Jejak KH Wahid Hasyim, Dari Pesantren hingga Perumusan Dasar Negara Indonesia
- 16 Agt 2026 11:41 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober, menjadi momentum mengenang kontribusi para ulama dan santri dalam perjalanan bangsa Indonesia. Salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah
- KH Wahid Hasyim merupakan ulama, negarawan, dan tokoh pergerakan yang berusaha mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan cita-cita kebangsaan. KH Wahid Hasyim lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 1 Juni 1914.
- Ia merupakan putra KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus ulama berpengaruh dalam sejarah pergerakan Islam di Indonesia. Sejak usia muda, KH Wahid Hasyim telah menunjukkan perhatian besar terhadap pendidikan
RRI.CO.ID, Jakarta - Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober, menjadi momentum mengenang kontribusi para ulama dan santri dalam perjalanan bangsa Indonesia. Salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah tersebut adalah KH Wahid Hasyim.
KH Wahid Hasyim merupakan ulama, negarawan, dan tokoh pergerakan yang berusaha mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan cita-cita kebangsaan. KH Wahid Hasyim lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 1 Juni 1914.
Ia merupakan putra KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus ulama berpengaruh dalam sejarah pergerakan Islam di Indonesia. Sejak usia muda, KH Wahid Hasyim telah menunjukkan perhatian besar terhadap pendidikan dan persoalan kebangsaan.
Latar belakang pesantren, tidak membuat pandangannya terbatas terhadap satu hal. Justru, ia dikenal memiliki pemikiran yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial.
Perjalanan politiknya semakin penting menjelang lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka. KH Wahid Hasyim menjadi anggota BPUPKI dan terlibat dalam proses pembahasan berbagai persoalan penting yang berkaitan dengan dasar serta bentuk negara Indonesia.
Keterlibatannya, menunjukkan bahwa kalangan ulama dan pesantren bukan berada di luar proses pembentukan negara. Sebaliknya, mereka ikut memberikan gagasan dalam menentukan arah Indonesia yang saat itu sedang dipersiapkan menuju kemerdekaan.
Salah satu karakter penting dari pemikiran KH Wahid Hasyim adalah kemampuannya melihat Islam dan kebangsaan sebagai dua hal yang dapat berjalan berdampingan. Baginya, nilai agama dapat menjadi sumber moral dalam kehidupan bernegara tanpa harus menghilangkan penghormatan terhadap keberagaman masyarakat Indonesia.
Pandangan tersebut, menjadi penting karena Indonesia sejak awal berdiri sebagai bangsa yang memiliki keragaman agama, suku, budaya, dan daerah. Karena itu, membangun negara membutuhkan sikap yang mampu mengakomodasi perbedaan sekaligus menjaga persatuan.
Setelah Indonesia merdeka, KH Wahid Hasyim dipercaya menduduki jabatan Menteri Agama dalam beberapa periode pemerintahan. Ia tercatat, sebagai salah satu tokoh penting dalam pembentukan dan pengembangan kelembagaan Kementerian Agama pada masa awal Republik Indonesia.
Sebagai tokoh yang berasal dari lingkungan pesantren sekaligus berada dalam pemerintahan, KH Wahid Hasyim memiliki posisi strategis. Yakni, dalam mempertemukan aspirasi keagamaan dengan kebutuhan negara yang baru berdiri.
Perannya menunjukkan, bahwa nilai-nilai pesantren dapat berkontribusi dalam membangun tata kehidupan berbangsa yang mengedepankan persatuan. Warisan pemikirannya tidak berhenti pada aktivitas politik dan pemerintahan.
KH Wahid Hasyim juga memberikan, perhatian besar terhadap pendidikan. Karena, ia melihat pendidikan sebagai salah satu jalan untuk membangun masyarakat yang berpengetahuan sekaligus memiliki karakter.
Gagasannya mengenai pendidikan berusaha mempertemukan pengetahuan agama dengan ilmu pengetahuan umum. Pendekatan tersebut, menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan generasi muda Muslim agar mampu menghadapi perubahan zaman.
Keteladanan KH Wahid Hasyim juga terlihat dari cara ia menempatkan perbedaan dalam kehidupan kebangsaan. Perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memecah persatuan, tetapi harus dikelola melalui dialog, penghormatan, dan kepentingan bersama.
Nilai tersebut, tetap relevan ketika Indonesia menghadapi tantangan baru di era digital. Arus informasi yang begitu cepat dapat memperbesar potensi konflik apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk menyaring informasi dan menghormati perbedaan.
Karena itu, semangat moderasi dan persatuan yang menjadi bagian dari warisan pemikiran KH Wahid Hasyim dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda. Menjadi warga negara bukan hanya soal menggunakan hak, tetapi juga menjalankan tanggung jawab untuk menjaga persaudaraan dan keutuhan bangsa.
Peringatan Hari Santri pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang sejarah perjuangan para ulama dan santri. Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk meneruskan nilai pengabdian, pendidikan, persatuan, dan tanggung jawab kebangsaan yang telah diwariskan para pendahulu.
KH Wahid Hasyim memberikan pelajaran, seorang santri dapat mengambil peran penting dalam kehidupan bangsa tanpa harus meninggalkan identitas dan nilai keagamaannya. Dari pesantren hingga panggung kenegaraan, perjuangannya menunjukkan bahwa agama, pendidikan, dan kebangsaan dapat menjadi kekuatan bersama untuk membangun Indonesia.
Sumber:
• Kementerian Agama RI
• Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud
• Sekretariat Negara Republik Indonesia,
• KPU Papua Pegunungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....