Kenapa El Nino Menguat tapi Sejumlah Wilayah Masih Diguyur Hujan? Ini Kata BMKG

  • 02 Agt 2026 18:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Fenomena El Nino telah memasuki kategori kuat menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
  • Sejumlah wilayah Indonesia masih mengalami hujan dengan intensitas bervariasi yang didukung oleh fenomena atmosfer pendukung pertumbuhan awan hujan.
  • Hujan lebat hingga sangat lebat masih terjadi secara lokal pada 27-29 Juli 2026 dengan curah hujan tertinggi di Sumatra Barat mencapai 126 milimeter per hari.

RRI.CO.ID, Jakarta - Fenomena El Nino telah memasuki kategori kuat, tetapi sejumlah wilayah Indonesia masih mengalami hujan dengan intensitas bervariasi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah fenomena atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan.

Mengutip siaran pers Minggu, 1 Agustus 2026, BMKG mencatat hujan lebat hingga sangat lebat masih terjadi secara lokal pada 27-29 Juli 2026. Curah hujan tertinggi tercatat di Sumatra Barat mencapai 126 milimeter per hari.

Selain Sumatra Barat, hujan juga terjadi di Kepulauan Riau dengan curah hujan 97 milimeter per hari. Kemudian Aceh mencapai 83,5 milimeter per hari, Jawa Barat 53,4 milimeter per hari, dan Sumatra Utara 52,6 milimeter per hari.

Fenomena tersebut dipengaruhi aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial. Kedua gelombang atmosfer itu memengaruhi sebagian wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah.

BMKG juga mencatat adanya anomali negatif Outgoing Longwave Radiation (OLR). Kondisi tersebut menunjukkan peningkatan tutupan awan yang mendukung pembentukan awan hujan.

Dengan begitu, musim kemarau dan El Nino kuat tidak otomatis menghentikan hujan di seluruh Indonesia. Hujan masih dapat terjadi secara lokal ketika dinamika atmosfer mendukung pertemuan massa udara dan pertumbuhan awan.

Meski demikian, BMKG menegaskan kondisi iklim global masih didominasi El Nino kuat. Indeks Niño 3.4 tercatat sebesar +2,26, sedangkan Southern Oscillation Index (SOI) berada di angka -28,2.

Kondisi tersebut diperkirakan menyebabkan curah hujan rendah mendominasi sekitar 91,43 persen wilayah Indonesia pada dasarian I Agustus 2026. Sementara sekitar 8,57 persen wilayah diprakirakan mengalami curah hujan kategori menengah.

BMKG menjelaskan peluang hujan masih dipengaruhi aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin di sebagian Sumatra serta Kalimantan. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) juga berpotensi memengaruhi wilayah Indonesia bagian timur.

Selain itu, Bibit Siklon Tropis 94W yang berada di Samudra Pasifik utara turut membentuk pola konvergensi dan konfluensi udara. Kondisi tersebut mendorong pembentukan awan sehingga hujan ringan hingga lebat masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah.

BMKG juga mengingatkan masyarakat dan pelaku aktivitas kelautan mewaspadai peningkatan kecepatan angin serta gelombang tinggi. Potensi tersebut diprakirakan terjadi di sejumlah perairan Indonesia, termasuk Laut Andaman hingga Samudra Hindia selatan Jawa dan Nusa Tenggara Timur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....