Buku Rekam Gagasan Ma'ruf Amin, Tekankan NU Bertumpu pada Kualitas
- 06 Agt 2026 01:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakil Presiden ke-13 RI K.H. Ma'ruf Amin menilai, Nahdlatul Ulama (NU) perlu membangun kualitas warganya sebagai fondasi memasuki abad kedua organisasi.
- Gagasan tersebut menjadi benang merah dalam buku Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdliyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin yang diluncurkan, Rabu, 5 Agustus 2026, malam di Jakarta.
- Buku yang ditulis Siti Haniatunnisa dan Muhammad Zainal Arifin itu mendokumentasikan berbagai pemikiran Ma'ruf Amin.
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia K.H. Ma'ruf Amin menilai Nahdlatul Ulama perlu memperkuat kualitas warganya. Langkah strategis tersebut menjadi fondasi utama bagi organisasi keagamaan ini dalam memasuki abad kedua.
Gagasan penting itu tertuang penuh dalam buku karya Siti Haniatunnisa dan Muhammad Zainal Arifin. Peluncuran karya literatur tersebut berlangsung secara resmi pada hari Rabu, 5 Agustus 2026, di Jakarta.
K.H. Ma'ruf Amin menyampaikan pandangan tersebut saat memberikan keterangan pers peluncuran buku di Jakarta. Tantangan utama Nahdlatul Ulama pada abad kedua bukan lagi sekadar memperbesar jumlah anggota organisasi.
"Saya ingin ke depan NU dibangun lebih menitikberatkan pada kualitas warga NU, bukan kuantitas. NU itu bukan sekadar identitas, tetapi betul-betul pemahaman," ujar Ma'ruf saat konferensi pers peluncuran buku.
Ma'ruf mendorong pembentukan jamaah berbasis pemahaman kuat yang tidak sekadar mengikuti tradisi keluarga semata. Gagasan pembentukan fondasi internal organisasi keagamaan tersebut disebut sebagai konsep pembangunan NU ala bashirah.
"Dasarnya adalah pemahaman yang kuat, bukan sekadar ikut karena guru, teman, bapak, atau alasan lainnya. Kalau paham tentang hakikat NU, keyakinannya akan kuat dan tidak mudah goyah," ucap Wapres RI ke-13 itu.

Ia menjelaskan bahwa pilar utama organisasi mencakup aspek fikrah, manhaj, serta pilar gerakan harakah. Prinsip cara berpikir moderat warga organisasi keagamaan tetap berakar kuat pada tradisi keilmuan ulama.
"NU itu tidak statis, tetapi juga tidak liberal. Ada akarnya, ada sumbernya, kemudian mengalami proses dinamis sehingga bisa menjawab perubahan zaman dengan metodenya sendiri," ujarnya.
Penulis buku Siti Haniatunnisa menceritakan proses panjang pendokumentasian pemikiran K.H. Ma'ruf Amin dalam karyanya. Putri bungsu Ma'ruf Amin ini merangkum rekam jejak ceramah serta diskusi ilmiah sang tokoh.
“Beliau tumbuh bersama NU, berkhidmat di NU, memimpin NU dan menyaksikan bagaimana NU menghadapi berbagai perubahan zaman. Pengalaman panjang itu bukan sekadar perjalanan organisasi tetapi juga perjalanan ilmuwan yang sangat berharga,” ujar Siti Haniatunnisa yang juga merupakan putri bungsu K.H. Ma’ruf Amin.
Siti menegaskan bahwa penerbitan karya literatur keagamaan tersebut bertujuan meneruskan warisan pemikiran para ulama. Buku tersebut sama sekali tidak dimaksudkan untuk menawarkan wajah baru dalam sejarah panjang organisasi.
“Melainkan ikhtiar sederhana untuk mendokumentasikan dan meneruskan warisan pemikiran para ulama sebagaimana dijelaskan oleh K.H. Maruf Amin,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....