Mentan Bidik Ekspor Kopi Indonesia Tembus Rp100 Triliun
- 14 Jul 2026 21:54 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Mentan Andi Amran Sulaiman menargetkan nilai ekspor kopi Indonesia meningkat hingga Rp100 triliun
- Pemerintah memperkuat sektor hulu melalui penyediaan bibit unggul dan pengembangan kebun kopi di Aceh
- Program pengembangan mencakup sekitar 17 ribu hektare dengan penyaluran 17 juta batang bibit kopi
- Kopi Gayo dinilai memiliki reputasi global dan menjadi andalan untuk meningkatkan daya saing ekspor
- Kementan menyiapkan penguatan tata niaga dan sistem ekspor agar nilai tambah lebih banyak dinikmati petani
RRI.CO.ID, Bener Meriah – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menargetkan nilai ekspor kopi Indonesia meningkat hingga Rp100 triliun. Target tersebut didorong melalui penguatan sektor hulu, termasuk penyediaan bibit unggul untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing kopi nasional.
Komitmen itu disampaikan Mentan saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Kebun Perbenihan Kopi Rimba Raya KM 60, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Senin 14 Juli 2026. Sidak dilakukan untuk memastikan kualitas bibit Kopi Gayo yang akan menjadi fondasi peningkatan produksi dan kesejahteraan petani.
Mentan mengatakan kualitas pembibitan di lokasi tersebut telah dikelola dengan baik. Menurutnya, bibit unggul menjadi faktor utama dalam menghasilkan kebun kopi yang produktif dan berdaya saing tinggi.
"Kami sangat puas. Pembibitannya sangat bagus, betul-betul dikawal. Saya mengapresiasi Direktur, jajaran di wilayah Aceh, dan para PPL yang bekerja dengan baik mendampingi petani," kata Amran.
Ia menjelaskan pemerintah telah mengalokasikan program pengembangan kopi seluas sekitar 17 ribu hektare di Aceh. Program tersebut didukung penyaluran sekitar 17 juta batang bibit kopi kepada petani.
Berdasarkan laporan pemerintah daerah, pengembangan tersebut diperkirakan mampu meningkatkan pendapatan pekebun hingga Rp4 triliun. Pemerintah berkomitmen melanjutkan dukungan pengembangan kopi pada tahun depan.
"Insyaallah tahun depan kita tingkatkan lagi. Yang penting tanaman ini dirawat dengan baik sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan petani," ucapnya.
Menurut Amran, Kopi Gayo telah memiliki reputasi kuat di pasar internasional. Pengakuan tersebut, menurutnya, menjadi modal besar untuk meningkatkan ekspor kopi Indonesia.
| Baca juga: Barantin Perkuat Karantina Berbasis Risiko |
Ia mengenang pengalamannya saat melakukan kunjungan ke Meksiko dan Argentina. Dalam kesempatan itu, Presiden Amerika Serikat ke-42 Bill Clinton justru membahas Kopi Gayo sebagai salah satu kopi terbaik dunia.
"Kopi ini sudah mendunia. Saya masih ingat ketika melakukan kunjungan ke Meksiko dan Argentina, saya bertemu Presiden Amerika Serikat ke-42 Bill Clinton. Yang dibahas justru Kopi Gayo. Saya terharu karena itu menunjukkan Kopi Gayo benar-benar sudah dikenal dunia. Karena itu kita harus terus membantu petani kopi, termasuk di Aceh," katanya.
Amran menilai penguatan sektor hulu melalui penyediaan bibit berkualitas akan meningkatkan produksi sekaligus memperkuat daya saing ekspor. Pemerintah ingin menjadikan Kopi Gayo sebagai salah satu penggerak utama ekspor perkebunan nasional.
"Bagaimana Kopi Gayo menggetarkan dunia. Bila perlu seluruh dunia mencicipi Kopi Gayo. Sekarang nilai ekspor kopi kita sudah mencapai sekitar Rp40 triliun. Ke depan harus kita dorong menjadi Rp100 triliun, bahkan kalau bisa Rp200 triliun. Potensinya sangat besar," katanya.
Ia menambahkan tren harga kopi yang kini mencapai sekitar Rp110 ribu per kilogram membuka peluang meningkatkan kesejahteraan petani. Sebelumnya, harga kopi berada di kisaran Rp50 ribu per kilogram.
Karena itu, Kementerian Pertanian akan terus memperkuat produksi dan memperbaiki tata niaga kopi nasional. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah yang diterima petani.
Amran juga menyampaikan pemerintah tengah menyiapkan penguatan sistem ekspor nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Melalui sistem tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi memiliki posisi tawar yang lebih kuat di pasar global.
"Kita ingin Indonesia sebagai produsen memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Nilai tambah komoditas harus kembali kepada petani dan negara sehingga kesejahteraan masyarakat semakin meningkat," ucapnya.
Mentan memastikan pemerintah akan kembali menambah dukungan pengembangan Kopi Gayo pada tahun depan. Menurutnya, sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan petani menjadi kunci memperkuat posisi Aceh sebagai sentra kopi unggulan dunia.
"Potensinya sangat besar. Masyarakatnya pekerja keras, pemerintah daerah juga sangat mendukung. Karena itu, tahun depan kita bantu lagi agar Kopi Gayo semakin maju dan petaninya semakin sejahtera," kata Amran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....