MBG Libatkan 148 Ribu Pemasok Lokal, Zulhas: Sinergi dengan Kopdes

  • 13 Jul 2026 17:46 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini telah melibatkan sekitar 148 ribu pemasok pangan lokal.
  • Ke depan, pemerintah akan memperkuat sinergi dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
  • Menurut Zulhas, kolaborasi antara Program MBG dan KDMP akan memperkuat rantai pasok pangan nasional sekaligus membuka pasar yang lebih berkelanjutan bagi komoditas pangan lokal.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkapkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini telah melibatkan sekitar 148 ribu pemasok pangan lokal. Ke depan, pemerintah akan memperkuat sinergi dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).

Hal ini dilakukan untuk memperluas penyerapan hasil produksi masyarakat. Sekaligus menggerakkan ekonomi desa.

Zulkifli Hasan atau Zulhas mengatakan para pemasok tersebut berasal dari berbagai unsur, mulai dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, kelompok tani, kelompok peternan. Hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Saat ini, Program MBG telah melibatkan sekitar 148 ribu pemasok. Terdiri dari BUMDes, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, kelompok tani, kelompok peternak, dan pelaku UMKM," ujar Zulhas dalam keterangannya, Senin 13 Juli 2026.

Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri Dialog Masyarakat Sipil untuk Ketahanan Pangan dan Kelestarian Lingkungan di Wonosobo, Jawa Tengah. Forum tersebut dihadiri organisasi masyarakat sipil, kelompok tani hutan, akademisi, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan yang membahas pengembangan pangan lokal, perhutanan sosial, dan penguatan ekonomi desa.

Menurut Zulhas, Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang tidak hanya bergantung pada beras. Karena itu, pemerintah terus mendorong pengembangan komoditas pangan lokal agar memberikan nilai tambah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

"Pangan lokal harus menjadi kekuatan ekonomi desa. Karena itu, pemerintah mendorong agar hasil produksi masyarakat dapat terserap oleh Program MBG dan KDMP sehingga manfaatnya langsung dirasakan petani, peternak, dan pelaku UMKM," katanya.

Ia menegaskan, penguatan pangan lokal menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan swasembada pangan sekaligus membangun ekosistem ekonomi desa yang berkelanjutan. Pemerintah juga terus mendorong agar kebutuhan bahan baku Program MBG dipenuhi dari hasil produksi lokal sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas.

Menurut Zulhas, kolaborasi antara Program MBG dan KDMP akan memperkuat rantai pasok pangan nasional sekaligus membuka pasar yang lebih berkelanjutan bagi komoditas pangan lokal.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai fondasi ketahanan pangan nasional.

"Ketersediaan air, tanah yang subur, dan ekosistem yang terjaga merupakan modal utama bagi keberlanjutan produksi pangan nasional," ujarnya. Pemerintah berharap kolaborasi lintas sektor dapat mempercepat terwujudnya sistem pangan nasional yang tangguh, berkelanjutan, sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) pada April 2026 mencatat Program MBG telah menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah. Yakni, melalui penyerapan produk pertanian, peternakan, dan perikanan lokal.

Di Jawa Barat, keberadaan sekitar 6.200 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diperkirakan mampu menciptakan perputaran dana hingga Rp6 triliun setiap bulan. Menurut BGN, sekitar 70 persen anggaran setiap SPPG dialokasikan untuk pembelian bahan baku, dengan sekitar 95 persen di antaranya berasal dari produk pertanian, peternakan, dan perikanan lokal.

Skema tersebut diharapkan semakin memperkuat pasar bagi hasil produksi masyarakat. Serta meningkatkan perputaran ekonomi di tingkat desa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....