Kabakom Tegaskan PSEL Jadi Solusi Berkelanjutan Atasi Persoalan Sampah Nasional
- 14 Jul 2026 09:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kepala Bakom Muhammad Qodari menegaskan PSEL merupakan solusi berkelanjutan untuk mengatasi krisis sampah yang semakin mendesak di berbagai daerah.
- Fasilitas PSEL Denpasar Raya senilai Rp3 triliun dirancang mampu mengolah hingga 1.500 ton sampah setiap hari dengan teknologi yang dapat mengurangi volume sampah hingga 90 persen.
- Pemerintah memproyeksikan pembangunan PSEL di 34 kawasan aglomerasi yang diperkirakan mampu menyerap sekitar 1.200 tenaga kerja hijau dan mendorong investasi teknologi ramah lingkungan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari menegaskan pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan solusi berkelanjutan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengatasi persoalan sampah yang semakin mendesak di berbagai daerah.
Qodari mengungkapkan pemerintah tidak bisa lagi mengandalkan pola lama dalam menangani sampah perkotaan. Karena itu, pembangunan PSEL menjadi bagian dari transformasi pengelolaan sampah yang lebih modern dan terpadu.
"Proyek ini bagian dari upaya menghadirkan solusi yang lebih berkelanjutan terhadap persoalan sampah. Sekaligus mengoptimalkan pemanfaatannya sebagai sumber energi baru yang ramah lingkungan," kata Qodari dalam keterangan video, Senin, 13 Juli 2026.
| Baca juga: Pemerintah Kebut Pembangunan PSEL Nasional |
Qodari mengatakan Presiden Prabowo telah mengingatkan bahwa persoalan sampah merupakan masalah bersama. Sehingga seluruh pihak perlu bergerak cepat untuk mencegah dampak yang lebih besar di masa depan.
Ia menjelaskan ancaman krisis pengelolaan sampah semakin nyata apabila tidak segera ditangani secara sistematis. Kondisi tersebut berpotensi membuat tempat penampungan sampah mengalami kelebihan kapasitas dalam beberapa tahun mendatang.
"Jika kita tetap membiarkan sampah menumpuk tanpa pengelolaan yang terpadu. Maka pada 2028 tempat-tempat penampungan sampah kita akan lumpuh total karena kelebihan kapasitas," ujarnya.
Qodari mencontohkan kondisi di Bali yang saat ini menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Dari timbunan sampah Denpasar dan Badung yang mencapai 1.600 ton per hari, sebagian besar masih dibuang langsung ke tempat pemrosesan akhir.
Atas dasar itu, pemerintah memulai pembangunan PSEL Denpasar Raya sebagai implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. Proyek tersebut menjadi langkah awal pengembangan pengolahan sampah berbasis energi terbarukan di Indonesia.
Fasilitas senilai Rp3 triliun tersebut, kata Qodari, dirancang mampu mengolah hingga 1.500 ton sampah setiap hari. Teknologi yang digunakan juga dapat mengurangi volume sampah hingga 90 persen sekaligus menghasilkan energi listrik.
"Ini bukan sekadar membangun gedung atau mesin. Melainkan membangun solusi jangka panjang demi memulihkan hak masyarakat atas lingkungan yang bersih dan sehat," kata Qodari.
PSEL Denpasar Raya akan menjadi model pengelolaan sampah modern bagi daerah lain. Pemerintah memproyeksikan fasilitas serupa akan dibangun di 34 kawasan aglomerasi untuk melayani puluhan kota dan kabupaten.
Qodari menilai manfaat PSEL tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga ekonomi. Proyek tersebut diperkirakan mampu menyerap sekitar 1.200 tenaga kerja hijau dan mendorong investasi teknologi ramah lingkungan.
"Ini adalah wujud nyata dari transformasi pembangunan lingkungan yang berorientasi pada masa depan. Pemerintah berkomitmen penuh untuk memastikan bahwa pembangunan fasilitas ini berjalan cepat dan tepat sasaran," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....