Ini Daftar Kejadian Gempa Bumi Besar NTT dari Tahun ke Tahun
- 16 Agt 2026 11:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BNPB mencatat, ratusan gempa susulan yang signifikan terjadi setelah gempa utama Magnitudo 7,7 mengguncang NTT, Sabtu, 15 Agustus 2026. Gempa bumi susulan tersebut, tercatat dengan magnitudo 5,5 hingga 6,2.
- Lantas apakah bencana gempa bumi besar di NTT hanya terjadi di tahun 2026 ini? Melansir Dalam katalog gempa bumi merusak 1821-2025 milik BMKG, simak daftar kejadian gempa bumi yang mengguncang NTT
- Pada 15 Juli di Alor Timur, berkekuatan 6,4 magnitudo kedalaman 10 km. Sejumlah fasilitas umum dan rumah rusak.
RRI.CO.ID, Jakarta - BNPB mencatat, ratusan gempa susulan yang signifikan terjadi setelah gempa utama Magnitudo 7,7 mengguncang NTT, Sabtu, 15 Agustus 2026. Gempa bumi susulan tersebut, tercatat dengan magnitudo 5,5 hingga 6,2.
Lantas apakah bencana gempa bumi besar di NTT hanya terjadi di tahun 2026 ini? Melansir Dalam katalog gempa bumi merusak 1821-2025 milik BMKG, simak daftar kejadian gempa bumi yang mengguncang NTT.
Dalam katalog gempa bumi merusak 1821-2025 milik BMKG, NTT sudah berkali-kali diguncang gempa dan tsunami. Mulai dari tidak ada korban jiwa, sampai kejadian yang mengakibatkan ribuan orang tewas dan hilang.
Berikut daftar kejadian gempa di NTT dengan skala 5-7 magnitudo:
• Tahun 1975
Pada 30 Juli di Kupang, berkekuatan 6,1 skala richter pada kedalaman 30 km. Tidak ada korban jiwa.
• Tahun 1989
Pada 15 Juli di Alor Timur, berkekuatan 6,4 magnitudo kedalaman 10 km. Sejumlah fasilitas umum dan rumah rusak.
• Tahun 1991
Pada 4 Juli di Kalabahi, Alor berkekuatan 6,2 magnitudo kedalaman 29 km. 23 orang meninggal, 181 luka-luka, 5.400 kehilangan tempat tinggal, 1.150 bangunan hancur.
• Tahun 1992
Pada 12 Desember di Flores, berkekuatan 7,9 magnitudo pada kedalaman 35 km dengan tsunami. Sekitar 2.500 orang meninggal/hilang, sekitar 90 persen bangunan Maumere hancur.
• Tahun 2004
Pada 12 November di Kalabahi, Alor, berkekuatan 6,5 magnitudo pada kedalaman 10 km, 31 meninggal, 400 luka-luka, sekitar 500 rumah dan sejumlah bangunan rusak.
• Tahun 2015
Pada 4 November di Alor, berkekuatan 6,2 magnitudo, kedalaman 89 km. Fasilitas rusak berat.
• Tahun 2016
Pada 12 Februari di Sumba Barat, berkekuatan 6,6 magnitudo pada kedalaman 10 km. Sejumlah bangunan rusak.
• Tahun 2021
Pada 14 Desember di Flores, terdapat gempa berkekuatan 7,5 magnitudo di kedalaman 12 km. Dinyatakan ada tsunami setinggi 0,07 m 5.064 warga mengungsi, 736 rumah rusak dan potensi tsunami 0,07 m.
• Tahun 2024
Pada 25 Januari 2024 di Kabupaten Nagekeo berkekuatan 5,6 magnitudo pada kedalaman 11 km tidak ada korban jiwa hanya rumah dan fasilitas umum rusak.
• Tahun 2026
Pada 15 Agustus 2026, gempa berkekuatan 7,0 magnitudo memicu tsunami di berbagai wilayah dengan korban jiwa 47 orang tewas dan dan ratusan rumah rusak.
Pemerintah memastikan, bergerak cepat mengaktifkan posko penanggulangan bencana alam. Posko tersebut, guna mempercepat penanganan dampak gempa Magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu pagi, 15 Agustus 2026.
Kepala BNPB, Suharyanto mengatakan, keputusan tersebut diambil dalam rapat koordinasi sebagai langkah memperkuat penanganan darurat di wilayah terdampak. Aktivasi posko itu, nantinya membuat berbagai mekanisme penanggulangan bencana dapat segera dijalankan secara terkoordinasi.
"Pemerintah fokus pada keselamatan warga yang masih membutuhkan pertolongan setelah sejumlah bangunan dilaporkan mengalami kerusakan akibat guncangan gempa. Dalam rapat koordinasi, kami sepakat untuk segera mengaktifkan posko penanggulangan bencana,” kata Suharyanto dalam keterangan persnya, di Jakarta, Minggu, 16 Agustus 2026.
Menurutnya, seluruh kebutuhan penanganan bencana akan diaktifkan sesuai ketentuan yang berlaku. Tahap pertama yang menjadi prioritas pemerintah, mencari dan mengevakuasi warga yang diduga masih terjebak di dalam bangunan runtuh.
Ia menuturkan, operasi pencarian dan pertolongan korban gempa akan melibatkan tim gabungan dari berbagai unsur. Seperti, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), TNI, serta Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
“Ada beberapa masyarakat yang disinyalir masih memerlukan pertolongan, ada yang terjebak di beberapa bangunan. Ini menjadi sasaran awal dari tim penanganan bencana,” ucap Suharyanto.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....