Dari Pelaksana ke Pencipta Nilai, Ini Strategi Alih Profesi bagi Purna Ajudan
- 08 Agt 2026 14:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CP.ID, Jakarta - Purna tugas bukan akhir pengabdian bagi seseorang yang selama ini menjalankan tugas sebagai ajudan. Pengalaman selama bertugas dapat menjadi modal menapaki karier baru dan menciptakan nilai setelah purna tugas.
Founder Restorasi Jiwa Indonesia (RJI) Syam Basrijal mengatakan, purna ajudan perlu mempersiapkan diri menghadapi fase baru. Menurutnya, pengalaman sebagai ajudan dapat dikonversi menjadi kompetensi, jaringan, kemampuan kepemimpinan, dan kapasitas menciptakan nilai.
Hal tersebut disampaikan Syam dalam Focus Group Discussion (FGD) Narasraya di Hotel RA Suites Simatupang, Jakarta Selatan, Sabtu, 8 Agustus 2026. Ia menyampaikan materi Strategi Alih Profesi tentang optimalisasi ketangkasan dan mentalitas ajudan menghadapi kewirausahaan.
“Pengalaman itu telah membentuk sejumlah modal karakter yang sangat berharga untuk memasuki dunia profesional maupun kewirausahaan. Modal tersebut meliputi disiplin, loyalitas, kecepatan eksekusi, kemampuan membaca situasi, manajemen tekanan, dan integritas," kata Syam.
Syam menilai berbagai pengalaman tersebut tidak perlu ditinggalkan ketika ajudan memasuki profesi baru. Sebaliknya, pengalaman itu perlu dikembangkan menjadi kemampuan yang relevan dengan dunia profesional dan kewirausahaan.
“Yang perlu diubah bukan karakternya. Tetapi, paradigma berpikirnya,” ujarnya.
Lima Mentalitas untuk Alih Profesi
Syam menyebut perubahan pola pikir menjadi salah satu tantangan utama dalam proses alih profesi. Lingkungan kerja ajudan telah membentuk kemampuan menjalankan sistem, menjaga stabilitas, dan merespons instruksi dengan cepat.
Ajudan juga terbiasa meminimalkan kesalahan dalam menjalankan tugas serta menghadapi berbagai situasi penuh tekanan. Menurut Syam, kompetensi tersebut menjadi kekuatan yang dapat dikembangkan ketika memasuki profesi baru.
Namun, dunia kewirausahaan membutuhkan kemampuan tambahan untuk menciptakan peluang dan mengelola ketidakpastian. Kemampuan tersebut mencakup pengambilan keputusan, pembangunan sistem, serta keberanian menghadapi berbagai risiko usaha.
Karena itu, Syam mendorong purna ajudan memperluas mentalitas disiplin dengan pola pikir entrepreneur. Ia merumuskan lima mentalitas yang perlu dikembangkan, yakni growth mindset, ownership, dan opportunity thinking.
Dua mentalitas lainnya adalah value creation dan adaptive learning untuk menghadapi perubahan setelah purna tugas. “Kelimanya menjadi jembatan untuk mengubah pengalaman masa lalu menjadi kemampuan membaca peluang,” jelasnya.
Mentalitas tersebut juga diarahkan untuk membantu purna ajudan menciptakan manfaat baru bagi masyarakat. Dengan pola pikir tersebut, seseorang tidak lagi hanya mencari pekerjaan setelah menyelesaikan masa pengabdiannya.
Namun, mereka mulai bertanya mengenai nilai yang dapat diciptakan dari pengalaman dan kompetensi. Cara pandang tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan transisi menuju profesi berikutnya.
Transformasi Manusia Secara Utuh
Syam menekankan, kesiapan memasuki dunia usaha tidak cukup hanya dengan pengetahuan bisnis. Menurutnya, transformasi perlu dilakukan secara menyeluruh, termasuk kesiapan mental, emosional, sosial, dan finansial.
Melalui pendekatan Kesadaran Holistik, keberhasilan dipandang sebagai keseimbangan enam dimensi kehidupan. Keenam dimensi tersebut meliputi spiritual, mental, emosional, fisik, sosial, dan finansial.
“Ketidakseimbangan pada satu dimensi dapat memengaruhi kualitas keputusan dan keberlanjutan kehidupan maupun bisnis seseorang,” ujarnya. . Dalam perspektif RJI, Syam mengatakan bisnis yang sehat membutuhkan manusia yang sehat secara batin.
Menurutnya, keputusan berkualitas membutuhkan kejernihan kesadaran dan kepemimpinan kuat membutuhkan kemampuan memimpin diri sendiri. Syam juga memperkenalkan Hypno Success Method sebagai metode transformasi pikiran bawah sadar.
Metode tersebut dibangun melalui enam pilar, yakni Awareness, Acceptance, Release, Reprogramming, Conditioning, dan Alignment. Kerangka tersebut membantu seseorang mengenali pola lama dan menerima pengalaman yang telah dilalui.
Selanjutnya, seseorang diarahkan melepaskan keyakinan pembatas dan membangun kebiasaan baru. Proses tersebut diharapkan membantu seseorang menyelaraskan pikiran, emosi, perkataan, tindakan, dan visi hidup.
Dari Penghasilan Menuju Aset dan Legacy
Syam menilai orientasi ekonomi purna ajudan juga perlu berkembang setelah memasuki fase baru kehidupan. Orientasi tersebut tidak hanya mengejar penghasilan, tetapi juga membangun aset, sistem, dan manfaat berkelanjutan.
Ia menggambarkan perjalanan tersebut melalui empat tahapan dalam membangun keberhasilan ekonomi. Karyawan memperoleh penghasilan, entrepreneur membangun aset, investor membangun sistem, sedangkan legacy buildermembangun warisan.
Menurutnya, warisan tersebut berupa kebermanfaatan yang dapat melampaui kepentingan pribadi seseorang. Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan melalui Roadmap Transformasi yang terdiri atas tujuh tahapan.
Tahapan tersebut dimulai dengan pemulihan mental dan pola pikir serta pembangunan identitas baru. Selanjutnya, seseorang meningkatkan kompetensi, memperluas jaringan, membangun bisnis, menciptakan aset, dan membangun legacy.
Syam menilai kewirausahaan tidak seharusnya menjadi keputusan spontan setelah seseorang menyelesaikan masa tugasnya. Proses tersebut perlu dipersiapkan secara bertahap sesuai kesiapan dan kemampuan masing-masing individu.
“Yang lebih penting adalah membangun kesiapan manusia terlebih dahulu. Setelah itu, kompetensi, jaringan, model bisnis, aset, dan sistem dapat dibangun secara bertahap," ucapnya.
Purna Tugas Bukan Akhir Pengabdian
Syam mengajak peserta melihat transisi karier sebagai fase baru untuk memperluas kebermanfaatan. Menurutnya, alih profesi bukan berarti meninggalkan pengalaman yang telah diperoleh selama masa pengabdian.
Disiplin seorang ajudan dapat menjadi fondasi ketika seseorang memasuki profesi baru. Kemampuan menghadapi tekanan juga dapat berkembang menjadi ketangguhan dalam menghadapi tantangan bisnis.
Sementara itu, kemampuan membaca situasi dapat berkembang menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan bisnis. Jaringan yang telah dibangun juga dapat menjadi modal sosial dalam membangun usaha dan kepemimpinan.
Integritas tetap menjadi fondasi kepercayaan ketika seseorang memasuki dunia usaha maupun kepemimpinan. Dengan perspektif tersebut, purna tugas tidak lagi dipandang sebagai berakhirnya produktivitas.
Masa tersebut justru menjadi peralihan medan pengabdian menuju bentuk kebermanfaatan yang lebih luas. Peralihan itu bergerak dari pelaksana menjadi pencipta nilai dan dari menjalankan sistem menuju membangun sistem.
“Profesi boleh berubah. Tetapi, integritas, disiplin, dan karakter harus tetap menjadi fondasi,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....