Mentan Paparkan Lompatan Sektor Pangan di Penas XVII

  • 25 Jun 2026 23:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mentan Andi Amran Sulaiman memaparkan capaian sektor pangan nasional di hadapan 100 ribu peserta PENAS XVII di Gorontalo
  • Indonesia disebut menjadi produsen beras terbesar keempat dunia berdasarkan data terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO)
  • Nilai Tukar Petani mencapai 127, tertinggi dalam 34 tahun terakhir
  • Pertumbuhan ekonomi sektor pertanian mencapai 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir
  • Ekspor pertanian naik Rp166 triliun dan impor turun Rp41 triliun

RRI.CO.ID, Gorontalo - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memaparkan berbagai capaian sektor pangan nasional di hadapan 100 ribu peserta Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII. Menurutnya, kebijakan Presiden Prabowo Subianto memperkuat produksi, kesejahteraan petani, dan swasembada pangan.

Pemaparan tersebut disampaikan saat puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII. Kegiatan berlangsung di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).

Di hadapan Presiden Prabowo, Amran menyampaikan apresiasi atas keberpihakan pemerintah kepada petani. Menurutnya, berbagai kebijakan telah memberikan dampak nyata bagi sektor pertanian.

Salah satu kebijakan yang paling dirasakan ialah penurunan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen. Kebijakan tersebut menjadi sejarah baru bagi sektor pertanian Indonesia.

"Bapak Presiden, kami mengucapkan terima kasih mewakili petani Indonesia. Sejak Indonesia merdeka, harga pupuk selalu naik," kata Amran.

"Pada masa kepemimpinan Bapak justru turun 20 persen. Ini belum pernah terjadi sebelumnya," ucapnya.

Selain itu, pemerintah menyederhanakan distribusi pupuk bersubsidi. Langkah tersebut membuat akses petani terhadap sarana produksi semakin mudah.

Amran juga memaparkan peningkatan produksi beras nasional. Data terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat dunia.

"Dua hari lalu FAO mengumumkan produksi beras Indonesia sekitar 38 juta ton. Indonesia menjadi produsen beras terbesar keempat dunia," katanya.

"Data itu diumumkan FAO. Bukan diumumkan oleh kita," ucapnya.

Peningkatan produksi tersebut berdampak terhadap kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani mencapai 127, tertinggi dalam 34 tahun terakhir.

Pertumbuhan ekonomi sektor pertanian juga mencapai 5,74 persen. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam 25 tahun terakhir berdasarkan data BPS.

"Ini hasil kerja keras petani dan nelayan Indonesia. Mereka terus menjaga produksi pangan nasional," kata Amran.

Dari sisi perdagangan, ekspor pertanian meningkat hingga Rp166 triliun. Sementara impor turun sekitar Rp41 triliun setelah penghentian impor beras medium.

"Artinya ada tambahan nilai ekonomi yang besar. Nilai itu kembali ke sektor pertanian dan dinikmati petani," ucapnya.

Pemerintah juga menjalankan hilirisasi kakao, jambu mete, dan tebu. Total luas program tersebut mencapai sekitar 870 ribu hektare.

Amran mengatakan, program itu merupakan arahan langsung Presiden Prabowo. Hilirisasi ditargetkan membuka hingga tiga juta lapangan kerja pada 2029.

"Targetnya menciptakan tiga juta lapangan kerja sampai 2029. Bibit, penanaman, dan pengolahan diberikan gratis," katanya.

Pemerintah juga memperbaiki tata niaga kelapa sawit. Langkah itu dilakukan untuk menjaga harga tandan buah segar tetap menguntungkan petani.

Menurut Amran, Kementerian Pertanian bersama aparat penegak hukum juga memperkuat pengawasan. Langkah tersebut dilakukan agar seluruh program berjalan tepat sasaran.

"Terima kasih Bapak Presiden atas kebijakan yang berpihak kepada petani. Hari ini petani Indonesia merasakan manfaatnya secara langsung," ucapnya.

"Semoga swasembada pangan yang kita cita-citakan terus berlanjut. Semoga fondasinya semakin kuat ke depan," kata Amran.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....