Wakapolri Perkuat Akurasi Seleksi Taruna Akpol Berbasis Teknologi Modern

  • 08 Jul 2026 14:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemeriksaan memanfaatkan teknologi HRV, BMD, dan VO₂ Max untuk meningkatkan akurasi seleksi.
  • Polri memperkuat rekrutmen berbasis teknologi melalui prinsip Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis (BETAH).
  • Wakapolri meninjau Rikkes Spesialistik seleksi Taruna dan Taruni Akpol Tahun Anggaran 2026.

RRI.CO.ID, Semarang - Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo meninjau Pemeriksaan Kesehatan (Rikkes) Spesialistik seleksi Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian (Akpol). Pengawasan dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan rekrutmen berlangsung objektif dengan dukungan teknologi kedokteran modern.

Peninjauan berlangsung di Gedung Serbaguna Akpol Lemdiklat Polri, Semarang, Selasa, 7 Juli 2026. Wakapolri didampingi sejumlah pejabat utama Polri selama pelaksanaan pemeriksaan kesehatan.

Sebanyak 409 calon taruna dan taruni mengikuti Rikkes Spesialistik tingkat pusat Tahun Anggaran 2026. Satu peserta mengundurkan diri sebelum mengikuti tahapan pemeriksaan kesehatan.

Dalam peninjauan tersebut, Wakapolri memberikan perhatian terhadap pemanfaatan teknologi kedokteran modern. Teknologi tersebut diharapkan meningkatkan akurasi pemeriksaan kesehatan calon taruna dan taruni.

"Pemeriksaan jantung tidak cukup dilakukan saat peserta beristirahat. Pemeriksaan juga dilakukan setelah aktivitas fisik untuk mengukur kemampuan jantung," ujarnya.

Wakapolri meninjau penggunaan teknologi Heart Rate Variability (HRV) selama pemeriksaan kesehatan peserta. Teknologi tersebut mengevaluasi respons fisiologis jantung terhadap beban fisik secara lebih komprehensif.

Selain itu, Wakapolri meninjau penggunaan alat Bone Mineral Density (BMD) berbasis digital. Pemeriksaan tersebut mendeteksi risiko patah tulang dan cedera muskuloskeletal sejak dini.

Pemeriksaan kapasitas paru melalui pengukuran VO₂ Max turut menjadi perhatian Wakapolri. Pemeriksaan tersebut mengukur daya tahan fisik dan fungsi pernapasan calon taruna maupun taruni.

Seluruh instrumen kesehatan berbasis digital diharapkan mendukung pengambilan keputusan secara objektif. Penilaian kesehatan peserta juga dilakukan berdasarkan bukti ilmiah atau evidence-based.

Karokespol Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri Brigjen Pol. I Gusti Gede Maha Andikajaya menjelaskan pemanfaatan teknologi tersebut. Menurutnya, pemeriksaan modern meningkatkan akurasi diagnosis dan kualitas pengambilan keputusan.

"Pemeriksaan kesehatan tidak lagi bertumpu pada pemeriksaan klinis konvensional. Seluruh parameter menghasilkan penilaian lebih komprehensif dan berbasis bukti ilmiah," katanya.

Selain pemanfaatan teknologi, Wakapolri meminta pemeriksaan riwayat penyakit bawaan dilakukan secara lebih cermat. Pemeriksaan terhadap gangguan saraf, termasuk epilepsi, juga menjadi perhatian selama seleksi.

Khusus calon taruni, Wakapolri meminta pemeriksaan obstetri dan ginekologi (Obgyn) diulang setelah pengumuman kelulusan. Langkah tersebut memastikan seluruh peserta memenuhi standar kesehatan sebelum menjalani pendidikan.

Wakapolri juga mendorong pembaruan peralatan medis mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. Modernisasi instrumen dinilai memperkuat sistem rekrutmen Polri yang semakin presisi dan transparan.

Melalui pengawasan tersebut, Wakapolri menegaskan rekrutmen Taruna Akpol mengedepankan objektivitas, transparansi, dan akuntabilitas. Seluruh keputusan kelulusan harus didasarkan pada data medis yang valid serta dapat dipertanggungjawabkan.

"Komitmen ini menjadi bagian dari penerapan rekrutmen Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis (BETAH). Polri berharap rekrutmen berkualitas melahirkan perwira muda yang sehat, tangguh, berintegritas, dan adaptif," kata Wakapolri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....