Kemenbud Gelar Tapak Tilas Proklamasi, Ajak Masyarakat Kenang Jejak Kemerdekaan

  • 16 Agt 2026 21:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menbud Fadli menilai Proklamasi menjadi tonggak penting kemerdekaan yang tidak terlepas dari situasi geopolitik dunia saat itu.
  • Semangat kemerdekaan telah tumbuh sejak Kebangkitan Nasional dan Sumpah Pemuda melalui perjuangan berbagai tokoh bangsa.
  • Tapak Tilas Proklamasi menghubungkan empat titik sejarah, yakni Menteng 31, Rengasdengklok, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, dan Pegangsaan Timur.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) menggelar Tapak Tilas Proklamasi 2026 di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta Pusat. Kegiatan dilaksanakan sebagai bentuk mengenang kilas balik perjuangan tokoh-tokoh pendiri bangsa dalam mewujudkan Kemerdekaan Indonesia.

Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon mengatakan bahwa peristiwa proklamasi merupakan bagian terpenting bagi kemerdekaan Indonesia. Ia menilai bahwa peristiwa proklamasi juga tidak dapat dipisahkan dari situasi geopolitik dunia.

"Peristiwa proklamasi adalah peristiwa yang luar biasa, tentu tidak bisa dipisahkan dari situasi geopolitik dunia ketika itu. Jepang di bom atom oleh sekutu (Amerika Serikat), hingga kemudian Jepang menyerah secara sepihak pada 15 Agustus 1945," katanya saat menghadiri Tapak Tilas Proklamasi 2026, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta Pusat, Minggu, 16 Agustus 2026.

Ia menyebut momentum tersebut menjadi kesempatan bagi para pemimpin bangsa untuk segera mengambil keputusan menentukan masa depan Indonesia. Menurutnya, keterlambatan proklamasi berpotensi membuat pasukan Sekutu lebih dahulu memasuki Indonesia dan mengubah situasi politik saat itu.

Ia mengatakan semangat kemerdekaan telah tumbuh jauh sebelum Proklamasi melalui gagasan dan perjuangan berbagai tokoh pergerakan nasional Indonesia. Ia menilai perjuangan tersebut memperlihatkan bahwa keinginan membentuk negara Indonesia berkembang sejak masa Kebangkitan Nasional dan Sumpah Pemuda.

"Hampir di tengah malam waktu itu, di rumah inilah yang kemudian menjadi museum perumusan naskah proklamasi. Peristiwa-peristiwa itu memang kelihatan dadakan, tetapi memang proses internalisasinya itu sudah semuanya, karena keinginan untuk merdeka sudah lama," ucapnya.

Dalam proses menuju proklamasi, ia menyoroti peran kelompok muda yang mendorong para pemimpin segera mengambil keputusan kemerdekaan Indonesia. Tokoh seperti Soekarni, Wikana, Adam Malik, dan sejumlah pejuang muda ikut berperan dalam dinamika perjuangan menjelang Proklamasi Indonesia

Ia menjelaskan Bung Karno dan Bung Hatta saat itu disebut golongan tua, meski usia keduanya masih tergolong muda. "Para proklamator baik golongan tua maupun golongan muda mempunyai peran masing-masing," ujarnya.

Ia menilai perjalanan menuju kemerdekaan merupakan rangkaian panjang yang melibatkan tokoh, termasuk mereka yang belum banyak dikenal masyarakat. Menurutnya, semangat perjuangan tersebut terus tumbuh sejak Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, hingga akhirnya mencapai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Sementara itu, kegiatan Tapak Tilas Proklamasi mengingatkan kembali rangkaian perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Demikian disampaikan oleh cucu Menlu Pertama RI Ahmad Soenarjo, Hutomo Said.

Menurutnya, kegiatan tersebut berkaitan erat dengan sejumlah lokasi penting yang menjadi saksi perjalanan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Gagasan pelaksanaan napak tilas telah muncul sejak 1984 sebagai upaya menyegarkan kembali ingatan masyarakat terhadap sejarah Proklamasi.

"Titik pertama adalah Menteng 31 atau Gedung Juang 45, tempat para pemuda berkumpul mendesak Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan," ujarnya. Ia menyebut para pemuda saat itu terus menyuarakan dorongan agar kemerdekaan Indonesia segera diproklamasikan tanpa menunggu perkembangan politik.

Ia mengatakan, desakan kelompok pemuda kemudian berlanjut dengan dibawanya Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan karena para pemuda menilai kedua pemimpin belum cukup merespons tuntutan untuk segera menyatakan kemerdekaan.

"Titik kedua adalah Rengasdengklok, tempat Soekarno-Hatta dibawa para pemuda karena dianggap belum mendengar desakan kemerdekaan. Titik ketiga adalah Museum Naskah Proklamasi, tempat perumusan naskah dilakukan hingga subuh sebelum kemerdekaan diproklamasikan," ucapnya.

Setelah naskah selesai dirumuskan, proses menuju Proklamasi memasuki tahap akhir dengan persiapan pembacaan kemerdekaan Indonesia. Ia mengatakan titik terakhir berada di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta, tempat Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....