Ratu Zaleha, Pejuang Perempuan dari Kalimantan Selatan yang Jarang Diketahui
- 14 Agt 2026 10:06 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nama Ratu Zaleha di masyarakat Indonesia, mungkin belum sepopuler Pangeran Antasari atau Cut Nyak Dien. Tetapi, Ratu Zaleha selaku perempuan asal Kalimantan Selatan (Kalsel) ini memiliki kisah perjuangan yang tidak kalah heroik.
- Ratu Zaleha menjadi salah satu tokoh perempuan yang meneruskan perlawanan keluarga Kesultanan Banjar. Tepatnya, ketika kekuatan kolonial Belanda semakin menekan para pejuang di pedalaman Kalimantan.
- Ratu Zaleha merupakan putri Sultan Muhammad Seman dan cucu Pangeran Antasari, tokoh besar dalam Perang Banjar. Ratu Zaleha juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Nama Ratu Zaleha di masyarakat Indonesia, mungkin belum sepopuler Pangeran Antasari atau Cut Nyak Dien. Tetapi, Ratu Zaleha selaku perempuan asal Kalimantan Selatan (Kalsel) ini memiliki kisah perjuangan yang tidak kalah heroik.
Ratu Zaleha menjadi salah satu tokoh perempuan yang meneruskan perlawanan keluarga Kesultanan Banjar. Tepatnya, ketika kekuatan kolonial Belanda semakin menekan para pejuang di pedalaman Kalimantan.
Ratu Zaleha merupakan putri Sultan Muhammad Seman dan cucu Pangeran Antasari, tokoh besar dalam Perang Banjar. Ratu Zaleha juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Ratu Zaleha lahir dari keluarga yang memiliki tradisi perjuangan kuat. Hal tersebut, menumbuhkan semangatnya dalam mempertahankan tanah Banjar menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Perjuangan Ratu Zaleha
Perjuangan Ratu Zaleha berlangsung ketika Perang Banjar memasuki fase panjang dan semakin sengit. Ia berjuang bersama ayahnya dan para pejuang Banjar serta Dayak yang masih bertahan menghadapi Belanda.
Perang Banjar sendiri bermula pada 1859 dan menjadi salah satu perlawanan besar terhadap kolonialisme Belanda di Kalimantan Selatan. Konflik tersebut, tidak hanya berkaitan dengan persoalan kekuasaan Kesultanan Banjar.
Tetapi juga, berkembang menjadi perlawanan masyarakat terhadap semakin kuatnya campur tangan kolonial Belanda di wilayah tersebut. Dalam situasi perang yang semakin sulit, Ratu Zaleha ikut berada di tengah jaringan perjuangan yang mempertahankan wilayah pedalaman.
Kehadiran Ratu Zaleha, menunjukkan perlawanan terhadap Belanda tidak hanya digerakkan oleh laki-laki. Tetapi juga, melibatkan perempuan yang memiliki posisi penting dalam jaringan perjuangan masyarakat Banjar.
Ratu Zaleha juga dikenal memiliki hubungan erat dengan perjuangan masyarakat Dayak yang menjadi bagian dari kekuatan perlawanan di pedalaman Kalimantan. Keterlibatan perempuan dalam perjuangan tersebut, memperlihatkan adanya solidaritas lintas kelompok dalam menghadapi tekanan kolonial.
Salah satu fase paling berat terjadi ketika Belanda terus mempersempit ruang gerak para pejuang Banjar. Tekanan tersebut, semakin besar setelah Sultan Muhammad Seman gugur dalam pertempuran di kawasan Manawing pada 1905.
Kematian sang ayah, tidak serta-merta membuat Ratu Zaleha menghentikan perjuangan. Ia tetap menghadapi situasi perang yang semakin tidak menguntungkan ketika kekuatan Belanda terus mengejar sisa-sisa pasukan dan jaringan perlawanan Banjar.
Perjuangan tersebut, pada akhirnya menghadapkan Ratu Zaleha pada pilihan yang sangat berat. Setelah kondisi pasukan semakin terdesak dan keadaan fisiknya menurun, ia akhirnya menyerahkan diri kepada pemerintah kolonial Belanda pada 1906.
Setelah menyerahkan diri, Ratu Zaleha bersama keluarganya menjalani masa pengasingan di Pulau Jawa. Pengasingan tersebut, menjadi bagian dari konsekuensi yang harus diterimanya setelah bertahun-tahun berada dalam lingkaran perlawanan terhadap pemerintah kolonial.
Namun, pengasingan tidak menghapus jejak perjuangannya. Ratu Zaleha tetap dikenang sebagai salah satu tokoh perempuan yang menjadi bagian dari fase akhir perlawanan Kesultanan Banjar terhadap Belanda.
Bagi masyarakat Kalimantan Selatan, kisah Ratu Zaleha memiliki arti penting. Karena, perjuangannya merupakan kelanjutan dari tradisi perlawanan yang telah dibangun oleh keluarganya.
| Baca juga: Mentan Amran Akan Bertemu Komnas Perempuan |
Ia merupakan keturunan Pangeran Antasari yang meneruskan semangat perjuangan ketika kekuatan Kesultanan Banjar semakin melemah.
Ratu Zaleha juga menunjukkan, perempuan memiliki posisi penting dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Di tengah situasi perang, kehilangan anggota keluarga, tekanan militer, dan ancaman kolonial, ia tetap menjadi bagian dari perjuangan. Yaitu, dalam mempertahankan kehormatan dan tanah kelahirannya.
Setelah bertahun-tahun berada di tanah Jawa, Ratu Zaleha kemudian kembali ke Kalimantan Selatan. Ia menjalani masa akhir kehidupannya di tanah kelahirannya hingga meninggal dunia pada 24 September 1953.
Jenazah Ratu Zaleha kemudian dimakamkan di kawasan pemakaman yang berkaitan dengan keluarga Kesultanan Banjar di Banjarmasin. Keberadaan makam tersebut, menjadi salah satu pengingat tentang perjalanan panjang perjuangan keluarga kerajaan Banjar menghadapi kolonialisme.
Warisan Ratu Zaleha kemudian tidak hanya dikenang melalui catatan sejarah. Namanya juga digunakan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah Ratu Zalecha di Martapura, Kalimantan Selatan.
Lebih dari satu abad setelah perjuangannya, Ratu Zaleha tetap menjadi bagian penting dari ingatan sejarah masyarakat Kalimantan Selatan. Kisahnya memperlihatkan, perjuangan melawan kolonialisme merupakan perjalanan panjang yang melibatkan banyak generasi dan tidak hanya dilakukan oleh tokoh laki-laki.
Ratu Zaleha pada akhirnya bukan sekadar tokoh dari masa lalu. Ia adalah simbol keberanian perempuan Kalimantan yang memilih bertahan ketika kekuatan keluarganya, pasukannya, dan wilayah perjuangannya berada di bawah tekanan kolonial.
Sumber:
• Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi / Direktorat terkait sejarah dan cagar budaya mengenai Perang Banjar.
• Arsip dan literatur sejarah mengenai Pangeran Antasari, Sultan Muhammad Seman, dan Ratu Zaleha.
• Literatur sejarah lokal Kalimantan Selatan.
• Referensi mengenai Perang Banjar 1859–1905/awal abad ke-20 dan fase akhir perjuangan Kesultanan Banjar.
• Dokumentasi Pemerintah Kabupaten Banjar terkait RSUD Ratu Zalecha Martapura.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....