Perpusnas Ingatkan Risiko Digitalisasi Buku di Era AI

  • 12 Agt 2026 04:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Akses terhadap informasi maupun sumber pengetahuan itu adalah hak publik.
  • Pemusnahan buku setelah pemindaian massal berpotensi menimbulkan persoalan akses, hak cipta, keaslian, serta keberlanjutan informasi masyarakat.
  • Harus memastikan sumber pengetahuan tersedia, sekaligus menjaga identifikasi sumber asli dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, keberadaan naskah fisik asli harus dipertahankan sebagai rujukan utama.
  • Penguatan literasi digital diperlukan untuk menghadapi potensi monopoli data, penipuan, hoaks, dan perundungan daring.

RRI.CO.ID, Jakarta - Digitalisasi buku berisiko mengurangi akses publik terhadap sumber pengetahuan yang kredibel menurut Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Pemusnahan buku setelah pemindaian massal juga berpotensi menimbulkan persoalan akses, hak cipta, dan keaslian sumber.

Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional Joko Santoso menegaskan akses informasi dan sumber pengetahuan merupakan hak publik. Ia menilai buku cetak edisi pertama tetap menjadi representasi autentik dari penulis dan sumber asli.

Joko menyampaikan pandangan tersebut saat berdialog bersama PRO3 RRI mengenai pentingnya mempertahankan sumber pengetahuan asli yang kredibel. Perpustakaan menghadapi perkembangan teknologi digital yang memengaruhi cara masyarakat mengakses dan menyimpan pengetahuan.

“Kita harus memastikan sumber pengetahuan tersedia, sekaligus menjaga identifikasi sumber asli dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, keberadaan naskah fisik asli harus dipertahankan sebagai rujukan utama”, kata Joko, Selasa, 11 Agustus 2026.

Joko menilai perpustakaan perlu menjaga etika ilmiah, legalitas, serta kredibilitas sumber menghadapi perkembangan kecerdasan buatan. Ia juga mengingatkan pentingnya menghargai hak kekayaan intelektual dalam penggunaan teknologi digital.

Penyimpanan pengetahuan digital membutuhkan literasi kuat agar masyarakat mampu menghadapi berbagai risiko ruang daring. Joko menyebut risiko tersebut mencakup penipuan, hoaks, dan perundungan daring yang memerlukan sikap bijak.

Joko menjelaskan potensi penguasaan data perusahaan dapat membatasi akses masyarakat terhadap sumber pembanding gratis. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan persoalan etika digital dan kebutuhan penguatan literasi masyarakat.

"Ada potensi monopoli data oleh perusahaan sehingga rujukan referensi menjadi terbatas dan yang menjadi soal adalah etika digital, sehingga penguatan literasi digital di masyarakat sangat penting,” ujarnya.

Perpustakaan Nasional terus memperluas konten digital, layanan daring, serta alih media koleksi tanpa menghilangkan buku fisik. Lembaga tersebut menghadapi tantangan menjamin kredibilitas, identifikasi, orisinalitas, dan otoritas sumber pengetahuan.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan juga mendorong sejumlah perusahaan membeli buku bekas untuk kebutuhan pengembangan teknologi. Beberapa perusahaan kemudian disebut memusnahkan jutaan buku yang telah mereka beli sebelumnya.

Anthropic, perusahaan pembuat Claude, menjadi salah satu perusahaan yang disebut melakukan praktik tersebut dalam informasi sebelumnya. Dokumen terkait menunjukkan perusahaan menyadari potensi dampak citra apabila tindakan tersebut diketahui publik.

Inisiatif rahasia bernama Project Panama terungkap melalui gugatan sekelompok penulis terhadap Anthropic pada pertengahan tahun sebelumnya. Kasus tersebut kemudian disepakati melalui penyelesaian damai dengan nilai ganti rugi US$1,5 miliar pada Agustus 2025.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....