BMKG: 200 Zona Musim Indonesia Resmi Masuk Kemarau, Ini Rincian Wilayahnya

  • 04 Jun 2026 13:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BMKG mencatat 200 Zona Musim atau 28,6 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
  • Sebaran kemarau meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua Selatan.
  • Sebagian besar wilayah NTB dan NTT menjadi kawasan dengan cakupan musim kemarau terluas.

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebanyak 200 Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Jumlah tersebut setara 28,6 persen wilayah Indonesia hingga awal Juni 2026.

BMKG menyebut sebaran wilayah yang memasuki musim kemarau kini membentang dari Sumatera hingga Papua. Kondisi tersebut ditandai menurunnya curah hujan dan semakin banyak hari tanpa hujan.

Zona Musim merupakan wilayah yang memiliki pola musim relatif seragam dalam satu kawasan tertentu. Bertambahnya wilayah yang memasuki kemarau membuat masyarakat perlu mengantisipasi berbagai dampak yang menyertainya.

Berdasarkan data BMKG yang dirilis Rabu, 3 Juni 2026, sebanyak 200 ZOM telah memasuki musim kemarau. Meski demikian, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada masa peralihan musim.

Karena itu, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah. Meskipun demikian, tren perluasan musim kemarau mulai terlihat di berbagai wilayah Indonesia.

BMKG menjelaskan suatu wilayah dinyatakan memasuki musim kemarau berdasarkan kriteria curah hujan tertentu. Penetapan tersebut dilakukan melalui pemantauan kondisi hujan secara konsisten dalam periode tertentu.

Sebaran Wilayah Kemarau

Di Pulau Sumatera, musim kemarau telah terjadi di sebagian kecil wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Kondisi serupa juga terjadi di sebagian kecil Riau dan sebagian wilayah Kepulauan Riau.

Sementara itu, wilayah yang memasuki kemarau di Pulau Jawa meliputi Banten bagian utara dan sebagian Jakarta. Musim kemarau juga tercatat terjadi di Jawa Barat bagian utara, sebagian Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur.

Selain Pulau Jawa, sebagian wilayah Bali juga dilaporkan telah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut ditandai berkurangnya frekuensi hujan dalam beberapa pekan terakhir.

Di kawasan Nusa Tenggara, sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Barat telah memasuki musim kemarau. Sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur juga mengalami kondisi serupa pada awal Juni.

Untuk wilayah Sulawesi, musim kemarau terjadi di sebagian Gorontalo dan sebagian Sulawesi Tengah. Kemarau juga tercatat melanda sebagian kecil Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan sebagian Sulawesi Tenggara.

Sementara itu, di kawasan timur Indonesia, musim kemarau telah memasuki sebagian wilayah Maluku. Kondisi serupa juga terjadi di sebagian kecil wilayah Papua Selatan.

NTB dan NTT Terluas

BMKG mencatat kawasan Nusa Tenggara menjadi wilayah dengan cakupan musim kemarau paling luas. Sebagian besar wilayah NTB dan NTT kini berada dalam periode kemarau.

Kondisi tersebut sejalan dengan karakteristik iklim Nusa Tenggara yang lebih cepat memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut umumnya mengalami musim kering lebih awal dibandingkan daerah lainnya.

Berbeda dengan Nusa Tenggara, sebagian besar wilayah Jawa dan Sumatera masih berada pada fase transisi. Karena itu, hujan masih berpotensi turun meskipun cakupan musim kemarau terus bertambah.

BMKG mengingatkan meluasnya musim kemarau dapat berdampak terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat. Salah satunya berkurangnya frekuensi hujan dan meningkatnya suhu udara pada siang hari.

Selain itu, cadangan air berpotensi berkurang di daerah yang memiliki sumber air terbatas. Di sektor pertanian, petani diminta menyesuaikan pola tanam dengan perkembangan musim.

BMKG juga mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. Risiko tersebut terutama meningkat di wilayah yang mengalami periode kering cukup panjang.

Karena itu, masyarakat diimbau terus memantau informasi cuaca dan perkembangan musim dari BMKG. Warga juga diminta menggunakan air secara bijak serta menghindari aktivitas yang memicu kebakaran.

Dengan masih berlangsungnya masa transisi di sejumlah daerah, cakupan wilayah kemarau diperkirakan bertambah. BMKG memperkirakan perluasan musim kemarau masih akan terjadi dalam beberapa pekan mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....