Prodi PTN Sains Sepi Peminat, DPR Khawatir Indonesia Konsumen Teknologi Selamanya

  • 01 Jul 2026 11:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Komisi X DPR RI menyorot, tren penurunan minat calon mahasiswa program studi sains SNPMB PTN 2026.
  • Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief Muhammad menilai, kondisi ini alarm keras yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
  • Ini adalah alarm keras bagi masa depan daya saing bangsa, Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi, bukan produsen

RRI.CO.ID, Jakarta - Komisi X DPR RI menyorot, tren penurunan minat calon mahasiswa program studi sains SNPMB PTN 2026. Fenomena minimnya pendaftar dibanding kuota daya tampung, dinilai menjadi ancaman rapuhnya fondasi riset dan inovasi nasional di masa depan.

Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief Muhammad menilai, kondisi ini alarm keras yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Kelangkaan generasi ilmuwan lokal secara jangka panjang, berpotensi membuat Indonesia terjebak sebagai negara konsumen tanpa kemandirian teknologi.

"Menurunnya minat calon mahasiswa terhadap program studi sains dibandingkan daya tampung yang tersedia tidak bisa dianggap sepele. Ini adalah alarm keras bagi masa depan daya saing bangsa, Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi, bukan produsen," kata politikus PKB ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.

Ia menganalisis, keengganan anak muda melirik ranah sains berakar dari belum terbangunnya ekosistem industri yang menjanjikan di dalam negeri. Selama ini, profesi peneliti dan ilmuwan di Indonesia masih minim penghargaan.

"Pemerintah harus memastikan kurikulum sains lebih kontekstual, menarik, dan relevan dengan perkembangan teknologi. Yang tidak kalah penting, lulusan sains harus memiliki peluang kerja yang nyata," ucap Habib.

Kemudian, ia mendesak, Kemendiktisaintek segera merumuskan langkah afirmasi konkret. Pemerintah harus mampu melipatgandakan alokasi beasiswa khusus rumpun sains, memodernisasi fasilitas laboratorium dari tingkat sekolah hingga kampus.

"Pemerintah harus mendongkrak anggaran riset nasional demi memicu kolaborasi riil antara dunia akademik dan korporasi global. Kalau pemerintah ingin mewujudkan visi Indonesia sebagai negara maju, maka investasi terbesar harus dimulai dari membangun SDM sains," ujar Habib.

Sebelumnya, Wakil Dekan FMIPA UGM, Wiwit Suryanto menilai, banyak faktor menjadi penyebab minat siswa terhadap sains. Salah satu faktor utamanya, yakni metode pengajaran kurang menarik.

Apalagi sistem pendidikan saat ini, disebutnya, masih berfokus pada hafalan rumus dan teori tanpa memberikan pengalaman eksplorasi yang cukup. “Belum lagi, kurangnya eksperimen dan praktik langsung membuat sains terasa abstrak dan sulit dipahami,” kata Wiwit seperti dilansir dari laman resmi UGM.

Wiwit pun tidak menampik kenyataan, bila kurangnya minat terhadap sains ini. Bahkan, tidak sedikit siswa mempertanyakan manfaat belajar sains karena sangat jarang dikaitkan dengan teknologi sehari-hari.

“Ketidakmampuan melihat manfaat langsung dari ilmu sains membuat mereka kehilangan motivasi untuk mempelajarinya. Banyak siswa merasa takut terhadap simbol, angka, dan persamaan matematika yang kompleks," ucap Wiwit.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....