Kementrans Ubah Paradigma Transmigrasi Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi

  • 13 Agt 2026 09:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Transmigrasi mengubah paradigma transmigrasi dari pemindahan penduduk menjadi pembangunan kawasan ekonomi terintegrasi.
  • Pemerintah ingin membangun pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan transmigrasi, sehingga masyarakat datang secara sukarela karena tersedia peluang ekonomi.
  • Kementrans menggandeng 10 perguruan tinggi untuk menghadirkan sumber daya manusia unggul dan mengoptimalkan potensi ekonomi kawasan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Transmigrasi mengubah paradigma pembangunan transmigrasi menjadi pengembangan kawasan ekonomi terintegrasi. Pendekatan baru tersebut ditujukan untuk menarik masyarakat datang secara sukarela sekaligus mempercepat pemerataan pembangunan.

Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, mengatakan transmigrasi tidak lagi sekadar memindahkan penduduk. Ia menyebut, pemerintah kini membangun kawasan ekonomi yang mampu menciptakan peluang dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Saya selaku pembantu Presiden juga sangat concern dengan bagaimana pemanfaatan sumber daya manusia itu sendiri. Utamanya dalam melakukan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia," kata Mentrans Iftitah dalam konferensi pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Jakarta Pusat, Rabu, 12 Agustus 2026.

Iftitah menjelaskan program transmigrasi memiliki tiga tujuan utama sesuai Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997. Ketentuan tersebut telah disempurnakan melalui Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009, mencakup kesejahteraan, pemerataan pembangunan, serta persatuan nasional.

Menurutnya, persoalan kemiskinan dan ketimpangan menjadi perhatian pemerintah karena masih terjadi di tengah besarnya potensi sumber daya alam Indonesia. Kondisi tersebut mendorong pemerintah mengevaluasi pendekatan pembangunan transmigrasi agar memberikan dampak ekonomi lebih besar.

"Kalaupun pertumbuhan ekonomi naik, tapi yang kaya semakin kaya, yang miskin, makin miskin. Nah ini yang menjadi concern beliau (presiden) dan selalu membuat beliau terjaga dari tidurnya," ujarnya.

Iftitah mengatakan pemerintah kemudian melakukan kajian untuk mengubah pola pembangunan kawasan transmigrasi. Kawasan transmigrasi kini diarahkan menjadi wilayah yang memiliki aktivitas ekonomi dan ekosistem pembangunan secara terpadu.

"Bahwa hari ini, transmigrasi bukan hanya sekadar perpindahan penduduk. Tapi transmigrasi adalah membangun satu kawasan terintegrasi," ujarnya.

Ia menjelaskan pendekatan tersebut berbeda dengan pola transmigrasi sebelumnya yang lebih berorientasi pada pembangunan permukiman. Pemerintah kini mengutamakan pengembangan ekonomi agar kawasan mampu menciptakan daya tarik bagi masyarakat.

"Jadi bukan lagi seperti dulu hanya membangun rumah begitu, kemudian berbagi-bagi tanah, maka strateginya pun kita ubah. Yang tadinya memindahkan semut, sekarang mencetak gulanya, ada gula ada semut, madi bangun ekonominya, manusia akan datang secara sukarela dan mandiri," kata Iftitah.

Untuk memperkuat sumber daya manusia di kawasan transmigrasi, Kementerian Transmigrasi menggandeng 10 perguruan tinggi dalam program Transmigrasi Patriot. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menempatkan talenta unggul, memetakan kebutuhan dan potensi ekonomi masing-masing kawasan.

Iftitah menambahkan transformasi tersebut sekaligus menjadi strategi pemerintah memanfaatkan bonus demografi Indonesia. Pembangunan transmigrasi diarahkan dari sekadar penyediaan tempat tinggal menjadi pengembangan kawasan ekonomi yang terintegrasi.

"Pola lama itu tadi hanya membangun tempat tinggal dan kemudian bagi-bagi lahan. Sekarang menjadi pembangunan kawasan yang terintegrasi, utamanya kawasan ekonomi," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....