Mengenal Siti Dewi Sutan Assin, Paskibraka Pembawa Baki Pertama Indonesia
- 05 Agt 2026 01:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Siti Dewi Sutan Assin (Titik) memainkan peran penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia sebagai pembawa baki Bendera Pusaka pada peringatan pertama Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1946.
- Titik merupakan salah satu dari lima pemuda yang dipilih oleh Mayor Laut Husein Mutahar menjadi pasukan pengibar bendera pusaka di Yogyakarta.
- Momen tersebut juga menjadi cikal bakal tradisi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang terus berlangsung hingga kini.
RRI.CO.ID, Jakarta – Nama Siti Dewi Sutan Assin menjadi bagian penting dalam sejarah upacara kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pembawa baki Bendera Pusaka pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1946.
Dilansir dari berbagai sumber, Siti Dewi Sutan Assin lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 5 Oktober 1926. Ia lebih akrab dipanggil Titik.
Ayahnya, Sutan Assin, merupakan seorang dokter yang kemudian bertugas di Yogyakarta. Perpindahan tugas itu membuat Titik melanjutkan pendidikan di Yogyakarta.
Selain bersekolah, Siti yang akrab dipanggil Titik ini aktif sebagai relawan Palang Merah, kepanduan, dan dapur umum. Pengalaman tersebut menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat pada masa perjuangan kemerdekaan.
Pada 1946, Presiden Soekarno menugaskan Mayor Laut Husein Mutahar menyiapkan upacara peringatan kemerdekaan pertama. Mutahar kemudian memilih lima pelajar sebagai cikal bakal Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.
Ia menunjuk lima orang putra dan putri yang kebetulan sedang belajar di Yogyakarta yang dianggap mewakili pemuda dari seluruh Nusantara. Jumlah 5 pemuda yang dimaksudkan adalah simbol Pancasila.
Saat itu, Titik yang dipercaya menjadi pembawa baki yang menerima Bendera Pusaka dari Presiden Soekarno. Peran itu dijalankannya pada upacara 17 Agustus 1946 di Gedung Agung Yogyakarta.
Penugasannya sebagai pembawa baki Bendera Pusaka menjadikan Titik bagian dari sejarah upacara kemerdekaan Indonesia. Momen tersebut juga menjadi cikal bakal tradisi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang terus berlangsung hingga kini.
Setelah ibu kota kembali ke Jakarta pada tahun 1950, Titik disekolahkan orang tuanya ke negeri Belanda. Ia menekuni bidang ilmu keguruan dan pendidikan lantara bercita-cita memajukan pendidikan Indonesia.
Saat pulang ke Tanah Air, Titik bertemu dengan kakak kelasnya di sekolah yakni Atmono Suryo. Setelah saling mengenal, keduanya menikah dan tinggal di Amerika Serikat, karena Atmono Suryo merupakan seorang diplomat dan duta besar RI di sejumlah negara.
Titik wafat pada 20 Desember 2000. Pembawa baki pertama Indonesia ini dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet, Jakarta.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....