Marsudi Syuhud Sebut Dinamika jelang Muktamar NU Proses Regenerasi Organisasi
- 08 Agt 2026 13:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakil Ketua Umum MUI Marsudi Syuhud memandang dinamika menjelang Muktamar NU sebagai bagian dari proses regenerasi organisasi yang sehat dan positif.
- Banyaknya kader yang muncul dalam kontestasi kepemimpinan NU justru menunjukkan bahwa kaderisasi organisasi berjalan dengan baik.
- Kontestasi di NU bersifat terbuka dan demokratis, memberikan kesempatan kepada setiap kader untuk mencalonkan diri tanpa pembatasan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Ketua Umum MUI Marsudi Syuhud mengatakan dinamika menjelang Muktamar Nadhlatul Ulama (NU) harus dipandang sebagai bagian dari proses regenerasi organisasi. Menurutnya, banyaknya kader yang muncul dalam kontestasi justru menunjukkan kaderisasi NU berjalan dengan baik.
"Kontestasi di NU bersifat terbuka, siaapa pun kader memiliki kesempatan untuk mencalonkan diri. Kalau calon yang muncul justru sedikit, itu yang perlu dipertanyakan," kata Marsudi saat menghadiri Bincang-Bincang Jelang Muktamar NU ke-35 di Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026.
Ia mengatakan NU memiliki ekosistem kaderisasi yang panjang melalui pesantren, lembaga, serta badan otonom organisasi. Proses tersebut menjadi ruang bagi kader untuk memperoleh pengalaman, membangun kedewasaan berpikir, dan mengembangkan kemampuan kepemimpinan.
Marsudi mengatakan kaderisasi NU tidak hanya bertujuan menyiapkan pemimpin organisasi. Proses tersebut juga dapat melahirkan calon pemimpin bangsa yang memiliki pengalaman memimpin umat dan menghadapi berbagai tantangan.
"Insya Allah, para calon pemimpin NU hari ini juga dapat menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Mereka ditempa melalui proses yang panjang sehingga memahami bagaimana memimpin umat, organisasi, sekaligus menghadapi tantangan zaman," ujarnya.
Ia menilai karakter kepemimpinan tidak dapat disamakan untuk setiap zaman. Perubahan yang berlangsung cepat, kata Marsudi, menuntut organisasi memiliki pemimpin yang mampu memahami situasi sekaligus menentukan arah yang sesuai.
"Pemimpin yang dibutuhkan hari ini pasti berbeda dengan pemimpin yang dibutuhkan pada masa lalu. Bahkan akan berbeda pula dengan pemimpin yang dibutuhkan di masa yang akan datang," ucap Marsudi.
"Yang paling penting, seorang pemimpin harus adaptif terhadap perubahan," katanya melanjutkan. Marsudi kemudian membagi perubahan yang harus dihadapi organisasi menjadi dua bentuk.
Pertama, at-taghyīr al-ikhtiyārī, yaitu perubahan yang dirancang dan diprogramkan oleh organisasi. Menurutnya, perubahan yang direncanakan membutuhkan arah organisasi yang jelas, termasuk target lima hingga sepuluh tahun ke depan.
"Human resource harus dibangun secara berjenjang. Tokoh-tokohnya dipersiapkan sejak awal sehingga pada waktunya mereka siap di jenjangnya masing-masing, itulah fungsi kaderisasi yang sesungguhnya," ujarnya.
Sementara bentuk kedua ialah at-taghyīr al-ijbārī, yaitu perubahan yang datang dan memaksa organisasi untuk beradaptasi. Menurut Marsudi, kemampuan menghadapi perubahan tersebut tidak dapat dibangun secara tiba-tiba.
"Perubahan yang memaksa itu bisa diminimalisasi apabila organisasi memiliki sistem kaderisasi yang baik. Tidak ada pemimpin yang lahir begitu saja," katanya.
Marsudi menilai kaderisasi yang dilakukan secara berkelanjutan akan membentuk pemimpin yang memiliki kemampuan adaptif sekaligus memahami perjuangan organisasi. Dengan begitu, kata Marsudi, NU dapat menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah sembari merespons tantangan zaman.
Agenda Menjelang Muktamar NU ke-35 mengusung tema NU Masa Depan dan Masa Depan NU. Turut hadir dalam acara Sekretaris Fraksi Partai Gerindra DPR RI Bambang Hariyadi dan Sekretaris Jendral DPP PKB Hasanuddin Wahid.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....