After Multatuli Left, Arjan Soroti Warisan Multatuli di Lebak

  • 14 Agt 2026 22:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Arjan Onderdenwijngaard luncurkan buku tentang perubahan sosial dan budaya masyarakat Lebak lintas generasi.
  • Pemikiran Multatuli dinilai masih relevan untuk melihat ketidakadilan, kekuasaan, dan persoalan sosial masa kini.
  • Buku memadukan sejarah dan kondisi Lebak terkini, setelah Arjan kembali mengunjungi warga yang ditemuinya 32 tahun lalu.

RRI.CO.ID, Jakarta - Arjan Onderdenwijngaard resmi meluncurkan buku 'After Multatuli Left: Lebak Trapped Between Local Feudalism and Dutch Colonialism'. Buku tersebut menyoroti perubahan sosial dan budaya masyarakat Lebak serta dampak pemikiran Multatuli lintas generasi.

Arjan yang kini menetap di Depok, Jawa Barat, kembali mengunjungi Lebak untuk melihat kehidupan masyarakat setelah 32 tahun berlalu. Ia juga menemui kembali sejumlah warga yang pernah dikenalnya untuk melihat perubahan kehidupan mereka dari waktu ke waktu.

Dalam bukunya, ia mempertanyakan sejauh mana generasi sekarang memahami pesan 'Max Havelaar' dalam melihat ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan. Menurutnya, pemikiran Multatuli masih relevan untuk melihat persoalan sosial yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.

"Apakah generasi sekarang yang membaca Max Havelaar masih terinspirasi melawan ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan seperti pendahulunya dahulu?," katanya saat menghadiri peluncuran buku 'After Multatuli Left: Lebak Trapped Between Local Feudalism and Dutch Colonialism', Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta Selatan, Kamis malam, 13 Agustus 2026.

Ia mempertanyakan kemampuan generasi sekarang untuk mewujudkan perubahan mental yang sebelumnya belum berhasil dicapai masyarakat. Ia jugaa mengatakan perjalanan kembali ke Lebak menjadi bagian penting dalam proses penulisan buku yang kini hadir dalam Bahasa Indonesia tersebut.

Pengalaman itu membantunya membandingkan kondisi masyarakat Lebak dahulu dengan kehidupan mereka setelah melewati perubahan zaman. Buku tersebut juga diterbitkan Marjin Kiri setelah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia.

Karya tersebut menghadirkan potret sosiologis dan budaya mengenai posisi Multatuli dalam ingatan masyarakat Indonesia modern. Ia melihat sosok Multatuli dan karyanya terus mengalami perubahan makna di tengah masyarakat yang mengenalnya dari generasi ke generasi.

Menurutnya, perjalanan tersebut menarik karena pemikiran lama dapat kembali dibaca. Terutama untuk memahami persoalan sosial pada masa sekarang.

Plt. Pusat Kebudayaan Belanda, Stijn Kuipers mengatakan bahwa After Multatuli Left memberikan kesempatan untuk meninjau warisan Max Havelaar. "Buku tersebut kembali merenungkan bagaimana pertanyaan-pertanyaan di dalamnya mengenai ketidakadilan, kekuasaan, dan masyarakat masih tetap relevan hingga kini," ujarnya.

Ia menambahkan, peluncuran buku ini memadukan fillm, sastra, dan diskusi sejarah untuk mengajak melihat sejarah dari berbagai sudut pandang. "Pertukaran gagasan yang terbuka dan mendalam seperti ini merupakan inti dari peran Erasmus Huis untuk mendorong dialog dan pemahaman antara kedua negara," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....