Zulkifli Hasan Dorong Mahasiswa FEB UNJ Bangun Kemandirian
- 21 Agt 2026 20:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menekankan bahwa mahasiswa harus membangun kemandirian sejak memasuki bangku kuliah untuk menghadapi tantangan masa depan.
- Proses belajar tidak hanya terbatas pada kegiatan perkuliahan formal, tetapi juga mencakup pengalaman praktis dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan nyata.
- Pesan ini disampaikan Zulkifli Hasan saat menjadi pembicara pada acara PKKMB Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta pada Jumat, 21 Agustus 2026.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mendorong mahasiswa membangun kemandirian sejak memasuki bangku kuliah. Menurutnya, proses belajar tidak hanya berlangsung melalui perkuliahan, tetapi juga pengalaman menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Pesan tersebut disampaikan Zulkifli saat menjadi pembicara PKKMB Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026. Ia mengajak mahasiswa menjadikan berbagai pengalaman sebagai bekal untuk menghadapi tantangan masa depan.
Menurutnya, mahasiswa perlu berani menghadapi kesulitan selama menjalani proses pendidikan. Selain itu, lanjut dia, pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran untuk membentuk karakter dan kemampuan mengambil keputusan.
“Setiap peristiwa yang terjadi dengan diri kita, atau dengan orang lain, atau dengan lingkungan, kalau kita pintar, itu pelajaran,” ujar Zulkifli.
Ia menilai pembelajaran tidak terbatas pada buku maupun ruang kelas. Mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan dari lingkungan, masyarakat, pengalaman organisasi, hingga berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Zulkifli juga mengajak mahasiswa memahami persoalan pangan, nelayan, dan lingkungan. Ia menilai mahasiswa perlu melihat persoalan tersebut sebagai bagian dari tantangan pembangunan yang membutuhkan keterlibatan generasi muda.
Terkait pangan, Zulkifli menekankan pentingnya keberpihakan kepada petani dalam mewujudkan swasembada pangan. Menurutnya, peningkatan produksi harus berjalan bersama peningkatan kesejahteraan petani sebagai bagian dari kedaulatan pangan.
Ia juga menyoroti kesejahteraan nelayan yang membutuhkan dukungan ekosistem usaha. Salah satu konsep yang disiapkan pemerintah adalah Kampung Nelayan dengan fasilitas pendukung seperti balai lelang, cold storage, pabrik es, bengkel kapal, dan koperasi.
“Kalau petani dan nelayan miskin. Kita tidak boleh tidak tahu. Ini bagian dari kita,” ujar Zulkifli.

Selain pangan, Zulkifli mendorong mahasiswa terlibat dalam penyelesaian persoalan sampah. Menurutnya, pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya dan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah.
Ia menilai pemilahan sampah dapat membuka peluang ekonomi sekaligus mengurangi persoalan lingkungan. Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk, sedangkan sampah anorganik dapat memiliki nilai ekonomi.
“Peran mahasiswa, peran kita semua penting. Sampah ini bukan urusan pemerintah saja, namun ini urusan kita,” ucapnya.
Zulkifli juga mendorong mahasiswa memanfaatkan perkembangan teknologi untuk membangun kemandirian ekonomi. Menurutnya, teknologi digital membuka peluang usaha yang dapat dimulai tanpa harus memiliki infrastruktur konvensional.
Ia kemudian mengingatkan mahasiswa agar tidak takut menghadapi kegagalan. Pengalaman gagal, menurutnya, dapat menjadi bagian dari proses untuk membangun kemampuan dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan berikutnya.
“Tidak ada kesuksesan tanpa ujian. Tidak ada kamu berhasil hebat tanpa perjuangan, tanpa kendala,” ujar Zulkifli.
Zulkifli berharap mahasiswa memanfaatkan masa kuliah untuk mengembangkan kompetensi sekaligus membangun karakter. Menurutnya, pendidikan tinggi menjadi tahap penting untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja, usaha, dan berbagai persoalan masyarakat.
Sementara itu, Wakil Rektor UNJ Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni, Prof. Ifan Iskandar, mengatakan mahasiswa perlu memahami berbagai isu yang berkembang di masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi juga menjadi ruang untuk mencari solusi atas berbagai tantangan tersebut.
“Bagian dari kehidupan kampus adalah mencoba memahami isu yang berkembang dan mencoba mencari solusi terhadap berbagai tantangan yang ada,” kata Ifan.
Dekan FEB UNJ Prof. Mohamad Rizan mengatakan, masa awal perkuliahan menjadi momentum membangun karakter, kompetensi, dan kemandirian mahasiswa. Pendidikan ekonomi dan bisnis, menurutnya, perlu diikuti kemampuan beradaptasi dengan perubahan dan menghadapi persoalan nyata.
“Kami ingin mahasiswa FEB UNJ memanfaatkan masa kuliah sebagai ruang untuk mengembangkan kompetensi. Sekaligus membangun karakter yang adaptif, mandiri, dan memiliki keberanian menghadapi tantangan,” kata Prof. Rizan.
“Apa yang disampaikan Pak Zulkifli menjadi pembelajaran penting bahwa kesuksesan tidak hanya dibangun dari teori. Tetapi juga dari pengalaman dan kemampuan menghadapi berbagai kesulitan,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....