Produksi Beras Nasional Cetak Rekor Saat Dunia Alami Penurunan
- 22 Jun 2026 13:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Produksi beras Indonesia naik saat produksi beras dunia diproyeksikan turun 1,6 persen.
- FAO menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat dunia pada 2026/2027.
- Penurunan produksi global membuka peluang bagi Indonesia di pasar beras internasional.
RRI.CO.ID, Jakarta - Produksi beras Indonesia mencatat peningkatan di tengah tren penurunan produksi yang terjadi di berbagai negara. Kondisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu titik terang sektor pangan dunia pada 2026.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan Indonesia berhasil meningkatkan produksi saat sejumlah negara produsen utama mengalami kontraksi. "Ketika dunia memanen lebih sedikit, Indonesia justru memanen lebih banyak," kata Amran dalam keterangan yang dikutip dari BAKOM RI, Senin, 22 Juni 2026.
Laporan FAO memproyeksikan produksi beras dunia pada periode 2026/2027 turun 1,6 persen menjadi 552,4 juta ton. Penurunan tersebut menjadi koreksi pertama setelah dua musim panen global mencetak rekor.
Di tengah tren tersebut, produksi beras Indonesia justru meningkat signifikan. FAO memperkirakan produksi beras Indonesia mencapai 38,6 juta ton setara beras giling pada 2026/2027.
Angka tersebut meningkat dibandingkan produksi 34 juta ton pada periode 2024/2025. Dengan capaian itu, Indonesia menempati posisi produsen beras terbesar keempat di dunia setelah India, Tiongkok, dan Bangladesh.
Sementara itu, sejumlah negara produsen utama justru mengalami penurunan produksi. Thailand tercatat turun 6,1 persen, Amerika Serikat turun 15,2 persen, dan Brasil merosot 12,9 persen.
FAO menyebut ketidakpastian iklim dan meningkatnya biaya produksi menjadi faktor utama penyebab penurunan produksi global. Kondisi tersebut juga menyebabkan cadangan beras dunia diperkirakan turun 2,7 persen pada akhir musim 2026/2027.
Kementerian Pertanian menilai situasi tersebut membuka peluang bagi Indonesia. Sejumlah negara importir beras, termasuk Filipina dan Malaysia, diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan impor di tengah tekanan produksi domestik mereka.
Menurut Kementan, peningkatan produksi nasional menjadi modal penting memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekspansi pasar. Pemerintah juga terus mendorong peningkatan produktivitas melalui berbagai program penguatan sektor pertanian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....