Rupiah Terus Melemah, Komisi IV DPR Wanti-Wanti Stabilitas Harga Pangan jadi Kacau

  • 04 Jun 2026 13:14 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Komisi IV DPR RI mengingatkan, pemerintah perlu mewaspadai dampak lonjakan kurs dolar Amerika Serikat terhadap sektor pangan nasional.
  • Politisi PKB ini menjelaskan, posisi rupiah harus dianalisis secara objektif dengan membandingkan pergerakan mata uang negara tetangga di ASEAN.
  • Yang perlu kita lihat bukan hanya angka kurs rupiah terhadap dolar AS, tetapi juga bagaimana posisi Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga.

RRI.CO.ID, Jakarta - Komisi IV DPR RI mengingatkan, pemerintah perlu mewaspadai dampak lonjakan kurs dolar Amerika Serikat terhadap sektor pangan nasional. Gejolak nilai tukar rupiah saat ini, diminta disikapi secara cermat agar tidak mengacaukan stabilitas harga pangan di dalam negeri.

Pernyataan tegas ini, diungkapkan oleh anggota Komisi IV DPR RI, Rina Sa’adah. Politisi PKB ini menjelaskan, posisi rupiah harus dianalisis secara objektif dengan membandingkan pergerakan mata uang negara tetangga di ASEAN.

“Yang perlu kita lihat bukan hanya angka kurs rupiah terhadap dolar AS, tetapi juga bagaimana posisi Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga. Jika pelemahan mata uang terjadi hampir merata di kawasan, maka tekanan tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal,” kata Rina dalam keterangan persnya, di Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026.

Oleh karenanya, Rina menegaskan, pemerintah tidak boleh lengah karena depresiasi rupiah berpotensi melambungkan biaya impor bahan baku strategis. Sektor pertanian dan perikanan nasional saat ini masih bergantung pada impor kedelai, gandum, garam industri, hingga bahan baku pakan ternak.

Kenaikan biaya impor komponen tersebut, ia menuturkan, dipastikan bakal mencekik para pelaku usaha di tingkat bawah. Efek domino dari mahalnya bahan baku impor ini akan langsung memukul nasib petani, peternak, serta nelayan akibat biaya produksi membengkak.

“Yang menjadi perhatian kami bukan sekadar pergerakan kurs, melainkan dampaknya terhadap biaya produksi dan ketahanan pangan nasional. Jika biaya impor meningkat, maka tekanan terhadap harga pangan dan biaya produksi petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha perikanan juga akan semakin besar,” ucap Rina.

Komisi IV DPR RI, Rina menuturkan, mendorong pemerintah mempercepat swasembada pangan demi memutus ketergantungan terhadap pasar luar negeri. Langkah konkret ini, harus segera diambil melalui penguatan industri pakan lokal, pengembangan benih unggul nasional, serta penyaluran subsidi yang tepat sasaran.

"Tingginya angka impor membuat kedaulatan ekonomi bangsa menjadi rapuh dan mudah digoyang oleh dinamika global. Sinergi ketat antara pemerintah pusat dan daerah mutlak diperlukan demi membentengi daya beli masyarakat sekaligus menjaga pasokan pangan tetap aman," ujar Rina.

Nilai tukar rupiah akhirnya menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis 4 Juni 2026. Menurut Bloomberg, rupiah terpantau turun 0,32 persen atau 57 poin menjadi Rp18.023 per dolar AS.

Kemerosotan rupiah yang berlanjut ini sudah diprediksi oleh sejumlah analis. “Rupiah diperkirakan akan terus melemah terhadap dolar AS,” kata analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong.

Menurut dia, greenback atau olar AS menguat karena meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Indeks dolar AS pun saat ini bergerak pada rentang 99,44-99,52 atau menguat 0,30 persen dibandingkan sebelumnya.

Menurut Lukman, entimen terhadap mata uang rupiah memang masih buruk. Sehingga, menurut dia, rupiah kembali mendekati level psikologi baru.

“Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan melakukan intervensi secara agresif,” ucapnya. Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak pada rentang Rp17.950-Rp18.100 per dolar AS.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....