Kepemimpinan dan Masa Depan NU Jadi Bahasan Konbes 2026

  • 22 Jun 2026 10:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Munas dan Konbes NU 2026 membahas isu kepemimpinan, penguatan ideologi, dan tantangan digitalisasi
  • Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhadjir menegaskan terdapat prinsip organisasi yang bersifat tetap dan tidak dapat diubah
  • Prinsip permanen NU meliputi Qanun Asasi, Pancasila, posisi sebagai organisasi kemasyarakatan, dan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah
  • Mekanisme pemilihan pemimpin dinilai dapat beradaptasi sesuai perkembangan zaman dengan tetap mengedepankan musyawarah
  • Ketua PBNU KH Anwar Iskandar menekankan pentingnya keputusan Munas dan Konbes yang berpihak pada masa depan umat dan bangsa

RRI.CO.ID, Kediri - Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026 membahas berbagai isu strategis terkait kepemimpinan dan masa depan organisasi. Pembahasan tersebut mencakup mekanisme pemilihan pemimpin, penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah, hingga pemanfaatan teknologi digital.

Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Afifuddin Muhadjir mengatakan terdapat prinsip-prinsip yang bersifat tetap dan prinsip yang dapat beradaptasi dalam perjalanan organisasi. Menurutnya, NU memiliki sejumlah nilai dasar yang tidak dapat diubah oleh perkembangan zaman.

"Hal-hal yang harga mati sudah barang tentu tidak bisa berubah karena perubahan situasi dan kondisi. Sementara yang bisa beradaptasi, bisa menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi," kata KH Afifuddin Muhadjir dalam Sidang Pleno II Munas-Konbes NU 2026 di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Minggu 21 Juni 2026.

Ia menjelaskan prinsip yang bersifat permanen meliputi Qanun Asasi, posisi NU sebagai organisasi kemasyarakatan, Pancasila sebagai dasar organisasi, serta ideologi Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah. Adapun mekanisme pemilihan pemimpin dinilai sebagai sarana yang dapat disesuaikan sepanjang tetap berlandaskan musyawarah.

"Dalam hal sekecil apa pun Nabi diperintahkan untuk musyawarah. Apalagi dalam persoalan besar seperti pemilihan pemimpin," ucapnya.

Sementara itu, Ketua PBNU KH Anwar Iskandar mengatakan Munas dan Konbes menjadi forum penting untuk merumuskan sikap NU terhadap berbagai tantangan bangsa. Menurutnya, keputusan yang dihasilkan harus mencerminkan kepedulian NU terhadap masa depan umat dan negara.

"Oleh karena itu, Munas dan Konbes harus melahirkan sebuah keputusan yang menampakkan kepedulian NU terhadap masa depan," kata KH Anwar Iskandar.

Ia menyoroti pentingnya penguatan lembaga filantropi NU, pengembangan pendidikan, serta pemanfaatan teknologi digital untuk dakwah dan penyebaran nilai-nilai keislaman. Menurutnya, NU tidak bisa mengabaikan perkembangan teknologi yang semakin memengaruhi kehidupan masyarakat.

"Kita tidak bisa mengingkari, lepas dari kehidupan digital ini. Tidak seorang pun yang bisa bebas dari dunia digital," ucapnya.

KH Anwar juga mengingatkan bahwa generasi muda yang tumbuh di era digital akan menentukan masa depan agama, bangsa, dan negara. Karena itu, NU perlu menyiapkan strategi agar pemanfaatan teknologi dapat mendukung penguatan ideologi dan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Selain itu, ia menilai potensi sumber daya manusia NU yang tersebar di berbagai bidang perlu dikoordinasikan lebih baik. Potensi tersebut mencakup kalangan profesional, akademisi, pengusaha, tenaga kesehatan, hingga ahli teknologi informasi.

Menurutnya, konsolidasi potensi warga NU dapat memberikan kontribusi lebih besar dalam berbagai sektor pembangunan. Karena itu, Munas dan Konbes diharapkan menghasilkan rumusan yang mampu memperkuat peran NU dalam menjawab tantangan masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....