Kolaborasi Jadi Kunci Percepatan Pencapaian SDGs di Indonesia
- 27 Jul 2026 14:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Bappenas menegaskan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci percepatan pencapaian SDGs 2030.
- IGCN mendorong perusahaan membentuk tim lintas divisi berisi talenta muda untuk menciptakan solusi atas isu keberlanjutan seperti transisi energi, pengelolaan limbah, ekonomi sirkular, dan pendidikan.
- BRIN menekankan pentingnya sinergi antara lembaga riset dan dunia usaha agar inovasi tidak berhenti pada tahap prototipe, tetapi dapat diterapkan di industri dan masyarakat.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga riset dinilai menjadi kunci untuk mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) jelang tenggat 2030. Melalui program inovasi yang melibatkan talenta muda perusahaan, berbagai solusi nyata diharapkan dapat menjawab tantangan pembangunan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A. A. Teguh Sambodo, mengatakan perusahaan perlu menyediakan ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan ide. Kemudian, mengujinya dalam bentuk proyek percontohan, hingga memperoleh pendampingan agar dapat diimplementasikan dan memberikan dampak nyata.
Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi bentuk kontribusi sektor swasta dalam membangun ekosistem inovasi nasional. Sekaligus, memastikan ide-ide yang lahir tetap selaras dengan strategi bisnis perusahaan dan mendukung pencapaian SDGs.
"Perusahaan memiliki banyak talenta dengan ide-ide inovatif. Yang dibutuhkan adalah platform agar ide tersebut bisa diuji, mendapatkan masukan, pendampingan, hingga akhirnya diterapkan dan memberi manfaat bagi organisasi maupun masyarakat," kata Leonardo dalam upacara penutupan "SDG Innovation Accelerator for Young Professionals (SDGI) 2026" di Jakarta, Senin, 27 Juli 2026.
Ia menilai berbagai inovasi yang dihasilkan perusahaan menunjukkan bahwa isu keberlanjutan tidak hanya berkutat pada teknologi tinggi. Namun, juga mencakup solusi yang dekat dengan masyarakat, seperti transisi energi yang adil, peningkatan keterampilan tenaga kerja, hingga model bisnis yang lebih inklusif.
Leonardo juga mengungkapkan capaian SDGs Indonesia saat ini telah mencapai sekitar 62,7 persen. Menurutnya, kemajuan terbesar berada pada aspek lingkungan, sementara tantangan terbesar masih terdapat pada dimensi sosial.
Ia menegaskan bahwa berbagai target SDGs saling berkaitan. Misalnya, upaya menjaga kualitas lingkungan dan penyediaan air bersih akan berkontribusi terhadap penurunan angka stunting serta peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Menjelang target 2030 yang tinggal empat tahun lagi, Leonardo mengakui tantangan terbesar masih berasal dari keterbatasan pendanaan, terutama bagi negara berkembang. Namun, Indonesia terus mengintegrasikan target SDGs ke dalam dokumen perencanaan pembangunan nasional sehingga setiap program pemerintah juga berkontribusi terhadap pencapaiannya.
Selain itu, Bappenas telah membentuk sekitar 80 SDGs Center di berbagai daerah sebagai wadah kolaborasi pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
"SDGs tidak mungkin dicapai pemerintah sendiri. Kuncinya adalah kolaborasi antara pihak yang memiliki sumber daya, ide, dan kebijakan sehingga seluruh ekosistem dapat berjalan bersama," ujarnya.
Sementara itu, President UN Global Compact Network Indonesia (IGCN), Y.W. Junardy, menjelaskan program inovasi yang dijalankan IGCN mendorong perusahaan membentuk tim lintas divisi yang berisi talenta muda untuk merancang solusi atas berbagai persoalan keberlanjutan. Ia mengatakan setiap proyek harus memiliki peluang untuk benar-benar diimplementasikan oleh perusahaan, dan bukan sekadar menjadi konsep atau tugas akademik.
"Anak-anak muda diberi kesempatan berpikir layaknya CEO, mencari solusi atas persoalan perusahaan maupun masyarakat dengan pendekatan yang berbeda dan didampingi mentor dari perusahaan lain," ujarnya.
Selama tiga tahun pelaksanaan program, IGCN telah menghimpun lebih dari 50 solusi inovatif dari berbagai perusahaan yang bergerak di bidang energi, pengelolaan limbah, ekonomi sirkular, hingga pendidikan. Saat ini, IGCN sedang menginventarisasi berbagai proyek yang telah masuk ke tahap implementasi dan diharapkan menjadi bagian dari kebijakan perusahaan.
Sebagai bentuk apresiasi, inovasi terbaik setiap tahun akan dipresentasikan pada forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Apresiasi ini merupakan representasi kontribusi Indonesia dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.
Di sisi lain, Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Dr Nunung Nuryartono, M.Si, menegaskan bahwa pihaknya siap memperkuat sinergi dengan dunia usaha. Sehingga, inovasi hasil riset tidak berhenti pada tahap prototipe, tetapi dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat dan industri.
Ia menyebut sekitar 72 inovasi yang dipresentasikan para inovator muda menunjukkan besarnya potensi generasi muda dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, sekaligus mendukung pencapaian SDGs.
Nuryartono menambahkan, BRIN terus mengembangkan kolaborasi dengan sektor swasta melalui pendekatan yang lebih proaktif. Yakni, menangkap kebutuhan industri agar dapat diterjemahkan menjadi riset dan teknologi yang siap diterapkan.
Selain menyediakan katalog inovasi yang dapat diakses publik, BRIN juga akan segera meluncurkan Rumah Inovasi Indonesia sebagai jembatan antara kebutuhan dunia industri dengan berbagai hasil riset dan teknologi nasional.
Melalui kolaborasi yang semakin erat antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga riset, berbagai pihak optimistis inovasi dapat menjadi motor penggerak pembangunan berkelanjutan. Sekaligus, mempercepat pencapaian target SDGs Indonesia pada 2030.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....