BMKG Keluarkan Peringatan, Puncak El Nino Diprediksi Lebih Dahsyat hingga 2027

  • 04 Agt 2026 13:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan, intensitas El Nino diprediksi akan melampaui kategori kuat. Fenomena iklim tersebut, diprediksi masih akan memengaruhi Indonesia hingga awal tahun 2027.
  • Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengatakan, pemerintah kini memprioritaskan langkah mitigasi untuk mengurangi dampak El Nino.
  • BMKG mencatat, sejumlah indikator iklim menunjukkan penguatan El Nino. Nilai indeks IOD tercatat, sebesar +0,715, sedangkan anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino3.4 mencapai +2,45.

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan, intensitas El Nino diprediksi akan melampaui kategori kuat. Fenomena iklim tersebut, diprediksi masih akan memengaruhi Indonesia hingga awal tahun 2027.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengatakan, pemerintah kini memprioritaskan langkah mitigasi untuk mengurangi dampak El Nino. Salah satu upaya yang diperkuat adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah yang dinilai memiliki tingkat risiko tinggi.

"Kami mendorong seluruh kementerian, pemerintah daerah, hingga instansi terkait agar bergerak secara terpadu. Langkah tersebut, penting untuk mengantisipasi meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan di berbagai daerah," kata Faisal dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Juli 2026, dikutip Selasa, 4 Agustus 2026.

BMKG mencatat, sejumlah indikator iklim menunjukkan penguatan El Nino. Nilai indeks IOD tercatat, sebesar +0,715, sedangkan anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino3.4 mencapai +2,45.

Data tersebut mengonfirmasi bahwa El Nino saat ini berada pada kategori kuat. Kondisi itu, menjadi dasar BMKG menerbitkan peringatan dini potensi kekeringan meteorologis untuk Dasarian I Agustus 2026.

BMKG menyatakan, sejumlah provinsi memiliki risiko terdampak kekeringan. Wilayah tersebut, meliputi sebagian Sumatra, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Selain kekeringan, sebagian besar wilayah Indonesia kini telah memasuki musim kemarau. Hingga Dasarian III Juli 2026, sekitar 73,8 persen Zona Musim atau 516 ZOM tercatat sudah berada pada fase kemarau.

Musim kemarau telah melanda berbagai wilayah mulai dari Aceh, Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua. Kondisi tersebut, diperkirakan masih akan berlangsung seiring menguatnya fenomena El Nino.

Untuk Dasarian I Agustus 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah diprediksi berada pada kategori rendah hingga menengah. Bahkan, banyak daerah diperkirakan hanya menerima curah hujan di bawah 50 milimeter per dasarian.

BMKG juga mencatat, ribuan wilayah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan durasi yang cukup panjang. Kondisi tersebut, menjadi salah satu indikator meningkatnya risiko kekeringan dan kebakaran lahan.

Rekor HTH terpanjang tercatat di Pos Hujan BPP Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi tersebut mengalami hari tanpa hujan selama 90 hari berturut-turut.

Secara nasional, BMKG mencatat terdapat 322 titik dengan HTH kategori panjang selama 21 hingga 30 hari. Sementara, 1.657 titik mengalami HTH sangat panjang selama 31 hingga 60 hari.

Serta, 306 titik lainnya masuk kategori ekstrem panjang karena tidak diguyur hujan lebih dari 60 hari. BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak El Nino.

"Wilayah Indonesia saat ini mengalami hari tanpa hujan dengan kategori sangat pendek hingga ekstrem panjang. HTH terpanjang selama 90 hari terjadi di Pos Hujan BPP Pajangan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta," ucap BMKG dalam laporan Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Juli 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....