COO: Danantara Bukan 1MDB, Risiko Pengelolaan BUMN dan Investasi Dipisah
- 12 Jun 2026 14:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Danantara Indonesia dipastikan berbeda dengan model pengelolaan investasi 1Malaysia Development Berhad.
- Danantara menerapkan pemisahan yang tegas antara pengelolaan BUMN dan aktivitas investasi guna meminimalkan risiko.
- Dony menegaskan bahwa dana yang digunakan untuk investasi tidak berasal dari aset pokok BUMN.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kelembagaan Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia dipastikan berbeda dengan model pengelolaan investasi 1Malaysia Development Berhad. Sejak awal pembentukannya, Danantara menerapkan pemisahan yang tegas antara pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan aktivitas investasi guna meminimalkan risiko.
Demikian disampaikan Chief Operating Officer (COO) Dony Oskaria dalaym podcast Bukan Kaleng Kaleng, dikutip Jumat 12 Juni 2026. Menurutnya, kekhawatiran sebagian masyarakat yang membandingkan Danantara dengan 1MDB muncul karena adanya konsolidasi aset BUMN yang dibarengi dengan fungsi investasi dalam satu entitas.
Namun, Dony memastikan, Danantara memiliki mekanisme dan tata kelola yang berbeda melalui pemisahan fungsi pengelolaan aset dan investasi. Ia menegaskan bahwa struktur Danantara dirancang berbeda pemilahan risiko antara pengelolaan BUMN dengan investasi.
“Dari awal mendesain Danantara, kita sudah berpikir harus terjadi pemilahan risiko antara pengelolaan BUMN dengan investasi. Karena yang namanya investasi itu bisa gagal, bisa menghasilkan,” kata Dony.
Ia menjelaskan, tanpa pemisahan risiko tersebut, kegagalan investasi berpotensi memberikan dampak langsung terhadap kinerja BUMN. Di mana, perusahaan pelat merah selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional.
“Anda bisa bayangkan kalau kemudian kita berinvestasi dan investasinya gagal, bisa menyeret BUMN-nya. Karena itu dari awal kita sudah mendesain itu, kita pecah,” ujarnya.
Dony mengungkapkan bahwa Danantara dibangun dengan dua pilar utama. Pilar pertama adalah Danantara Asset Management yang bertugas sebagai konsolidator sekaligus pengelola portofolio BUMN.
Sementara pilar kedua adalah Danantara Investment Management yang berfungsi sebagai lengan investasi untuk menempatkan dana pada berbagai proyek produktif. “Danantara Asset Management sebagai konsolidator BUMN-BUMN, dan Danantara Investment Management sebagai investment arm-nya,” ujarnya.
Dividen BUMN Jadi Sumber Investasi
Lebih lanjut, Dony menegaskan bahwa dana yang digunakan untuk investasi tidak berasal dari aset pokok BUMN. Dana investasi tersebut bersumber dari dividen yang dihasilkan perusahaan-perusahaan negara yang berada di bawah pengelolaan Danantara Asset Management.
“Yang diinvestasikan adalah dividen. Jadi, dividen yang dihasilkan oleh Danantara Asset Management diinvestasikan untuk hal yang produktif, untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi kita,” katanya.
Karena itu, ia menilai kualitas pengelolaan BUMN menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan dan keberlanjutan Danantara. Kinerja BUMN yang baik akan menghasilkan dividen lebih besar yang selanjutnya dapat digunakan untuk mendukung investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pengelolaan BUMN ini menjadi kata kunci utama untuk keberlanjutan Danantara. Kalau kita keliru mengelola BUMN-nya, Danantara-nya pasti gone. Karena kunci yang diinvestasikan adalah hasil pengelolaan BUMN-nya,” ucap Dony.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa Danantara dirancang dengan sistem pemisahan risiko yang bertujuan menjaga aset dan kinerja BUMN tetap terlindungi. Sekaligus memungkinkan pengembangan investasi produktif untuk mendukung agenda pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....