Pertempuran Surabaya 1945: Kronologi, Tokoh, dan Fakta yang Jarang Diketahui

  • 05 Agt 2026 10:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tanggal 10 November selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan, karena menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia.
  • Pertempuran Surabaya, tercatat sebagai perlawanan bersenjata terbesar antara pasukan Indonesia melawan tentara asing setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
  • Ketegangan di Surabaya, sebenarnya telah muncul sejak kedatangan pasukan Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI). Kehadiran mereka yang diboncengi administrasi Belanda atau NICA

RRI.CO.ID, Jakarta - Tanggal 10 November selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan, karena menjadi salah satu momen paling bersejarah perjalanan bangsa Indonesia. Pada hari itu, rakyat Surabaya menghadapi serangan besar-besaran pasukan Sekutu dalam pertempuran, yang kemudian dikenang sebagai simbol keberanian mempertahankan kemerdekaan.

Pertempuran Surabaya, tercatat sebagai perlawanan bersenjata terbesar antara pasukan Indonesia melawan tentara asing setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Peristiwa tersebut, tidak hanya mengorbankan ribuan jiwa, tetapi juga mengukuhkan semangat nasionalisme yang terus dikenang hingga kini.

Ketegangan di Surabaya, sebenarnya telah muncul sejak kedatangan pasukan Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI). Kehadiran mereka diboncengi administrasi Belanda (NICA) memicu kecurigaan, karena dinilai membuka jalan bagi kembalinya kekuasaan kolonial di Indonesia.

Situasi sempat mereda, setelah Indonesia dan pihak Inggris menyepakati gencatan senjata pada 29 Oktober 1945. Namun, bentrokan bersenjata di berbagai titik Surabaya tetap terjadi dan sulit dikendalikan.

Puncak ketegangan terjadi pada 30 Oktober 1945. Ketika, Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby, komandan pasukan Inggris di Jawa Timur, tewas dalam insiden baku tembak.

Kematian Mallaby, menjadi titik balik yang mengubah konflik menjadi perang terbuka.

Sebagai pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh mengambil langkah tegas terhadap Indonesia.

Ia mengeluarkan, ultimatum yang memerintahkan seluruh pejuang menyerahkan senjata dan menghentikan perlawanan kepada pasukan AFNEI serta administrasi NICA. Seluruh pimpinan Indonesia dan tokoh pemuda di Surabaya diminta menyerahkan diri sebelum pukul 06.00 WIB pada 10 November 1945.

Inggris juga mengancam, menggempur Surabaya melalui darat, laut, dan udara apabila perintah tersebut diabaikan. Rakyat Surabaya memilih menolak ultimatum tersebut.

Keputusan itu, memicu serangan besar-besaran pasukan Inggris pada pagi 10 November 1945 dengan dukungan tank, kapal perang, dan pesawat tempur. Pertempuran berlangsung sengit selama sekitar tiga pekan.

Meski menghadapi persenjataan yang jauh lebih modern, para pejuang bersama masyarakat sipil tetap memberikan perlawanan tanpa menyerah. Salah satu tokoh yang paling dikenal dalam pertempuran itu adalah Bung Tomo.

Melalui pidato-pidato yang disiarkan lewat radio, ia berhasil membangkitkan, semangat rakyat Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan hingga titik darah penghabisan. Perlawanan heroik tersebut harus dibayar mahal.

Sekitar 20.000 warga Surabaya dilaporkan gugur, sementara sekitar 150.000 penduduk lainnya terpaksa mengungsi meninggalkan kota. Di pihak Inggris, sekitar 1.600 personel dilaporkan tewas, hilang, atau mengalami luka-luka.

Sejumlah kendaraan tempur dan perlengkapan militer juga mengalami kerusakan akibat pertempuran yang berlangsung intens. Besarnya pengorbanan rakyat membuat Surabaya kemudian dijuluki sebagai Kota Pahlawan.

Julukan tersebut menjadi simbol keberanian masyarakat yang memilih berjuang demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Untuk mengenang jasa para pejuang, pemerintah menetapkan setiap 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur dan ditandatangani Presiden Soekarno. Peringatan Hari Pahlawan bukan sekadar mengenang sejarah peperangan.

Momentum tersebut juga menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia diraih melalui pengorbanan besar para pejuang. Mereka rela mengorbankan jiwa dan raga demi mempertahankan kedaulatan bangsa.

Sumber :

Buku Bakti untuk Negeri (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020).

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....