Menko Pangan Tawarkan Insentif Karbon untuk Investor Hijau

  • 30 Sep 2026 10:32 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menko Pangan Zulkifli Hasan menawarkan insentif pasar karbon untuk menarik investasi hijau ke Indonesia
  • Tawaran disampaikan dalam forum bisnis pertanian berkelanjutan di sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-81 dan New York Climate Week 2026
  • Peluang investasi mencakup tiga sektor, yakni pangan, persampahan, dan kelautan
  • Sektor pangan diarahkan pada budidaya padi rendah emisi, sedangkan persampahan mencakup pengolahan sampah menjadi energi
  • Pemerintah mendorong pengembangan karbon biru dan penguatan perdagangan karbon untuk mendukung penurunan emisi serta kesejahteraan masyarakat

RRI.CO.ID, New York - Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan), Zulkifli Hasan menawarkan insentif pasar karbon untuk menarik investasi hijau ke Indonesia. Tawaran tersebut disampaikan dalam forum bisnis bertema pertanian berkelanjutan di sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-81 dan New York Climate Week 2026, Rabu 23 September 2026.

Di hadapan lebih dari 20 CEO perusahaan, Zulkifli memaparkan peluang investasi pada tiga sektor, yakni pangan, persampahan, dan kelautan. Investasi tersebut diarahkan untuk mendukung penurunan emisi sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Zulkifli mengatakan mekanisme pasar karbon dapat memberikan nilai tambah bagi investor yang mendukung proyek penurunan emisi. Pemerintah juga mendorong penyederhanaan aturan dan tata kelola agar perdagangan karbon berjalan dengan kredibel.

Di sektor pangan, peluang investasi mencakup pengembangan budidaya padi rendah emisi untuk memperkuat ketahanan pangan. Pengembangan ini membutuhkan teknologi, pembiayaan, kepastian pasar, serta manfaat yang jelas bagi petani.

Sementara itu, sektor persampahan menawarkan peluang investasi melalui fasilitas pengolahan sampah yang dapat menghasilkan energi dan nilai ekonomi. Pemerintah mendorong pendekatan tersebut untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus mengatasi persoalan sampah.

“Indonesia menghadapi kedaruratan sampah yang harus segera diatasi, salah satunya melalui waste to energy. Oleh karenanya Pemerintah Indonesia mendorong investasi hijau sektor sampah sebagai prioritas,” ucap Zulkifli.

Adapun sektor kelautan diarahkan pada pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan, termasuk pengembangan karbon biru atau blue carbon. Upaya ini diharapkan turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Sebagai Ketua Komite Pengarah Nilai Ekonomi Karbon (NEK), Zulkifli mendorong penguatan kerangka perdagangan karbon agar hasil penurunan emisi yang terukur memiliki nilai ekonomi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah memperbarui aturan perdagangan karbon melalui bursa, termasuk ketentuan pencatatan unit karbon dalam Sistem Registri Unit Karbon (SRUK).

Dalam forum tersebut, Zulkifli turut memaparkan transformasi sistem pangan Indonesia dan agenda keberlanjutannya. Pemerintah mengajak pelaku usaha global menjajaki proyek yang menghubungkan ketahanan pangan, penurunan emisi, dan pembiayaan iklim dengan manfaat nyata bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....