Presiden Prabowo Sapa 8 Tamu Istimewa dalam Sidang Paripurna DPR-DPD 2026

  • 14 Agt 2026 13:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI 2026 menghadirkan delapan tamu istimewa. Mereka merupakan masyarakat yang merasakan langsung manfaat berbagai program pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto.

Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI berlangsung di Gedung Kura-kura, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026. Keberadaan delapan warga tersebut menjadi bagian berbeda dalam pelaksanaan sidang tahun ini.

Satu per satu, Presiden Prabowo menyapa mereka ketika menyampaikan pidato kenegaraan. Para tamu berasal dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang kehidupan berbeda.

Mereka antara lain petani penerima manfaat pupuk bersubsidi, siswa penerima Makan Bergizi Gratis (MBG), serta siswa Sekolah Rakyat. Selain itu, terdapat penerima bantuan sosial, bantuan perbaikan rumah, hingga penerima KPR subsidi.

Berikut profil delapan tamu istimewa yang disapa Presiden Prabowo:

  1. Joko Purnomo, Petani dari Ngawi

Joko Purnomo merupakan Ketua Kelompok Tani Sri Makmur dari Desa Purwosari, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Ia telah sekitar 20 tahun menekuni sektor pertanian, khususnya budidaya padi.

Joko dikenal sebagai petani yang menerapkan berbagai inovasi dalam pengelolaan lahan pertanian. Ia menggunakan teknologi pertanian, termasuk metode DAPOG dan sumur submersible untuk meningkatkan produktivitas.

Penerapan teknologi tersebut membuat Joko mampu melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun. Produktivitas lahannya juga mencapai sekitar sembilan ton padi per hektare.

Menurut pemerintah, keberhasilan tersebut turut didukung program pupuk bersubsidi. Penurunan harga pupuk dinilai membantu menekan biaya produksi dan mengurangi beban modal petani.

Prabowo menyebut Joko sebagai salah satu petani yang merasakan manfaat kebijakan tersebut. Kepala Negara juga menyoroti kemampuan Joko meningkatkan produktivitas pertaniannya.

"Hari ini hadir di tengah-tengah kita saudara Joko Purnomo. Beliau adalah Ketua Kelompok Tani dari Desa Purwosari, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur," kata Presiden Prabowo.

"Pak Joko telah 20 tahun bertani, menggunakan teknologi dan pupuk yang telah disediakan pemerintah. Ia sekarang bisa panen tiga kali setahun, dengan produktivitas sembilan ton padi per hektare," ujar Presiden.

  1. Kristina Beno, Siswi dari Papua Selatan

Kristina Beno merupakan siswi kelas VI sekolah dasar asal Merauke, Papua Selatan. Ia tumbuh dalam keluarga petani dengan kondisi ekonomi yang sederhana.

Kondisi tersebut membuat pemenuhan kebutuhan pangan bergizi menjadi salah satu tantangan bagi keluarganya. Kehadiran Program Makan Bergizi Gratis kemudian membantu memenuhi kebutuhan asupan harian Kristina.

Program tersebut juga disebut memberikan dampak terhadap aktivitas Kristina di sekolah. Ia menjadi lebih bugar, memiliki fokus belajar lebih baik, dan lebih rajin hadir di sekolah.

Presiden Prabowo secara khusus menyapa Kristina dalam pidatonya. Kepala Negara bahkan menyampaikan harapan agar Kristina kelak dapat kembali hadir di Gedung Parlemen dalam posisi berbeda.

"Hari ini hadir bersama kita Kristina Beno. Ia adalah siswi kelas enam sekolah dasar dari Merauke, Papua Selatan," ujar Presiden Prabowo.

"Kristina, terima kasih. Pertama kali kamu hadir di MPR ini? Suatu saat nanti, mungkin kamu duduk di atas sini," ucap Kepala Negara.

Presiden kemudian menjelaskan manfaat MBG yang dirasakan Kristina dalam kesehariannya. Menurutnya, program tersebut membantu Kristina menjadi lebih sehat sekaligus meningkatkan kehadirannya di sekolah.

"MBG membantu Kristina menjadi lebih bugar, lebih fokus. Bahkan lebih rajin hadir di sekolah," kata Presiden.

  1. Muhammad Risky Pratama, Siswa Sekolah Rakyat

Muhammad Risky Pratama merupakan siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan. Anak berusia 12 tahun tersebut sebelumnya menjalani kehidupan yang penuh keterbatasan.

Risky pernah mengayuh sepeda hingga puluhan kilometer sambil membawa sekitar 30 kilogram ikan. Ikan tersebut dibawanya untuk dijual demi membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Pada usia sekolah, Risky harus ikut bekerja dan hidup jauh dari orang tuanya. Ia kemudian diasuh oleh kakek dan neneknya dalam kondisi keluarga yang terbatas.

Kondisi tersebut turut membuat Risky sempat putus sekolah. Ia juga belum lancar membaca dan menghitung sebelum mendapatkan kesempatan belajar melalui Sekolah Rakyat.

Kini Risky kembali mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan. Sekolah Rakyat menjadi ruang bagi Risky untuk belajar, berkembang, dan kembali membangun cita-citanya.

Prabowo menyampaikan kisah Risky saat memperkenalkan siswa tersebut kepada peserta sidang. Ia menekankan perjalanan hidup Risky sebelum mendapatkan kesempatan belajar kembali.

"Salah satu siswanya adalah Muhammad Risky Pratama, usia 12 tahun. Risky adalah siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama 2 Medan," ujar Presiden Prabowo.

"Risky pernah mengayuh sepeda puluhan kilometer. Bahkan sambil membawa sekitar 30 kilogram ikan untuk dijual," kata Presiden.

Kepala Negara mengatakan, Risky sempat mengalami putus sekolah. Selain itu, kemampuan membaca dan menghitung Risky sebelumnya masih belum lancar.

"Ia sempat putus sekolah. Sehingga memang belum lancar membaca serta menghitung," kata Presiden Prabowo.

  1. Citra Nur Ramadhani, Siswi Sekolah Rakyat

Citra Nur Ramadhani berasal dari Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan. Ia merupakan salah satu siswi Sekolah Rakyat yang memiliki pengalaman hidup penuh tantangan.

Saat duduk di kelas IV sekolah dasar, Citra hampir putus sekolah. Kondisi tersebut terjadi karena Citra harus membantu ibunya berjualan kacang di sekitar wilayah Pangkep.

Ayah Citra telah meninggal dunia, sedangkan ibunya merupakan penyandang disabilitas. Sang ibu bekerja sebagai buruh cuci dari rumah ke rumah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Kondisi ekonomi tersebut tidak menghentikan Citra mengejar pendidikan. Setelah mengikuti Sekolah Rakyat, Citra kembali memperoleh kesempatan belajar dan mengembangkan kemampuannya.

Citra juga menunjukkan prestasi di bidang akademik dan olahraga. Ia berhasil meraih juara karate tingkat Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.

Presiden Prabowo menyampaikan perjalanan Citra saat memperkenalkannya dalam sidang. Menurutnya, Sekolah Rakyat memberikan kesempatan kepada Citra untuk tetap belajar.

"Hadir pula Citra Nur Ramadhani dari Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan di Provinsi Sulawesi Selatan. Ketika kelas empat sekolah dasar, Citra hampir putus sekolah karena harus membantu ibunya berjualan kacang," ujarnya.

Presiden Prabowo menyebut ayah Citra telah wafat dan ibunya merupakan penyandang disabilitas. Ia mengatakan Sekolah Rakyat memberikan kesempatan bagi Citra untuk melanjutkan pendidikan.

"Sekolah Rakyat memberi Citra kesempatan untuk belajar tanpa meninggalkan keluarganya menghadapi perjuangan sendirian. Citra pun kemarin berhasil juara karate tingkat Kabupaten," ujar Presiden.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga sempat menanyakan usia Citra. Saat mengetahui Citra masih berusia 10 tahun, Kepala Negara memberikan pesan bernada ringan kepadanya.

"Citra umurmu berapa? 10 tahun? Ya nanti, 10 tahun lagi lah kau boleh pacaran," ujar PresidenPrabowo.

  1. Susanah, Penerima PKH dan Program Sembako

Susanah merupakan warga Kabupaten Bogor yang hidup dalam kondisi ekonomi rentan. Suaminya bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan yang tidak tetap.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, Susanah juga mencari penghasilan tambahan. Ia bekerja menjahit kain majun dengan upah sekitar Rp700 per kilogram.

Susanah juga menjadi petugas pencuci ompreng Program Makan Bergizi Gratis. Pekerjaan tersebut memberikan tambahan penghasilan meskipun sifatnya tidak tetap.

Susanah bersama suaminya harus memenuhi kebutuhan tiga anak. Dalam kondisi pendapatan keluarga yang terbatas, bantuan sosial menjadi salah satu penopang pemenuhan kebutuhan dasar.

Susanah menerima manfaat Program Keluarga Harapan dan Program Sembako. Bantuan tersebut turut membantu keluarga mempertahankan keberlangsungan pendidikan anak-anaknya.

Prabowo memperkenalkan Susanah sebagai salah satu penerima manfaat program perlindungan sosial. Ia menyebut pekerjaan Susanah sebagai buruh harian dengan pendapatan yang terbatas.

"Hadir bersama kita Ibu Susanah dari Kabupaten Bogor. Ia bekerja sebagai buruh harian mengupas bawang dengan upah sekitar Rp700 per kilogram," katanya.

Presiden mengatakan, bantuan sosial yang diterima Susanah turut membantu keluarganya. Bantuan tersebut terutama mendukung keberlanjutan pendidikan anak-anaknya.

"Program Keluarga Harapan dan Program Sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya. Anak-anak bisa bersekolah," kata Presiden Prabowo.

  1. Margarelitha Rohi, Penerima Bansos ATENSI

Margarelitha Rohi merupakan warga Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang sejak kecil hidup dalam keterbatasan ekonomi. Ia kemudian tinggal bersama tantenya yang juga menghadapi kesulitan ekonomi.

Margarelitha tidak pernah mengenyam pendidikan formal sejak kecil. Ia membantu tantenya berjualan sirih dan pinang dari satu desa ke desa lainnya.

Seiring berjalannya waktu, Margarelitha menjalankan usaha tersebut secara mandiri. Ia berjualan sirih dan pinang di sekitar Terminal Kupang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kini, Margarelitha berusia 38 tahun dan masih menjalankan aktivitas tersebut. Ia juga tinggal bersama tantenya yang telah berusia sekitar 80 tahun.

Kondisi ekonomi Margarelitha membuat bantuan pemerintah menjadi penting dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia menerima Bantuan Sosial ATENSI berupa beras dan minyak secara rutin.

Kepala Negara menyebut Margarelitha sebagai salah satu masyarakat yang hadir dalam sidang. Ia menyoroti perjalanan hidup Margarelitha yang sejak kecil tidak mendapatkan kesempatan pendidikan.

"Hadir pula Ibu Margarelitha Rohi dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sejak kecil ia hidup dalam kesulitan dan tidak pernah mengenyam pendidikan," katanya.

Presiden menyebut Margarelitha masih berdagang sekaligus merawat tantenya. Menurutnya, bantuan sosial ATENSI turut menopang kehidupan Margarelitha dan keluarganya.

"Pada usia 38 tahun, ia masih berdagang serta merawat tantenya yang berusia 80 tahun. Bantuan Sosial ATENSI berupa beras dan minyak menjadi penopang keluarganya," ujar Presiden.

  1. Thelma Humena, Penerima Bantuan Perbaikan Rumah

Thelma Humena merupakan warga Kota Manado yang tinggal bersama suami dan dua anaknya. Sebelumnya, keluarga tersebut menempati rumah yang kondisinya tidak memenuhi standar hunian layak.

Sejumlah bagian rumah mengalami kerusakan dan membutuhkan perbaikan. Kondisi tersebut meliputi fondasi, dinding, lantai, serta bagian penutup atap.

Struktur bangunan juga tidak memiliki sejumlah komponen yang memadai. Kondisi tersebut membuat rumah kurang aman, sehat, dan nyaman untuk ditempati.

Thelma kemudian mendapatkan bantuan melalui Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Program tersebut membantu meningkatkan kualitas rumah yang ditempati keluarganya.

Melalui bantuan tersebut, keluarga Thelma memperoleh kesempatan memperbaiki hunian mereka. Perbaikan rumah diharapkan memberikan tempat tinggal yang lebih aman dan layak bagi keluarga.

Prabowo menyebut kondisi rumah Thelma sebelum mendapatkan bantuan. Ia kemudian menjelaskan perubahan yang terjadi setelah program BSPS diberikan.

"Hadir bersama kita hari ini Ibu Thelma Humena dari Kota Manado. Rumahnya dahulu memiliki fondasi rapuh, dinding, lantai, dan atap yang rusak," ujarnya.

Presiden Prabowo mengatakan program BSPS membantu keluarga Thelma memperbaiki rumah. Bantuan tersebut membuat keluarga Thelma memiliki hunian yang lebih layak.

"Melalui BSPS, keluarganya dapat memperbaiki rumah itu. Ini menjadi hal penting," ucap Presiden.

  1. Andre Kawaru, Pedagang Kelinci Pemilik Rumah Subsidi

Andre Kawaru merupakan warga Samarinda, Kalimantan Timur, yang bekerja sebagai pedagang kelinci. Ia menjalankan usaha tersebut dari satu pasar malam ke pasar malam lainnya.

Sebagai pekerja sektor informal, penghasilan Andre bergantung pada aktivitas perdagangan yang tidak selalu tetap. Kondisi tersebut membuat kepemilikan rumah sempat menjadi sesuatu yang sulit diwujudkan.

Selama bertahun-tahun, Andre bersama keluarganya tinggal di rumah kontrakan. Penghasilan dari berjualan kelinci harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membayar biaya tempat tinggal.

Kondisi tersebut berubah setelah Andre mendapatkan manfaat KPR Subsidi FLPP. Melalui program tersebut, ia kini dapat memiliki rumah sendiri.

Rumah Andre berada di kawasan Perumahan Palaran Indah Residence, Samarinda. Kepemilikan rumah tersebut memberikan kepastian tempat tinggal bagi Andre dan keluarganya.

Presiden menyebut Andre sebagai salah satu masyarakat yang mendapatkan manfaat program perumahan. Ia menyoroti perjuangan Andre sebagai pedagang kelinci yang berpindah dari satu pasar malam ke pasar lainnya.

"Hadir pula Bapak Andre Kawaru dari Samarinda. Ia berdagang kelinci dari satu pasar malam ke pasar malam lain dan bertahun-tahun hidup di rumah kontrakan," katanya.

Presiden kemudian menyampaikan perubahan yang dialami Andre setelah memperoleh KPR Subsidi FLPP. Menurutnya, program tersebut memberikan kesempatan bagi Andre untuk memiliki rumah sendiri.

Prabowo juga menekankan arti kepemilikan rumah bagi masyarakat. Ia menilai rumah memiliki makna lebih luas daripada sekadar aset.

"Melalui KPR Subsidi FLPP, Pak Andre kini memiliki rumah sendiri. Bagi keluarga Pak Andre dan jutaan rakyat Indonesia, rumah bukan sekadar aset, namun rumah adalah ketenangan, martabat, dan masa depan," ujar Presiden..

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....