Apkasi Dorong Perempuan Jadi Motor Daya Saing Daerah lewat 'Women Program'
- 04 Jul 2026 11:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Apkasi menggelar Women Program untuk memperkuat peran perempuan dalam pembangunan daerah.
- Forum mempertemukan TP-PKK se-Indonesia guna berbagi praktik baik dan memperkuat kolaborasi.
- Perempuan dinilai berperan penting dalam percepatan penurunan stunting melalui edukasi sejak pranikah dan penguatan 1.000 HPK.
RRI.CO.ID, Lubuk Pakam – Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) menggelar Women Program. Forum ini merupakan wadah konsolidasi dan berbagi pengalaman bagi para penggerak Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) dari berbagai kabupaten di Indonesia.
Forum bertema "Penguatan Peran Perempuan dalam Meningkatkan Daya Saing Daerah" itu berlangsung di Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, Kamis, 2 Juli 2026, sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-26 Apkasi dan Hari Jadi ke-80 Kabupaten Deli Serdang.
Ketua TP-PKK Kabupaten Lahat, Sri Meliyana Bursah, mengatakan perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah. Mulai dari peningkatan kesejahteraan keluarga, penanganan stunting, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
"Perempuan di daerah dituntut memiliki dua modal dasar yang seimbang, yakni ilmu pengetahuan dan kasih sayang. Keduanya harus menyatu agar program yang dirancang dapat membumi dan dirasakan langsung oleh masyarakat," ujarnya.
Sri Meliyana yang juga anggota Komisi IX DPR RI menilai kader PKK di daerah kerap menghadapi tantangan besar, seperti keterbatasan anggaran, ruang gerak, hingga persoalan sosial di lapangan. Karena itu, ia mengajak para perempuan memperkuat jejaring antardaerah untuk saling berbagi praktik baik dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.
Sementara itu, Ketua TP-PKK Kabupaten Deli Serdang, Jelita Siregar, menegaskan pemberdayaan perempuan merupakan kunci percepatan penurunan angka stunting. Menurutnya, perempuan tidak hanya berperan sebagai pendidik pertama di keluarga, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi dan agen perubahan sosial.
"Keberhasilan pembangunan daerah mustahil tercapai tanpa keterlibatan aktif kaum perempuan. Penguatan kapasitas ini harus terlembagakan melalui penyusunan strategi bersama antardaerah," kata Jelita.
Ia menjelaskan pencegahan stunting harus dimulai sejak masa pranikah melalui edukasi kepada perempuan agar menghindari pernikahan usia dini. Selain itu, pemantauan pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) juga harus diperkuat, termasuk pemenuhan gizi, sanitasi, dan layanan kesehatan.
Jelita menyebut angka stunting di Kabupaten Deli Serdang masih berada di kisaran 19 persen. Menurutnya, persoalan sanitasi, kebersihan, serta kurangnya pemahaman mengenai pemberian asupan gizi masih menjadi penyebab utama.
Di bidang ekonomi, pendiri Langgam Batik, Rafika Johani, mendorong pelaku UMKM perempuan untuk lebih percaya diri memanfaatkan teknologi digital dan memperkuat kemasan produk. Serta, membangun cerita atau storytelling yang mengangkat kekhasan daerah.
"Kita jatuh karena pola pikir atau mindset kita, dan kita pun bangkit karena mindset kita sendiri. Pelaku UMKM perempuan harus percaya diri, berani mengambil risiko, dan memaksimalkan sumber daya lokal yang ada di daerahnya," ujar Rafika.
Hal senada disampaikan Direktur Commercial Banking BTN, Hermita. Ia mengatakan sektor perbankan terus membuka peluang pembiayaan bagi UMKM yang memiliki prospek usaha. Namun, pelaku UMKM juga perlu meningkatkan tata kelola usaha, disiplin keuangan, serta memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi agar inovasi dan hasil riset dapat diterapkan dalam pengembangan usaha.
Menurut Hermita, sinergi antara PKK, akademisi, dan dunia usaha akan mempercepat lahirnya UMKM yang lebih inovatif, berdaya saing, dan mampu menggerakkan perekonomian daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....