DPR Soroti Ancaman Dehidrasi Anak saat El Nino 2026
- 08 Agt 2026 02:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Surahman Hidayat menyoroti lonjakan kasus dehidrasi, diare, dan risiko gizi buruk pada anak-anak akibat bencana kekeringan panjang El Nino 2026.
- Ia mengapresiasi langkah BNPB dan BPBD yang aktif mendistribusikan air bersih, seraya meminta perluasan bantuan sosial bagi keluarga miskin terdampak.
- Anggota Komisi VIII DPR RI ini mengingatkan orang tua untuk lebih waspada menjaga kecukupan cairan anak dan mengimbau penguatan edukasi kesehatan di tingkat komunitas.
RRI.CO.ID, Jakarta – Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Surahman Hidayat, menyoroti meningkatnya risiko dehidrasi pada anak selama musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino 2026. Menurutnya, keterbatasan air bersih membuat anak-anak semakin rentan mengalami dehidrasi, gizi buruk, hingga penyakit yang ditularkan melalui air.
Surahman mengatakan anak-anak, terutama balita dan usia sekolah, menjadi kelompok yang paling berisiko karena lebih cepat kehilangan cairan tubuh. Selain itu, mereka kerap lupa minum saat beraktivitas, sementara diare dapat memperburuk kondisi dehidrasi.
“Anak-anak paling cepat kehilangan cairan tubuh, sering lupa minum saat beraktivitas, dan bahkan mengalami diare yang memperparah kondisi. Balita dan anak usia sekolah adalah kelompok paling rentan,” ujar Surahman.
Ia menjelaskan, berdasarkan keterangan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), fenomena El Nino meningkatkan kasus diare pada anak yang dapat memicu dehidrasi berat dalam waktu singkat. Suhu panas ekstrem juga mempercepat hilangnya cairan tubuh, sedangkan terbatasnya akses air bersih meningkatkan risiko infeksi akibat buruknya sanitasi.
Surahman meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Sosial memperluas distribusi air bersih serta bantuan sosial bagi masyarakat terdampak kekeringan. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk melindungi anak-anak dan keluarga miskin dari dampak berkepanjangan musim kemarau.
“Kekeringan akibat El Nino telah meningkatkan kasus dehidrasi pada anak-anak, terutama di daerah yang kesulitan mendapatkan air bersih untuk minum dan menjaga kebersihan. Kondisi ini menuntut BNPB dan Kementerian Sosial memperluas distribusi air bersih dan bantuan sosial bagi keluarga miskin terdampak,” katanya.
Selain persoalan kesehatan, Surahman menilai kekeringan juga menambah beban ekonomi keluarga berpenghasilan rendah. Banyak keluarga terpaksa membeli air bersih dengan harga lebih mahal, sementara kebutuhan dasar seperti mandi, mencuci, dan menjaga kebersihan menjadi semakin sulit dipenuhi.
Ia menilai kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyakit kulit, infeksi saluran pencernaan, serta menurunkan kualitas hidup anak-anak. Karena itu, pemerintah diminta memastikan perlindungan sosial berjalan seiring dengan pemerataan distribusi air bersih.
“Negara harus hadir dengan solusi nyata. Perlindungan sosial dan distribusi air bersih yang merata adalah kunci untuk meringankan beban keluarga dan melindungi anak-anak dari dampak buruk kekeringan,” ucapnya.
Surahman juga mengingatkan pentingnya edukasi kepada orang tua agar mencegah dehidrasi sejak dini. Ia menyarankan anak diberi minum secara teratur, membatasi aktivitas di bawah terik matahari, memastikan air minum aman dikonsumsi, serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila menunjukkan tanda-tanda dehidrasi.
“Orang tua harus lebih waspada. Jangan tunggu anak merasa haus untuk memberi minum, pastikan air dimasak hingga mendidih, dan segera cari pertolongan medis bila anak tampak lemas atau sulit minum,” tutur Surahman.
Ia menambahkan, upaya pencegahan dehidrasi memerlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan tenaga kesehatan, guru, dan tokoh masyarakat. Menurutnya, edukasi yang konsisten dan kesadaran bersama menjadi kunci untuk meminimalkan dampak kekeringan terhadap kesehatan anak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....