Gempa NTT, Kemkomdigi Lakukan Pemulihan 200 BTS yang Alami Gangguan

  • 16 Agt 2026 09:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gempa berkekuatan M7,7 di Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 15 Agustus 2026 menyebabkan gangguan pada 200 Base Transceiver Station (BTS) di 10 kabupaten/kota.
  • Kementerian Komunikasi dan Digital terus memantau kondisi jaringan telekomunikasi yang terdampak untuk memastikan layanan pulih dengan cepat.
  • Kemkomdigi berkoordinasi dengan operator telekomunikasi untuk mempercepat proses pemulihan infrastruktur digital yang rusak akibat bencana alam ini.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mencatat 200 site atau Base Transceiver Station (BTS) mengalami gangguan di 10 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur (NTT). Diketahui, gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah NTT, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kemkomdigi, Wayan Toni Supriyanto mengatakan pihaknya terus memantau kondisi jaringan. Sekaligus berkoordinasi dengan operator telekomunikasi untuk mempercepat pemulihan layanan.

“Sebanyak 16,35 persen BTS di wilayah yang teridentifikasi terdampak mengalami gangguan. Komdigi terus memantau kondisi jaringan dan berkoordinasi langsung dengan operator seluler untuk memastikan gangguan dapat segera ditangani,” kata Wayan dalam keterangan tertulis di Jakarta, dikutip Minggu, 16 Agustus 2026.

Ia memastikan, Kemkomdigi terus melakukan pemantauan melalui PMT bersama Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio (Balmon SFR), pemerintah daerah, dan penyelenggara telekomunikasi. Wayan mengatakan, proses pemulihan tetap mempertimbangkan kondisi di lapangan, termasuk keselamatan petugas yang melakukan pemeriksaan dan perbaikan jaringan.

“Keselamatan petugas dan akses publik terhadap telekomunikasi menjadi pertimbangan utama. Utamanya dalam proses pemeriksaan dan pemulihan di lapangan,” ujarnya.

Menurut Wayan, kondisi jaringan dapat berubah setelah terjadi bencana sehingga data mengenai BTS terdampak terus diperbarui berdasarkan laporan operator dan hasil pemantauan lapangan. “Kondisi jaringan sangat dinamis setelah terjadi bencana,” ucapnya.

“Oleh karena itu, data terus kami perbarui berdasarkan laporan operator dan hasil pemantauan di lapangan. Begitu kondisi memungkinkan, penanganan teknis akan dilakukan pada siteyang mengalami gangguan,” ujarnya.

Adapun gangguan BTS tersebar di Kabupaten Sikka, Ende, Flores Timur, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur. Kemudian di Ngada, Nagekeo, Lembata, dan Timor Tengah Utara.

Gangguan BTS terbanyak tercatat di Kabupaten Sikka dengan 51 BTS, disusul Kabupaten Ende sebanyak 31 BTS. Sementara di Kabupaten Flores Timur sebanyak 26 BTS.

Di Kabupaten Sikka, sebanyak 51 dari 192 BTS terdampak atau 26,56 persen. Di Kabupaten Ende mencatat 31 dari 118 BTS terdampak atau 26,27 persen.

Selanjutnya, Kabupaten Flores Timur mengalami gangguan pada 26 dari 161 BTS atau 16,15 persen. Kabupaten Manggarai 22 dari 150 BTS atau 14,67 persen, dan Kabupaten Manggarai Barat 17 dari 141 BTS atau 12,06 persen.

Sementara itu, Kabupaten Manggarai Timur mencatat 16 dari 80 BTS terdampak atau 20 persen. Kabupaten Ngada sebanyak 13 dari 101 BTS atau 12,87 persen, Kabupaten Nagekeo 11 dari 73 BTS atau 15,07 persen.

Adapun di Kabupaten Lembata 10 dari 73 BTS atau 13,70 persen, serta Kabupaten Timor Tengah Utara tiga dari 134 BTS atau 2,24 persen. Dari hasil pemantauan sementara, tiga operator seluler, yakni Telkomsel, XLsmart, dan Indosat, mengalami gangguan jaringan di sejumlah wilayah terdampak.

Pada jaringan Telkomsel, gangguan BTS antara lain disebabkan terganggunya pasokan listrik di wilayah terdampak. XLsmart juga melaporkan gangguan layanan, terutama di wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa.

Sementara itu, Indosat masih melakukan pemantauan intensif melalui tim teknis. Selain gangguan pasokan listrik, koordinasi dengan operator juga menemukan gangguan pada jaringan transmisi akibat gempa.

Kemkomdigi mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk mengutamakan keselamatan serta mengikuti informasi dan arahan resmi dari BMKG, pemerintah daerah, dan lembaga penanganan bencana.

Pemantauan terhadap kondisi jaringan dan proses pemulihan layanan telekomunikasi akan terus dilakukan secara berkala sesuai perkembangan di lapangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....