Raden Dewi Sartika, Sosok Pelopor Pendidikan Bagi Perempuan dari Jawa Barat

  • 10 Agt 2026 08:19 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dewi Sartika mendirikan Sekolah Isteri pada 1904 untuk memperluas akses pendidikan bagi kaum perempuan
  • Sekolah yang dirintis Dewi Sartika berkembang dan memperkenalkan berbagai keterampilan, termasuk memasak, membatik, serta pendidikan dasar
  • Dewi Sartika dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui SK Presiden Nomor 252 Tahun 1966

RRI.CO.ID, Jakarta - Raden Dewi Sartika merupakan tokoh pendidikan perempuan yang memperjuangkan akses pendidikan melalui pendirian sekolah khusus bagi kaum perempuan. Perjuangannya berkembang dari permainan sekolah-sekolahan masa kecil hingga menjadi lembaga pendidikan yang mendapat pengakuan pemerintah dan masyarakat.

Dilansir dari laman resmi Dinas Kebudayaan Yogyakarta, Raden Dewi Sartika lahir di Cicalengka, Jawa Barat, pada 4 Desember 1884. Ia merupakan putri Raden Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas, serta menempuh pendidikan di Cicalengka sejak masa kanak-kanak.

Di sekolah, Dewi Sartika dikenal sebagai murid yang cerdas dan memiliki ketertarikan terhadap kegiatan pendidikan. Sepulang sekolah, ia mengajak anak perempuan dari keluarga pelayan dan pegawai rendahan pamannya bermain sekolah-sekolahan.

Setelah ayahnya meninggal, Dewi Sartika kembali ke Bandung bersama ibunya ketika usianya telah memasuki masa remaja. Kebiasaan bermain sekolah-sekolahan tetap melekat dan kemudian berkembang menjadi cita-cita mendirikan sekolah bagi anak perempuan.

Keinginan tersebut disampaikan kepada ibunya dan beberapa orang lainnya, tetapi belum memperoleh dukungan yang cukup kuat. Dukungan kemudian datang dari kakeknya, R.A.A. Martanegara, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Bandung setempat.

Den Hamer, Inspektur Kantor Pengajaran, turut memberikan dukungan sehingga rencana Dewi Sartika mendirikan sekolah dapat diwujudkan. Pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka sekolah bernama Sekolah Isteri untuk mewujudkan cita-cita pendidikannya.

Sekolah Isteri pada awalnya menggunakan salah satu ruangan kantor kabupaten sebagai tempat belajar dengan kondisi yang sederhana. Dalam penyelenggaraannya, Dewi Sartika dibantu Purmo dan Uwit untuk mendampingi kegiatan pembelajaran para murid perempuan.

Pelajaran yang diberikan meliputi dasar berhitung, membaca, menulis, serta pendidikan agama bagi para peserta didik perempuan. Seiring waktu, Sekolah Isteri mendapat perhatian masyarakat, termasuk para pembesar pemerintah, sementara jumlah murid semakin bertambah.

Gagasan pendidikan Dewi Sartika juga dituangkan dalam tulisan berjudul De Inlandse Vrouw atau Wanita Bumiputera. Menurut gagasannya, pendidikan penting untuk membangun kekuatan serta kesehatan jasmani dan rohani anak-anak melalui konsep cageur-bageur.

Pada 1908, ketika berusia 22 tahun, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduran Agah Suriawinata, seorang guru sekolah. Suaminya kemudian turut mendukung pengembangan sekolah sehingga keduanya bersama-sama memperjuangkan kemajuan pendidikan bagi kaum perempuan.

Pada 1910, Sekolah Isteri berganti nama menjadi Sekolah Keutamaan Isteri dengan tambahan materi pembelajaran bagi para murid. Pelajaran memasak, menyetrika, mencuci, dan membatik ditambahkan sehingga kebutuhan biaya penyelenggaraan sekolah turut meningkat pesat.

Pada 1911, Sekolah Keutamaan Isteri diperluas menjadi dua bagian dengan penggunaan bahasa pengantar yang berbeda. Bagian pertama menggunakan bahasa Sunda, sedangkan bagian kedua menggunakan bahasa Belanda dan bahasa Melayu atau Indonesia.

Perkembangan pendidikan Dewi Sartika menarik perhatian sejumlah perempuan di berbagai wilayah Jawa Barat dan pemerintah kolonial. Pada 1939, sekolah merayakan usia ke-35, tetapi Raden Agah Suriawinata meninggal dunia beberapa hari setelah perayaan tersebut.

Pada 1940, pemerintah kembali memberikan penghargaan kepada Dewi Sartika atas jasa-jasanya dalam bidang pendidikan perempuan. Perang Dunia II kemudian menyebabkan Sekolah Raden Dewi mengalami kekurangan biaya dan peralatan, sementara perubahan pemerintahan terjadi pada 1942.

Dewi Sartika meninggal dunia pada 11 September 1947 pukul 09.00 setelah menjalani perawatan akibat sakit di Cineam. Pemerintah kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui SK Presiden Nomor 252 Tahun 1966 tertanggal 1 Desember.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....