur, dikutip Senin, 21 September 2026.

Sudaryono mendorong, petani hingga peternak, menyampaikan secara langsung apabila merasakan peningkatan permintaan produk setelah adanya program MBG. Informasi tersebut, dinilai penting untuk menunjukkan sejauh mana dapur SPPG dapat menyerap komoditas yang dihasilkan pelaku usaha pangan di daerah.

Salah satu contoh yang disampaikan Sudaryono berasal dari Kota Batu yang dikenal memiliki beragam komoditas pertanian dan peternakan. Ia menyebut, harga jeruk lokal yang sebelumnya sempat berada di kisaran Rp5 ribu per kilogram.

"Contohnya, harga jeruk lokal yang sebelumnya sempat anjlok di kisaran Rp5 ribu per kilogram. Kini melesat naik hingga mencapai Rp14 ribu per kilogram karena terserap sebagai penyuplai bahan baku gizi harian," ucap Sudaryono.

Menurut Sudaryono, kebutuhan dapur SPPG terhadap bahan pangan berlangsung dalam jumlah besar dan dilakukan secara rutin. Kondisi tersebut, membuka peluang bagi komoditas lokal untuk memiliki pasar yang lebih pasti apabila kebutuhan SPPG dapat dipenuhi.

"Kota Batu sangat potensial untuk model ini. Karena memiliki komoditas lengkap mulai dari buah-buahan, sayuran, hingga produk peternakan," ujar Sudaryono.

Meski demikian, Sudaryono mengakui, contoh kenaikan harga jeruk di Kota Batu belum dapat dijadikan ukuran untuk menggambarkan keseluruhan dampak positif MBG. Besarnya kontribusi penyerapan SPPG terhadap perubahan harga pasar masih membutuhkan pengukuran yang lebih menyeluruh.

BGN juga mendorong, hubungan antara dapur SPPG dan produsen pangan lokal tidak berhenti pada transaksi jangka pendek. Rantai pasok tersebut, diharapkan berkembang menjadi kemitraan berkelanjutan mempertimbangkan harga, kualitas bahan pangan, serta kemampuan produksi petani dan peternak.

"Ke depan, BGN berharap rantai pasok antara SPPG dengan petani lokal bisa berjalan konsisten," ucap Sudaryono. Kesinambungan pasokan menjadi salah satu faktor penting, apabila SPPG ingin menjadikan produk lokal sebagai rantai pemenuhan kebutuhan pangan MBG.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....